Dari Sekolah ke Kampus, SD IT Insantama Banjar dan PGMI UIN Sunan Kalijaga Hadirkan Pembelajaran Kreatif dan Inklusif
Belajar Mengenal Kampus dan Kolaborasi bersama Mahasiswa
Yogyakarta — Kerja sama sekolah dan perguruan tinggi menghadirkan pengalaman belajar bagi siswa SD IT Insantama Banjar. Bersama Program Studi PGMI FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sekolah melaksanakan kegiatan “Pembelajaran Bersama: Boarding Class di Lingkungan Universitas” pada Selasa, 27 Oktober 2026. Mengusung semangat “Menapak Langkah Mengenal Dunia Akademisi”, kegiatan berlangsung pukul 07.00–13.00 WIB, dengan pusat kegiatan di Ruang Teatrikal, lantai satu Pusat Pengembangan Bahasa.
Kolaborasi ini membuka kesempatan bagi anak untuk mengenal lingkungan universitas melalui pengalaman langsung. Tujuannya ialah memperluas wawasan, menumbuhkan rasa ingin tahu, mengembangkan keberanian berkomunikasi, serta memperkenalkan suasana akademik sejak pendidikan dasar. Kampus menjadi ruang perjumpaan yang menghubungkan pengetahuan, kreativitas, budaya, dan pembentukan karakter.
Rangkaian kegiatan mencakup pertunjukan budaya, pengenalan bahasa isyarat, kunjungan kelas, permainan tradisional, dan diskusi. Dokumentasi memperlihatkan siswa tampil mengenakan busana bernuansa batik, berbicara menggunakan mikrofon, serta memperagakan atraksi dengan properti. Kesempatan tampil tersebut menjadi sarana melatih kepercayaan diri, kemampuan berekspresi, kerja sama, dan penghargaan terhadap penampilan teman.
Pengalaman berkesan hadir melalui pembelajaran bahasa isyarat bersama Kak Dewi. Anak mengikuti contoh gerakan tangan dan berlatih mengenal isyarat huruf yang ditampilkan. Mahasiswa turut mendampingi praktik agar siswa dapat memperhatikan bentuk serta posisi tangan. Pengenalan ini bertujuan membuka pemahaman bahwa komunikasi memiliki beragam cara sekaligus menumbuhkan penghargaan terhadap teman Tuli dan keberagaman kebutuhan komunikasi.
Dalam kegiatan kelompok, siswa juga mengeksplorasi bahan berwarna melalui percobaan dan kegiatan seni. Terlihat anak mengamati cairan dalam gelas serta membuat jejak warna menggunakan busa di atas kertas. Aktivitas konkret semacam ini memberi kesempatan untuk mengamati perubahan, mencoba, bertanya, dan mengembangkan kreativitas. Pendampingan mahasiswa membantu menghubungkan pengalaman bermain dengan proses belajar yang terarah.
Pembelajaran budaya tampak melalui penggunaan lembar bergambar rumah adat Indonesia dan kartu huruf berwarna. Siswa memperhatikan gambar, berdiskusi, serta mengikuti arahan mahasiswa dalam kelompok kecil. Media visual dan manipulatif tersebut dapat membantu anak mengenali kekayaan budaya, mengolah informasi, melatih perhatian, serta mengembangkan kemampuan berbahasa melalui interaksi yang menyenangkan.
Permainan tradisional dan diskusi melengkapi pengalaman belajar bersama. Kegiatan bermain menjadi sarana berlatih mengikuti aturan, menunggu giliran, bekerja sama, dan menerima hasil dengan sportif. Sementara itu, diskusi memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan gagasan, mendengarkan orang lain, serta belajar menghargai perbedaan pendapat. Nilai karakter dihadirkan melalui pengalaman keseharian yang dekat dengan dunia anak.
Kontribusi mahasiswa terlihat sebagai fasilitator, pendamping kelompok, pemberi contoh, dan teman belajar. Mereka membantu penggunaan media, menjelaskan petunjuk, mengajak siswa berpartisipasi, serta mendampingi aktivitas di dalam maupun luar ruangan. Bagi calon guru, keterlibatan ini menjadi kesempatan menerapkan pengetahuan pedagogi, melatih komunikasi, mengelola kelompok, dan memahami respons belajar anak secara langsung.
Penyerahan cendera mata, sertifikat penghargaan, dan foto bersama turut mewarnai pertemuan kedua lembaga. Kebersamaan tersebut memperlihatkan hubungan kemitraan yang memberi ruang bagi sekolah dan kampus untuk saling berbagi pengalaman pendidikan.
Melalui pembelajaran bersama ini, semangat kolaborasi diwujudkan dalam kegiatan yang dekat dengan kebutuhan perkembangan siswa. Anak memperoleh kesempatan belajar melalui melihat, bergerak, mencoba, berdialog, dan berkarya. Pertemuan sekolah dengan kampus pun membawa pesan optimistis: pendidikan tumbuh semakin bermakna ketika berbagai pihak bergandengan tangan, menghadirkan pengalaman yang inklusif, menyenangkan, serta membangkitkan keberanian anak untuk terus belajar dan meraih cita-cita.