Mahasiswa PGMI UIN Sunan Kalijaga Perkuat Wawasan Global melalui International Student Academic Experience (ISAE) tiba di Singapura

SINGAPURA — Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, melaksanakan rangkaian International Student Academic Experience (ISAE) di tahun 2026 mulai dari Singapura dan akan berakhir di Malaysia. Kegiatan ISAE ini menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman akademik mahasiswa melalui pembelajaran lintas negara, penguatan kemampuan beradaptasi, serta pengenalan langsung terhadap lingkungan pendidikan dan budaya internasional. Program ISAE dirancang tidak hanya sebagai perjalanan akademik, tetapi sebagai ruang belajar autentik yang menuntut mahasiswa mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan komunikasi, kedisiplinan, kemandirian, dan tanggung jawab.

Berdasarkan pengalaman pelaksanaan program ini ditahun tahun sebelumnua, maka pada saat persiapan ISAE, program nyata yang mengintegrasikan dua ranah utama, yakni praktik lapangan dan academic experience. Rangkaian yang disiapkan mencakup abroad community service, experiential learning, academic presentation, dan cross-culture performance. Kerangka kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman internasional mahasiswa diarahkan agar tidak berhenti pada kunjungan, tetapi berkembang menjadi proses pembelajaran yang melibatkan interaksi akademik, pengabdian, pengalaman kontekstual, presentasi gagasan, serta pemahaman lintas budaya.

Selama di Singapura dan Malaysia, mahasiswa memperoleh pengalaman penting melakukan mobilitas internasional secara tertib dan bertanggung jawab. Sebelum keberangkatan, mahasiswa dibekali pemahaman mengenai dokumen perjalanan dan prosedur keimigrasian. Materi persiapan menekankan pentingnya paspor, boarding pass, tiket kepulangan, serta pemanfaatan layanan Immigration & Checkpoints Authority (ICA). Mahasiswa juga dikenalkan dengan Automated Immigration Gates Singapore dan Singapore Arrival Card sebagai bagian dari kesiapan memasuki Singapura. Pembekalan teknis tersebut sekaligus menjadi pendidikan karakter karena mahasiswa dilatih teliti, disiplin, mandiri, dan patuh terhadap ketentuan negara tujuan.

Aspek kesiapan personal juga menjadi perhatian. Mahasiswa diarahkan menyiapkan kebutuhan perjalanan seperti almamater, korsa, batik, sepatu, jaket, obat-obatan pribadi, perlengkapan penampilan, toiletries, adaptor universal, kartu komunikasi, dan kebutuhan pribadi lainnya. Persiapan yang tampak sederhana tersebut memiliki nilai edukatif yang kuat. Dalam kegiatan internasional, mahasiswa belajar mengelola kebutuhan dirinya, menjaga identitas institusi, menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, serta membangun kebiasaan merencanakan aktivitas secara matang.

Bagi mahasiswa, pengalaman ISAE memiliki arti strategis karena calon guru SD/MI pada masa kini perlu memiliki kompetensi yang melampaui penguasaan materi pembelajaran. Mereka perlu terbiasa berkomunikasi dengan beragam pihak, memahami perbedaan budaya, memiliki literasi global, serta mampu mengambil pelajaran dari praktik pendidikan di berbagai konteks. Singapura memberikan ruang belajar yang relevan untuk mengembangkan cara pandang tersebut. Interaksi dengan lingkungan internasional mendorong mahasiswa mengamati keteraturan ruang publik, penggunaan teknologi, kedisiplinan, komunikasi multikultural, serta berbagai pengalaman keseharian yang dapat direfleksikan dalam konteks pendidikan.