Absen di Ruang Kelas, Hadir Langsung ke Habitat

Pada hari Rabu (9/4/2026), Mahasiswa semester 4 Program Studi PGMI menyelenggarakan studi lapangan di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta guna mendalami Mata Kuliah IPA yang didampingi oleh dosen pembimbing Ibu Dr. Fitri Yuliawati, S.Pd.Si., M.Pd.Si. Dalam kegiatan ini kelompok 1B mengamati langsung berbagai jenis hewan dari lima kelompok utama: Pieces, Amfibi, Reptil, Aves dan Mamalia.

  1. Viper Wagleri (Tropidolaemus Wagleri)

Ciri-Ciri dan Karakteristik

Ciri fisik dari spesies ini seperti Viperidae lainnya yaitu memiliki kepala berbentuk segitiga yang tegas. Ular ini memiliki panjang rata-rata antara 45-100 cm dengan berat tubuh berkisar antara 200-500 gram. Spesies ini menunjukkan perbedaan warna mencolok (dimorfisme seksual) antara betina dewasa yaitu warna dasar biasanya hitam atau hijau tua dengan pola garis kuning cerah melintang dan warna pada jantan remaja yaitu hijau terang dengan bintik merah atau coklat. Viper Wagleri memiliki sensor panas yang berfungsi sebagai infra merah untuk berburu mangsa berdarah panas, terletak diantara mata dan lubang hidup. Dengan perawatan di penangkaran atau kondisi ideal di alam liar, ular ini memiliki masa hidup yang cukup panjang, yakni sekitar 10-14 tahun.

Sistem Klasifikasi

Kingdom: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Reptil

Ordo: Squamata

Famili: Viperidae

Genus: Tropidolaemus

Nama latin atau Ilmiah: Tropidolaemus Wagleri

Sistem Pernafasan

Viper Wagleri memiliki lubang pernafasan di dasar mulut yang dapat digeser ke luar saat menelan mangsa besar dan mengandalkan gerakan otot-otot diantara tulang rusuknya untuk mengembang kempiskan paru-paru karena Viper Wagleri hanya memiliki satu paru-paru fungsional berada sebelah kanan yang berkembang panjang, sementara sebelah kirinya mengecil untuk menyesuaikan ruang tubuhnya yang sempit.

Sistem Reproduksi

Viper Wagleri berkembang biak dengan cara ovovivipar, dimana betina akan menyimpan dan menetaskan telurnya di dalam tubuh, lalu keluar sebagai anakan sehingga tampak seperti ular tersebut melahirkan anaknya. Viper Wagleri sekali menetas dapat menghasilkan 15-41 butir telur.

Habitat

Viper Wagleri ini berada di hutan, sabana, dan semak belukar. Namun, dominan viper wagleri ditemukan di hutan bakau, karena mereka sangat menyukai kelembaban tinggi, sehingga di daerah sabana yang sangat kering keberadaannya cenderung lebih jarang dibandingkan hutan lebat. Oleh karena itu makanannya tidak jauh dari habitatnya, yaitu katak, burung, kadal dan tikus.

Asal: Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam

  1. Gagang Bayam (Himantopus himantopus)

Ciri-Ciri dan Karakteristik

Ciri yang paling mencolok dari burung ini adalah kakinya yang sangat panjang (proporsional terhadap tubuhnya) dan berwarna merah muda terang atau kemerahan.Warna Bulu: Dominasi warna putih pada bagian kepala, leher, dan tubuh bagian bawah. Bagian sayap dan punggung berwarna hitam legam.Paruh: Berwarna hitam, lurus, ramping, dan tajam, yang diadaptasi untuk mematuk mangsa kecil di air dangkal.Mata: Iris mata biasanya berwarna merah tua.Postur: Memiliki postur tubuh yang tegak dan langkah yang anggun saat berjalan di perairan dangkal.

Sistem Pernapasan

Sama seperti anggota kelas Aves lainnya, Gagang Bayam memiliki sistem pernapasan yang sangat efisien untuk mendukung aktivitas terbangnya:Paru-paru dan Kantung Udara (Saccus Pneumaticus): Selain paru-paru, mereka memiliki sembilan kantung udara yang berfungsi sebagai penyimpan cadangan udara.Aliran Udara Satu Arah: Udara kaya oksigen masuk ke paru-paru baik saat inspirasi maupun ekspirasi, sehingga pertukaran gas terjadi secara terus-menerus. Hal ini memungkinkan mereka tetap bertenaga saat melakukan migrasi jarak jauh.

