BERTEMU SATWA ASLI, BUKAN GAMBAR DI BUKU: SERUNYA STUDYTOUR MAHASISWA PGMI KE KEBUN BINATANG

Yogyakarta, 2024 - Dengan semangat eksplorasi dan pengetahuan, mahasiswa kelompok 1B dari Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, baru-baru ini menyelenggarakan kegiatan luar ruangan bertajuk Zoo Study Activities. Kegiatan ini diikuti oleh enam anggota, yaitu: Rizky Wulandari, Dwi Prasetyo Widyanata, Alifina Nur Afifah, Farih Nidaun Nazihah, Naila Salwa Salsabilla, dan Sal Sabilla. Dengan bimbingan dari dosen ibu Fitri Yuliawati, S.Pd.Si.,M.Pd.Si dan juga dipandu oleh mahasiswa field study yaitu ibu Asfiana, S.Pd untuk mengarahkan apa hal yang harus dilakukan dalam proses observasi tersebut, semata-mata bertujuan untuk memahami lebih dalam beragam spesies hewan serta pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati.

Salah satu bintang dalam observasi mereka adalah ikan Giant Arapaima (Arapaima gigas). Ikan raksasa ini memiliki sistem pernapasan yang unik, mampu bernapas melalui mulut seperti paru-paru, sehingga dapat bertahan di perairan dengan kadar oksigen rendah. Arapaima, yang berasal dari Lembah Sungai Amazon, memiliki siklus reproduksi yang menarik, di mana induk jantan mengerami telur di mulutnya hingga menetas, menunjukkan perilaku paternal yang luar biasa.

Tak kalah menarik, kelompok ini juga mempelajari katak Pacman albino, yang dikenal dengan sifat teritorialnya. Katak ini beradaptasi untuk hidup di lingkungan lembap dan hangat, serta dapat bertahan dengan bertarung melawan hewan lain untuk mempertahankan wilayahnya. Setelah proses kawin, betina akan memilih lokasi yang ideal untuk bertelur, menghasilkan hingga 2.000 telur yang menetas dalam waktu singkat.

Kura-kura leher panjang (Chelodina siebenrocki) juga menjadi fokus perhatian. Dengan habitat di rawa dan danau, kura-kura ini bernapas menggunakan paru-paru dan mencapai kematangan seksual pada usia enam tahun. Mereka memanfaatkan panjang lehernya untuk mencari makanan di bawah air, menunjukkan adaptasi unik yang memudahkan mereka bertahan hidup di lingkungan mereka.

Dalam penjelajahan ini, mahasiswa juga mengamati flamingo (Phoenicoparrus minor) yang hidup dalam koloni besar di perairan dangkal, serta otter sero ambrang (Aonyx cinerus), mamalia sosial yang aktif di siang hari dengan kemampuan menyelam yang mengesankan.

Adapun hasil pengamatan dari kelompok 1B yaitu sebagai berikut:

  1. Ikan Giant Arapaima

a. Sistem Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Actinopterygii

Ordo : Osteoglossiformes

Family : Osteoglossidae

Genus : Arapaima

Spesies : Arapaima gigas

b. Sistem Pernafasan

Sistem pernapasan arapaima sangat unik karena dengan badan yang besar, insangnya sangat kecil. Ikan ini bisa menggunakan mulutnya untuk bernapas dan berfungsi sebagai paru-paru. Dengan sistem pernapasan seperti ini, arapaima tidak menemukan masalah jika memasuki perairan yang padat vegetasi dengan kadar oksigen rendah. Bahkan, arapaima bisa bertahan hidup hingga 24 jam di luar air.

