Tanwiru: Parenting Orangtua, “Edukasi Seksual pada Anak”

Pertemuan Wali Murid (Tanwiru) Kelas 4 C SDIT Salsabila Al Muthiin pada Ahad, 3 Mei 2026 bersama sama belajar dengan narasumber tim psikolog RSUP Dr. Sardjito dalam kegiatan GIAT Parenting Psikologi. Tema yang diambil pada kegiatan ini adalah “Edukasi Seksual pada Anak Jadi Kunci Pencegahan Kekerasan Sejak Dini”. Edukasi seksual pada anak kembali menjadi perhatian penting dalam dunia pendidikan dan pengasuhan. Melalui materi yang disampaikan oleh Agus Fitria, S. Psi., M.A., Psikolog, ditegaskan bahwa edukasi seksual bukan sekadar membahas hubungan biologis, melainkan upaya komprehensif untuk melindungi anak dari risiko kekerasan dan pelecehan seksual, sekaligus membangun rasa percaya diri dan keamanan diri.

Membuka kegiatan, Kepala Sekolah SDIT Salsabila Al Muthiin, Imam Sofyan, S.Pd menguatkan bahwa kegiatan parenting yang diinisiasi oleh Tanwiru mendapatkan support full dari sekolah, sesuai dengan tri pilar pendidikan, bahwa keberhasilan pendidikan anak harus ada kerjasama yang harmonis antara orangtua, sekolah dan masyarakat yang dalam hal ini melibatkan pakar, mereka yang ahli dibidangnya. Ketua Tanwiru, Dr. Fitri Yuliawati, M.Pd.Si menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya dimana wali murid yang hadir dalam kegiatan ini lebih dari 80%. Tidak hanya ibu, bahkan bapak juga turut hadir yang menandakan bahwa orangtua sangat membutuhkan materi yang diangkat pada kegiatan ini.

Menurut Agus Fitria, edukasi seksual perlu diberikan sejak dini dengan pendekatan yang sesuai usia. Pada anak usia 9–11 tahun, misalnya, mereka mulai mengalami perubahan fisik berupa tanda-tanda pubertas, perkembangan kognitif yang lebih logis, serta peningkatan rasa ingin tahu terhadap tubuh dan hubungan sosial. Dalam fase ini, anak juga mulai memahami konsep batasan pribadi dan pentingnya menjaga privasi. Ia menegaskan bahwa salah satu tujuan utama edukasi seksual adalah membantu anak mengenali tubuh mereka sendiri, memahami bagian tubuh yang bersifat pribadi, serta mengetahui batasan yang harus dijaga. Dengan pemahaman ini, anak diharapkan mampu melindungi diri dari potensi tindakan yang tidak diinginkan.

Namun, dalam praktiknya, orang tua sering menghadapi berbagai tantangan dalam memberikan edukasi seksual kepada anak. Mulai dari rasa canggung, anggapan bahwa topik ini tabu, hingga kekhawatiran memberikan informasi yang tidak tepat. Selain itu, perkembangan media sosial dan internet juga menjadi faktor yang memperumit situasi, karena anak dapat dengan mudah mengakses informasi yang belum tentu benar atau sesuai dengan usia mereka. Oleh karena itu, pendekatan yang tepat sangat diperlukan. Orang tua dianjurkan untuk bersikap terbuka dan jujur, menggunakan bahasa yang sederhana dan sesuai usia anak, serta memberikan informasi yang akurat. Edukasi seksual sebaiknya difokuskan pada pengenalan tubuh, privasi, dan batasan diri, bukan pada aspek yang terlalu kompleks atau bersifat dewasa.

Selain itu, komunikasi menjadi kunci utama dalam proses edukasi ini. Orang tua disarankan untuk memulai dari hal-hal sederhana, mendengarkan pertanyaan anak dengan penuh perhatian, serta tidak menghakimi rasa ingin tahu mereka. Dengan memberikan ruang diskusi yang nyaman, anak akan lebih terbuka dan percaya kepada orang tua. Materi edukasi seksual yang diberikan kepada anak juga harus mencakup pengenalan nama bagian tubuh, pemahaman tentang perbedaan laki-laki dan perempuan, serta pentingnya menjaga privasi tubuh. Anak juga perlu diberikan pemahaman tentang perubahan fisik selama pubertas, serta cara menghadapi perubahan tersebut dengan sikap positif.

Dalam menghadapi perubahan emosional, orang tua diharapkan mampu memberikan dukungan dan pengertian. Mengajak anak berbicara tentang perasaan mereka menjadi langkah penting untuk membantu mereka memahami diri sendiri dan lingkungan. Peran orang tua dalam edukasi seksual tidak dapat digantikan. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai pemberi informasi, tetapi juga sebagai teladan dalam bersikap. Edukasi harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, serta disesuaikan dengan perkembangan anak.

Di sisi lain, guru juga memiliki peran penting dalam mendukung edukasi seksual di lingkungan sekolah. Guru diharapkan mampu menyusun materi yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, menggunakan metode pembelajaran yang interaktif, serta melibatkan orang tua dalam proses pendidikan. Kolaborasi antara sekolah dan keluarga menjadi faktor kunci dalam keberhasilan edukasi ini. Dengan pendekatan yang tepat, edukasi seksual dapat menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang sehat, percaya diri, dan mampu menjaga diri dari berbagai risiko. Edukasi ini bukanlah hal yang tabu, melainkan kebutuhan penting dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Melalui upaya bersama antara orang tua, guru, dan masyarakat, diharapkan anak-anak dapat tumbuh dengan pemahaman yang baik tentang diri mereka, serta memiliki kemampuan untuk menjaga keselamatan dan kehormatan diri sejak dini.