Sistem Reproduksi

Sifat: Monogami (setia pada satu pasangan) selama musim kawin.Sarang: Mereka membangun sarang berupa cekungan dangkal di tanah yang dilapisi vegetasi, biasanya di dekat tepian air atau di atas gundukan lumpur agar terhindar dari pemangsa air.Telur: Betina biasanya mengeluarkan 3–4 butir telur berwarna kecoklatan dengan bintik hitam sebagai kamuflase. Kedua induk bergantian mengerami telur selama kurang lebih 22–26 hari.Anak Burung: Anak yang baru menetas bersifat precocial, artinya mereka bisa langsung meninggalkan sarang dan mencari makan sendiri dengan pengawasan induk sesaat setelah menetas.

Cara Hidup dan Habitat

Habitat: Lahan basah terbuka, seperti tambak garam, sawah, rawa payau, tepian sungai, dan danau dangkal. Mereka menyukai perairan yang tenang dengan kedalaman yang tidak melebihi panjang kaki mereka.Cara Hidup: Sering terlihat dalam kelompok kecil maupun koloni besar. Mereka adalah burung migran parsial; beberapa populasi menetap, sementara yang lain bermigrasi mencari lahan basah yang lebih produktif tergantung musim.

Klasifikasi dan Data Teknis

Nama Ilmiah : Himantopus himantopus

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Aves

Ordo : Charadriiformes

Famili : Recurvirostridae

Genus : Himantopus

Asal : Tersebar luas di Eropa, Asia, Afrika, dan sebagian Australia

Pakan : Serangga air, moluska kecil, krustasea, dan terkadang biji-bijian

Panjang Tubuh : 33 – 40 cm (termasuk paruh)

Berat : 135 – 220 gram

Masa Hidup : Rata-rata 10 – 15 tahun di alam liar.

  1. Channa maru (Channa marulioides)

Ciri-Ciri dan Karakteristik

Ikan Channa maru merupakan predator air tawar yang memiliki daya tarik visual luar biasa, dengan panjang tubuh rata-rata mencapai 55–65 cm dan masa hidup berkisar antara 10–15 tahun. Secara fisik, ikan ini mengalami tiga fase perubahan warna sepanjang hidupnya; dimulai dari warna hitam kebiruan saat muda, berubah menjadi coklat dengan bagian perut putih, hingga fase dewasa yang menonjolkan warna kuning cerah dengan corak bunga kehitaman yang khas.

Sistem Pernapasan

Sebagai ikan yang tangguh, Channa maru memiliki Sistem Pernapasan yang unik karena dilengkapi dengan organ labirin (alat pernapasan tambahan), yang memungkinkan mereka mengambil oksigen langsung dari udara di permukaan air, sehingga mampu bertahan hidup di lingkungan perairan yang rendah oksigen.

Sistem Reproduksi

Sistem Reproduksi Channa maru dilakukan dengan cara bertelur atau ovipar. Musim kawin mereka biasanya terjadi sekitar bulan November, di mana ikan ini akan membangun sarang menggunakan tanaman-tanaman air sebagai tempat meletakkan telur. Setelah telur-telur tersebut menetas, anak ikan Channa maru akan berenang di bawah pengawasan ketat induknya, menunjukkan insting perlindungan yang kuat.

Sifat:

Ikan channa maru memiliki sifat yang sangat teritorial dan agresif sebagai predator puncak. Mereka cenderung menyerang organisme lain yang memasuki wilayahnya dan sangat aktif saat berburu mangsa.

Cara Hidup:

Sebagai predator puncak dalam ekosistem perairan tawar, cara hidup ikan channa maru sangat didominasi oleh insting berburu yang oportunistik dan efisien. Di habitat aslinya, ikan ini dikenal sebagai pemburu penyergap (ambush predator) yang sangat mengandalkan kamuflase tubuhnya di sela-sela tanaman air atau tumpukan kayu untuk mengintai mangsa tanpa terdeteksi.

Habitat:

Habitat asli mereka meliputi perairan air tawar yang tenang atau mengalir lambat di wilayah Asia Tenggara, khususnya di Indonesia (Sumatera dan Kalimantan). Mereka lebih menyukai ekosistem seperti sungai, rawa, dan danau yang kaya akan vegetasi air atau tumpukan kayu-kayu tua yang digunakan sebagai tempat persembunyian sekaligus area untuk mengintai mangsa. Meskipun saat ini status konservasinya masih tercatat dalam kategori "Belum Dievaluasi" (Not Evaluated) di papan informasi tersebut, keberadaan mereka di alam tetap perlu dijaga dari eksploitasi berlebihan.