c. Sistem Reproduksi

Pergerakan dan siklus reproduksi ikan Arapaima gigas sangat bergantung pada banjir musiman di sepanjang Sungai Amazon. Saat sungai Amazon meluap, maka ikan, termasuk ikan arapaima yang akan memasuki musim kawin, akan menyebar ke seluruh dataran banjir yang mengandung banyak tumbuhan yang membusuk, sehingga kadar oksigen yang terlalu rendah akan dapat mendukung sebagian besar ikan.Selanjutnya, selama bulan-bulan pada saat ketinggian air sungai rendah, ikan-ikan arapaima akan membangun sarang mereka di dasar berpasir tempat betina bertelur. Ikan arapaima jantan dewasa akan memainkan peran reproduksi yang tidak biasa dengan mengerami puluhan ribu telur di mulutnya. Telur-telur ikan ini akan dijaga secara agresif dan akan memindahkannya bila perlu. Selanjutnya, telur-telur ikan arapaima ini akan mulai menetas saat naiknya permukaan air yang akan memberi mereka kondisi banjir untuk berkembang.

d. Cara Hidup/Habitat

Ikan arapaima (Arapaima gigas) berasal dari perairan air tawar di Lembah Sungai Amazon, Amerika Selatan. Berikut adalah beberapa karakteristik habitatnya:

e. Jenis Perairan

Arapaima hidup di perairan tawar, terutama sungai, danau, serta rawa yang mengalir lambat.Mereka cenderung memilih tempat dengan air yang tenang, kaya akan vegetasi air.

f. Suhu dan Kualitas Air

Habitat arapaima berada di wilayah tropis, sehingga mereka membutuhkan suhu air antara 24–30°C. Kualitas air dengan kadar oksigen rendah bukan masalah, karena arapaima memiliki kemampuan bernapas langsung dari udara menggunakan organ labirin.

g. Kedalaman Air

Arapaima sering ditemukan di perairan dangkal (1-5 meter), di mana mereka bisa dengan mudah muncul ke permukaan untuk mengambil napas setiap 10-20 menit.

h. Vegetasi dan Perlindungan

Perairan yang banyak ditumbuhi tanaman air menjadi tempat favorit, karena menyediakan tempat berlindung dan habitat bagi mangsa seperti ikan kecil dan krustasea.

i. Habitat Musiman

Saat musim hujan, arapaima sering bergerak ke area banjir yang luas untuk berkembang biak. Setelah air surut, mereka kembali ke sungai atau danau utama. Di luar habitat aslinya, arapaima juga diintroduksi di beberapa negara, termasuk Thailand dan Malaysia, untuk tujuan budidaya atau rekreasi pemancingan. Namun, jika tidak dikendalikan, arapaima dapat menjadi invasif dan mengancam spesies lokal.

2. Katak Pacman Albino

a. Sistem Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Amphibia

Ordo : Anura

Family : Ceratophryidae

Genus : Ceratophrys

Spesies : Ceratophrys sp.

b. Sistem Pernafasan

Katak pacman albino memiliki sistem pernafasan yang sama seperti katak pada umumnya. sebagai amfibi mereka beradaptasi untuk bernapas baik di air maupun di darat. Pada saat masih berudu katak pacman albino bernapas menggunakan insang. Insang ini berfungsi menyerap oksigen dan air. Dan setelah mengalami metamorfosis, katak pacman albino dewasa bernapas menggunakan paru-paru dan kulit. Paru-paru berfungsi untuk menyerap oksigen dari udara, sedangkan kulit katak yang lembab memiliki banyak kapiler darah. Oksigen dapat berdifusi melalui kulit yang lembap ini. Proses ini disebut pernapasan Kulit.

c. Sistem Reproduksi

Katak ini memiliki reproduksi internal, tidak seperti beberapa spesies amfibi lainnya. Setelah kawin, katak betina akan mencari sumber air untuk bertelur. Setelah menemukan lokasi yang cocok, katak betina akan bertelur sekitar 2.000 butir. Dalam waktu sekitar 2 minggu, telur-telur tersebut akan menetas menjadi kecebong.

d. Cara Hidup/Habitat

Katak pacman dikenal dengan hewan teritorial, suka menjaga wilayahnya sendiri. Hewan itu, bisa diam dengan waktu cukup lama tanpa berpindah posisi. Namun, jika ada serangan dari hewan lainnya katak pacman langsung bertarung. Berbeda dengan katak pada umumnya, yang selalu berkeliaran dimana-mana. Hanya saja, hewan ini tak bisa hidup dengan katak yang berukuran lebih kecil. Karena sifatnya kanibalisme yang bisa memakan hewan di sekelilingnya. Jika disatukan maka katak kecil akan habis. Katak ini termasuk teritorial dan suka menyendiri. Katak ini tumbuh subur di lingkungan yang hangat dan lembap. Mereka menghabiskan sebagian besar waktu bersembunyi di bawah serasah daun basah hutan lebat dan hutan hujan. Jika lingkungan tempat tinggal mereka menjadi kering, mereka hanya akan mengubur diri dan menunggu hujan turun membasahi tempat itu. Mereka umumnya ditemukan di lingkungan hutan hujan dan rawa tropis.

