Tiga Kalijaga Muda PGMI menjadi delegasi kegiatan ICIED 4th di Malang, Jawa Timur

Foto delegasi Kalijaga muda pada ICIED 4th 6-7 November di Pascasarjana UIN Maliki Malang
ICIED merupakan singkatan dari Internasional Conference Islamic Education yang diselenggarakan oleh FITK UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang. Event ini sudah memasuki usia keempat, di mana awalnya dilaksanakan per tahun 2016, dan kini 6-7 November 2019 kembali dilaksanakan di Rumah Singgah Pascasarjana UIN Maliki Malang.
ICIED 4th ini menghadirkan 7 narasumber dengan kapasitas internasional tentunya yakni (1) Andrea Rene Mason, MA (University of Idaho, USA), (2) Dato’ Dr. H. Hussamuddin Yaacob (Pengerusi Universiti Kelantan, Malaysia), (3) Assoc. Prof. Dr. Mohd Nazri Lattif Azmi (University of Sultan Zainal Abidin, Malaysia), (4) Prof. H. Masdar Hilmy, M.A., Ph.D. (Rector of UIN Sunan Ampel, Surabaya), (5) Dr. Samsul Hady, M.Ag. (UIN Maliki Malang), (6) Dr. Hj Sulalah, M.Ag. (UIN Maliki Malang), dan (7) Dr. H. Wahidmurni, M.Pd. (UIN Maliki Malang) berbagai motivasi dan inspirasi pun diterima dengan sangat baik oleh para peserta, seperti Feri Prayoga salah satu mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang sekaligus presenter dalam kegiatan tersebut menuturkan, “saya sungguh kagum dengan motivasi yang diberikan para narasumber tadi, sampai sayapun terinspirasi untuk semangat berkarya dan maju seperti mereka-mereka” ujarnya ketika ditemui Rabu sore 6 November 2019 di depan Rumah Singgah Pascasarjana UIN Maliki Malang.
Kegiatan kancah internasional ini menarik perhatian para akademisi, praktisi pendidikan, dan peneliti di bidang pendidikan untuk ambil peran dalam event tahunan FITK UIN Maliki Malang ini. Tema yang diangkat juga relevan, yakni “Challenges in Technology and Literacy” sehingga berbagai kalangan merasa tertantang mengkaji tema ini melalui penelitian sesuai disiplin keilmuan yang ditekuni, termasuk kaula muda dari Mahasiswa Program Magister FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yaitu Muhammad Shaleh Assingkily, Nur Rohman dan Wahyu Iskandar.
Ketiganya merupakan mahasiswa yang saat ini sedang field study di Program Sarjana PGMI UIN Sunan Kalijaga. Seiring ditemani ‘tumpukan tugas’ field study dan persiapan tesis, ketiganya menyempatkan diri untuk terus aktif dalam event kancah internasional dengan berpartisipasi mengirimkan artikel ilmiah sebagai ‘tiket’ dalam kegiatan ICIED 4th FITK UIN Maliki Malang. Muhammad Shaleh Assingkily berkolaborasi dengan 3 authors lainnya (Dr. Khamim Zarkasih Putro, M.Si., Uni Sahara Br Barus, S.Pd., dan Maiyatul Jannah Assingkily) menulis artikel berjudul “Ajar-ajaren Simehuli of Karo Tribe To Elementary Age Children” yang mengulas bagaimana nasihat dan pesan moral yang diajarkan masyarakat suku Karo sejak dini kepada anak-anak, sedangkan Wahyu Iskandar dan Nur Rohman berkolaborasi dengan 1 author lainnya yakni Muhammad Yusuf (Mahasiswa Magister PBA FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) menulis artikel berjudul “Kontribusi Pemikiran Imre Lakatos (1922-1974) terhadap Pendekatan Berbasis Saintifik di Madrasah Ibtidaiyah”.
Ketiganya pun mengaku tidak percaya awalnya bisa lulus artikel dan diundang menjadi presenter menyajikan hasil penelitiannya di event internasional tersebut. Seperti halnya ketika diwawancarai, Muhammad Shaleh Assingkily menuturkan, “motivasi awal kami menulis dan mengirim artikel ke acara seminar internasional di Malang itu karena belum sempatnya kami ikut field study di Luar Negeri sebab keterbatasan biaya, maka dari itu kami berupaya bagaimana agar mahasiswa yang field study di dalam negeri khususnya PGMI UIN Sunan Kalijaga juga mampu berkiprah dalam event internasional sehingga memotivasi teman-teman lainnya bahkan adik-adik mahasiswa S1 PGMI.”
Alhasil, ketiganya sudah melakukan tugasnya dengan baik, sehingga tidak berlebihan bila diucapkan selamat kembali kepada ketiganya yakni “Tiga Kalijaga Muda PGMI yang menjadi delegasi dalam kegiatan ICIED 4th di Rumah Singgah Pascasarjana UIN Maliki Malang, Provinsi Jawa Timur.” Semoga menjadi motivasi buat adik-adik mahasiswa PGMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, bahwa menulis bukanlah sesuatu yang membosankan, apalagi membatasi jadwal piknikmu, bahkan dengan menulis engkau bisa piknik edukatif ke manapun yang engkau mau. Ibnu Bathuthah sendiri menyebutnya dengan istilah ‘rihlah at-Tarbiyah’.
Redaktur: Nurzakiah Simangunsong & Namiroh Lubis.
Editor: Ridho Agung Juwantara