Klasifikasi dan Data Teknis

Nama Ilmiah : Channa marulioides

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Actinopterygii (ikan bersirip kipas)

Ordo : Anabantiformes

Famili : Channidae

Genus : Channa

Asal : Asia Tenggara (Khususnya Indonesia: Kalimantan dan Sumatera; serta Thailand dan Malaysia)

Pakan : Karnivora/Predator (Udang, ikan kecil, serangga, larva, dan cacing).

Panjang Tubuh : Rata-rata 55–65 cm (Namun di alam liar atau tangkapan tertentu bisa mencapai 80 cm lebih).

Berat : mencapai 2–5 kg

Masa Hidup : 10–15 tahun

  1. Katak Pacman Albino (Ceratophrys sp.)

Ciri-ciri dan Karakteristik

Katak pacman albino (Ceratophrys sp.) merupakan salah satu jenis katak hias yang memiliki tubuh bulat, kepala besar, dan mulut lebar menyerupai karakter “Pacman”, sehingga menjadi asal namanya. Warna tubuhnya umumnya kuning pucat, krem, hingga oranye muda karena mengalami kekurangan pigmen gelap (albino). Kulitnya lembab, mata menonjol di bagian atas kepala, dan kakinya pendek tetapi kuat. Katak ini memiliki sifat tenang, lebih sering diam, namun dapat menjadi agresif ketika berburu makanan.

Sistem Pernapasan

Sistem pernapasan katak pacman albino dilakukan melalui paru-paru dan kulit. Kulitnya yang tipis dan selalu lembab membantu menyerap oksigen langsung dari lingkungan sekitarnya. Selain itu, paru-paru digunakan saat katak berada di darat untuk membantu pertukaran gas. Pada masa larva atau berudu, katak bernapas menggunakan insang, kemudian setelah dewasa berubah menggunakan paru-paru dan kulit.

Sistem Reproduksi

Katak pacman albino berkembang biak secara ovipar atau bertelur. Proses pembuahan terjadi secara eksternal, yaitu betina mengeluarkan telur di air lalu dibuahi oleh jantan di luar tubuh. Dalam satu kali reproduksi, betina dapat menghasilkan ratusan hingga ribuan telur. Setelah beberapa hari, telur menetas menjadi berudu, kemudian mengalami metamorfosis hingga tumbuh menjadi katak muda.

Cara Hidup dan Habitat

Katak pacman albino hidup di daerah lembab dan hangat seperti hutan hujan tropis, rawa, atau tanah berlumpur. Hewan ini termasuk nokturnal karena lebih aktif pada malam hari dan biasanya menghabiskan waktu dengan bersembunyi di dalam tanah atau serasah daun. Katak ini merupakan predator penyergap yang menunggu mangsa mendekat sebelum menangkapnya. Makanan utamanya berupa serangga kecil, cacing, ikan kecil, dan hewan lain yang ukurannya sesuai dengan mulutnya

Klasifikasi dan Data Teknis Katak Pacman Albino

Nama Ilmiah: Ceratophrys sp.

Kingdom: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Amphibia

Ordo: Anura

Famili: Ceratophryidae

Genus: Ceratophrys

Asal : Amerika Selatan, terutama Argentina, Uruguay, Paraguay, dan Brasil

Habitat: Hutan hujan tropis, rawa, dan tanah lembap

Pakan: Serangga, cacing, ikan kecil, anak tikus, dan hewan kecil lainnya

Panjang Tubuh: 11-20 cm

Berat: 500-600 gram

Masa Hidup: 6-12 tahun

Suhu Ideal: 24-28°C

Kelembaban Ideal: 60-80%

  1. Serval (Leptailurus serval)

Ciri-Ciri dan Karakteristik

Serval merupakan salah satu kucing liar berukuran sedang yang berasal dari benua Afrika. Berdasarkan hasil pengamatan langsung di Gembira Loka Zoo, serval memiliki tubuh ramping dengan kaki yang relatif panjang dibandingkan ukuran tubuhnya. Panjang tubuhnya berkisar antara 67–100 cm dengan berat sekitar 9–18 kg. Ciri yang paling mencolok adalah telinga besar berbentuk oval yang selalu tegak, berfungsi untuk menangkap suara mangsa secara sangat sensitif. Warna bulunya tampak kuning kecoklatan dengan corak totol dan garis hitam yang tersebar di seluruh tubuh. Pola warna tersebut berperan sebagai kamuflase alami ketika serval berada di habitat padang rumput.