3. Kura-Kura Leher Panjang

a.Sistem Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Reptilia

Ordo : Testudines

Family : Chelidae

Genus : Chelodina

Spesies : Chelodina siebenrocki

b. Sistem Pernafasan

Kura-kura leher panjang (Chelodina siebenrocki) bernapas menggunakan paru-paru, sama seperti banyak spesies kura-kura lainnya. Mereka tidak memiliki kemampuan bernapas melalui dubur atau kloaka seperti beberapa spesies kura-kura sungai, tetapi masih harus ke permukaan untuk menghisap udara agar paru-paru mereka tidak kehabisan oksigen2. Oleh karena itu, sistem pernapasan utama kura-kura leher panjang adalah paru-paru.

c. Sistem Reproduksi

Umur reproduksi Kura-kura leher panjang mencapai kematangan seksual pada usia sekitar 6 tahun. Setiap kali bertelur, induk Chelodina siebenrocki dapat menghasilkan 8 hingga 14 butir telur. Proses ini dapat dilakukan tiga kali setahun. Telur-telur tersebut akan menetas setelah 3 hingga 4 bulan inkubasi, bergantung pada suhu lingkungan. Bayi kura-kura yang menetas memiliki ukuran sekitar 28 cm dan mengalami perubahan warna seiring pertumbuhannya. Pada awalnya, mereka memiliki bercak kuning di cangkang yang akan berubah menjadi gelap dalam beberapa minggu. Selama masa pertumbuhan, warna tubuhnya akan kembali pucat sebelum akhirnya mendapatkan warna permanen saat dewasa.

d. Cara Hidup/Habitat

Chelodina siebenrocki hidup di rawa, sawah, dan danau. Mereka sangat nyaman di dalam air, tetapi masih harus ke permukaan untuk bernapas karena paru-paru mereka tidak dapat mengambil oksigen langsung dari air. Mereka sering menghabiskan waktu terkubur di dasar lumpur atau tanah berpasir di habitat di dam air. Pada malam hari, mereka mungkin muncul ke darat untuk mencari makan atau menggali pasir untuk menghangatkan diri. Chelodina siebenrocki adalah karnivora dan memakan ikan, amfibi, krustacea, serangga air, dan invertebrata lainnya. Mereka juga dapat scavenging di darat, mengkonsumsi buah-buahan dan biji-bijian. Karena lehernya yang panjang, kura-kura ini tidak dapat menyembunyikan kepalanya ke dalam tempurung seperti kura-kura lainnya. Sebagai ganti, mereka melipat lehernya ke samping tubuh untuk melindungi kepalanya.

4. Flaminggo

a. Sistem Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Aves

Ordo : Phoenicopterifores

Family : Phoenicopteridae

Genus : Phoenicoparrus

Spesies : Phoenicoparrus minor

b.Sistem Pernafasan

Sistem pernapasan flamingo mirip dengan burung lainnya, dimulai dari udara yang masuk melalui lubang hidung dan melewati trakea menuju paru-paru. Flamingo memiliki kantung udara yang membantu pernapasan, sehingga memungkinkan pertukaran udara segar lebih efisien. Kantung udara ini tidak hanya berfungsi untuk menyimpan udara, tetapi juga menjaga suplai oksigen selama terbang. Dengan sistem ini, flamingo dapat bernapas dengan efisien meskipun melakukan aktivitas fisik yang intens.

