Dosen PGMI Dorong Desain Pembelajaran Mendalam yang Transformatif

YOGYAKARTA, 19 September 2026 - Lentera Edu menyelenggarakan webinar bertema "Deep Learning Classroom to Meaningful: Design Pembelajaran Mendalam yang Transformatif dan Berdampak" pada Sabtu malam, 19 September 2026. Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pukul 18.30-21.00 WIB tersebut menghadirkan Dr. Fitri Yuliawati, M.Pd., dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sebagai narasumber.

Webinar yang terbuka bagi guru, mahasiswa, dosen, dan pelajar ini menjadi ruang penguatan kapasitas pendidik dalam merancang pembelajaran yang tidak berhenti pada penguasaan fakta. Dalam pemaparannya, Fitri menekankan bahwa tantangan pendidikan abad ke-21 menuntut perubahan dari pembelajaran dangkal yang berorientasi pada hafalan menuju proses belajar yang membangun pemahaman konseptual, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, refleksi, serta pemecahan masalah nyata.

Menurut Fitri, pembelajaran mendalam perlu dirancang secara sadar, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik. Pengetahuan baru harus dihubungkan dengan pengalaman serta pengetahuan awal agar peserta didik mampu melihat keterkaitan antarkonsep dan menerapkannya dalam situasi berbeda. Dalam kerangka ini, guru dan dosen berperan sebagai fasilitator, perancang pengalaman belajar, sekaligus mitra reflektif bagi peserta didik.

Ia memaparkan empat tahapan utama dalam merancang pembelajaran bermakna. Tahap pertama adalah mengidentifikasi profil, kebutuhan, minat, dan potensi peserta didik. Tahap berikutnya ialah merancang pengalaman autentik yang relevan dengan konteks kehidupan. Desain tersebut kemudian diterapkan melalui kegiatan aktif dan kolaboratif, lalu dievaluasi menggunakan asesmen autentik dan refleksi untuk memastikan adanya dampak serta perbaikan berkelanjutan.

Praktik baik Project-Based Learning berbasis STEM turut diperkenalkan sebagai salah satu strategi implementasi. Melalui proyek nyata, peserta didik diajak mengintegrasikan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika untuk menjawab persoalan di lingkungan sekitar. Contoh yang dibahas mencakup proyek lingkungan madrasah, literasi dan numerasi lokal, eksplorasi budaya, serta kolaborasi kelompok untuk menghasilkan karya atau solusi yang dapat diamati.

Model tersebut menempatkan peserta didik sebagai pelaku utama pembelajaran. Mereka mengeksplorasi masalah, berdiskusi, mengambil keputusan, menyusun produk, mempresentasikan hasil, dan melakukan refleksi. Sementara itu, pendidik memberikan pertanyaan pemantik, pendampingan, umpan balik formatif, dan asesmen berbasis kinerja. Teknologi digunakan secara proporsional untuk memperluas sumber belajar, mendokumentasikan proses, dan mendukung kolaborasi, bukan sekadar menjadi pelengkap.

Fitri juga menggarisbawahi bahwa pembelajaran transformatif tidak hanya mengubah cara peserta didik memahami materi, tetapi juga cara pandang, sikap, dan perilaku. Karena itu, keberhasilan pembelajaran perlu dilihat dari keterlibatan aktif, kedalaman pemahaman, kemampuan mentransfer pengetahuan, kemandirian, kerja sama, serta tumbuhnya karakter. Refleksi menjadi bagian penting agar pengalaman belajar menghasilkan perubahan yang bertahan lama.

Dalam praktiknya, desain pembelajaran dimulai dengan tujuan yang jelas dan tantangan yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Pendidik kemudian menyiapkan ruang untuk bertanya, mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki strategi, dan menjelaskan alasan di balik sebuah keputusan. Pola ini membuat proses belajar tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga memperlihatkan perkembangan cara berpikir. Dokumentasi proses, jurnal refleksi, portofolio, rubrik kinerja, dan presentasi dapat digunakan untuk menangkap perkembangan tersebut secara lebih utuh.

Materi narasumber juga memperlihatkan hubungan antara deep learning, meaningful learning, dan pembelajaran transformatif. Deep learning memperkuat pemahaman konseptual serta koneksi antargagasan; meaningful learning mengaitkan pengetahuan baru dengan pengalaman nyata; sedangkan pembelajaran transformatif mendorong perubahan perspektif dan tindakan. Ketiganya perlu hadir secara terpadu agar kegiatan di kelas tidak sekadar menarik, tetapi memiliki tujuan, relevansi, dan konsekuensi nyata bagi perkembangan peserta didik.

Direktur Lentera Edu, Muna Alfadlilah, S.S., M.A., melalui surat undangan kegiatan menyampaikan harapan agar kehadiran narasumber dapat memperkaya wawasan peserta. Program pelatihan dan pendampingan ini juga menyediakan sesi tanya jawab serta konsultasi sehingga peserta dapat mengaitkan kerangka konseptual dengan tantangan pembelajaran di kelas masing-masing.

Melalui webinar ini, Lentera Edu mendorong para pendidik untuk mulai dari perubahan yang terukur: memetakan kebutuhan peserta didik, memilih persoalan autentik, merancang aktivitas kolaboratif, dan menggunakan asesmen yang menilai proses sekaligus hasil. Kolaborasi antarpihak diharapkan terus berkembang agar pembelajaran mendalam benar-benar menghadirkan pengalaman yang relevan, humanis, dan berdampak bagi masa depan pendidikan Indonesia.