Sistem Pernapasan

Sebagai hewan mamalia, serval menggunakan paru-paru sebagai alat pernapasan utama. Udara masuk melalui rongga hidung, kemudian oksigen diproses di paru-paru sebelum diedarkan ke seluruh tubuh melalui sistem peredaran darah. Sistem pernapasan ini mendukung aktivitas serval sebagai predator aktif yang membutuhkan suplai oksigen tinggi saat bergerak cepat maupun ketika melakukan lompatan untuk menangkap mangsa.

Sistem Reproduksi

Serval berkembang biak secara vivipar atau melahirkan. Masa kebuntingan berlangsung sekitar 65–75 hari. Dalam satu kali kelahiran, induk serval biasanya melahirkan dua hingga tiga anak. Anak serval lahir dalam kondisi belum mandiri sehingga membutuhkan perawatan intensif dari induknya. Induk serval menunjukkan naluri keibuan yang kuat dengan melindungi serta melatih anaknya hingga mampu berburu secara mandiri.

Sifat

Serval dikenal memiliki sifat soliter, yaitu lebih sering hidup sendiri dibandingkan berkelompok. Hewan ini juga bersifat teritorial dan akan mempertahankan wilayahnya dari individu lain. Selama pengamatan, serval tampak waspada terhadap lingkungan sekitar, menunjukkan karakter alami sebagai predator yang selalu siaga terhadap potensi ancaman maupun keberadaan mangsa.

Cara Hidup

Dalam kehidupan alaminya, serval merupakan pemburu penyergap yang sangat mengandalkan pendengaran tajam dan kecepatan gerakan. Serval biasanya berburu secara individu dengan cara mengintai mangsa dari balik vegetasi sebelum melakukan serangan cepat. Hewan ini memiliki kemampuan melompat vertikal yang tinggi untuk menangkap mangsa seperti burung atau hewan kecil lainnya. Pakan utama serval meliputi burung, reptil, serangga, serta mamalia kecil hingga sedang.

Habitat

Habitat alami serval berada di wilayah Afrika, khususnya pada ekosistem savana, padang rumput, dan daerah yang memiliki vegetasi tinggi serta dekat dengan sumber air. Lingkungan tersebut memungkinkan serval bersembunyi sekaligus memudahkan proses berburu. Serval cenderung menghindari wilayah gurun yang terlalu kering maupun hutan yang terlalu lebat karena kurang mendukung strategi berburu mereka.

Fakta Unik

Salah satu fakta unik serval adalah ukuran telinganya yang sangat besar dibandingkan kucing liar lain. Telinga tersebut mampu menangkap getaran suara kecil dari mangsa yang bersembunyi di dalam rumput atau bahkan di bawah tanah. Selain itu, serval dikenal memiliki kemampuan melompat tinggi hingga lebih dari dua meter untuk menangkap mangsa secara langsung.

Ancaman

Meskipun termasuk satwa yang masih cukup tersebar di alam liar, serval menghadapi berbagai ancaman, terutama akibat aktivitas manusia. Perluasan lahan pertanian dan pemukiman menyebabkan berkurangnya habitat alami serval. Selain itu, konflik dengan manusia sering terjadi karena serval terkadang memangsa ternak kecil sehingga diburu oleh masyarakat setempat.

Status Konservasi

Berdasarkan data konservasi internasional, serval termasuk dalam kategori Least Concern (Risiko Rendah). Status ini menunjukkan bahwa populasi serval masih relatif stabil, namun upaya perlindungan tetap diperlukan untuk mencegah penurunan populasi akibat kerusakan habitat dan perburuan liar.

Klasifikasi dan Data Teknis

Nama Ilmiah : Leptailurus serval

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Mamalia

Ordo : Carnivora

Famili : Felidae

Genus : Leptailurus

Asal : Afrika

Panjang Tubuh : 67–100 cm

Berat : 9–18 kg

Masa Hidup : ±20 tahun

Pakan : Burung, reptil, serangga, dan mamalia kecil–sedang