b. Sistem Reproduksi

Sistem reproduksi flamingo mengikuti pola umum burung. Flamingo bereproduksi secara seksual dengan fertilisasi internal. Kedua jenis kelamin memiliki kloaka, lubang tunggal yang berfungsi untuk ekskresi dan reproduksi. Saat kawin, flamingo jantan mentransfer sperma ke betina melalui kontak kloaka. Betina kemudian bertelur satu butir yang dierami oleh kedua induknya selama sekitar 27-31 hari. Setelah menetas, anak flamingo diasuh oleh kedua orang tua hingga cukup kuat untuk mandiri.

c. Cara Hidup/Habitat

Flamingo hidup berkelompok di habitat perairan dangkal seperti laguna, danau garam, dan rawa-rawa. Mereka bergantung pada lingkungan ini untuk mencari makan, terutama dengan menyaring air menggunakan paruh mereka untuk mendapatkan alga, krustasea kecil, dan plankton, yang menjadi sumber makanan utama. Habitat mereka biasanya berada di daerah tropis dan subtropis, di berbagai wilayah seperti Afrika, Amerika, Eropa Selatan, dan Asia. Flamingo sangat sosial dan cenderung hidup dalam koloni besar untuk melindungi diri dari predator dan memaksimalkan kesempatan reproduksi.

5. Otter sero ambrang

a. Sistem Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Mamalia

Ordo : Carnivora

Family : Mustelidae

Genus : Aonyx

Spesies : Aonyx cinerus

b. Sistem Pernafasan

Otter sero ambrang dikenal juga sebagai berang-berang laut atau berang-berang air tawar, memiliki sistem pernapasan yang mirip dengan mamalia lainnya, tetapi ada beberapa adaptasi khusus yang memungkinkannya untuk hidup di lingkungan air, yaitu pernapasan dengan paru-paru, kemampuan menyelam, adaptasi pada sistem pernapasan. Pertama, otter merupakan mamalia, sehingga mereka bernafas menggunakan paru-paru, bukan insang seperti ikan. Mereka menghirup oksigen dari udara, dan bukan dari air. Kedua, otter memiliki kemampuan menyelam yang baik sehingga, untuk mendukung penyelaman, mereka memiliki kapasitas paru-paru yang lebih besar dan dapat menyimpan oksigen dalam otot mereka menggunakan protein mioglobin. Ini memungkinkan mereka untuk menyimpan lebih banyak oksigen untuk digunakan saat berada di bawah air. Ketiga, berdasarkan adaptasi sistem pernapasan, otter atau berang-berang cakar kecil ini bisa menahan napas selama beberapa menit saat menyelam, biasanya antara 4-8 menit, tergantung pada spesies dan kondisi. Selain itu, Ketika di permukaan, mereka bernapas cepat untuk mengisi paru-paru mereka dengan oksigen sebelum kembali menyelam. Lubang hidung mereka bisa tertutup untuk mencegah air masuk. Mereka bernapas cepat saat di permukaan dan memperlambat detak jantung untuk menghemat oksigen ketika berada di bawah air.

c. Sistem Reproduksi

Otter berkembang biak dengan cara melahirkan (vivipar). Masa bunting Otter berlangsung selama kurang lebih 60 hari dan akan melahirkan 3 sampai 5 ekor anak.

d. Cara Hidup/Habitat

Otter merupakan satwa yang hidup dalam kelompok keluarga besar yang terdiri dari sekitar dua belas individu. Mereka adalah hewan sosial dan vokal. Mereka sering terlihat bermain di tepian lumpur dan di air. Selain itu otter juga hidup di hutan, semak belukar, rawa-rawa, sungai, dan danau. Otter merupakan satwa diurnal yang aktif di siang hari. Makanan otter adalah Ikan, udang, kepiting, kerang, katak, serangga, dan siput. Fakta unik dari hewan ini adalah Linsang atau berang-berang cakar kecil ini tidak takut dengan air yang bersuhu dingin. Karena bagian dalam rambutnya tidak tembus air. Maka dari itu, tubuh linsang selalu kering dan hangat.

Kegiatan ini bukan hanya memberikan wawasan baru, tetapi juga menegaskan komitmen mahasiswa untuk menjaga keberlanjutan dan pelestarian fauna. Dengan pengetahuan yang diperoleh, diharapkan mereka dapat menjadi agen perubahan dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati di masa depan.