Menjelajah Dunia Hewan: Eksplorasi Keanekaragaman Vertebrata di Gembira Loka Zoo
Mahasiswa semester 4 dari Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, melaksanakan kunjungan observasi lapangan di Gembira Loka Zoo pada Kamis, 9 April 2026. Kegiatan yang berlokasi di Jl. Kebun Raya No.2, Rejowinangun, Kotagede ini merupakan bagian dari pendalaman mata kuliah Konsep Dasar IPA di bawah bimbingan dosen Pengampu, Ibu Dr. Fitri Yuliawati S.Pd.Si., M.Pd.Si. Kelompok 4A yang beranggotakan Itsnaini Halimatussa'diyah (24104080005), Fatma Fauziah Azzafira (24104080009), Laila Jelita Nur Melaka (24104080023), M. Febrian Abdulloh (24104080028), dan Nurul Ana Safitri (24104080030), melakukan pengamatan secara langsung terhadap keanekaragaman hayati untuk memperkuat pemahaman mengenai klasifikasi makhluk hidup.
Selama kunjungan, kelompok 4A melakukan pengamatan terhadap lima kelas utama dari kerajaan Animalia, kelompok vertebrata. Pengamatan dimulai dari kelompok Pisces, untuk memahami adaptasi di lingkungan perairan, dilanjutkan dengan Amfibi yang memiliki karakteristik hidup di dua tempat, serta Reptil sebagai hewan berdarah dingin dengan perlindungan fisik yang khas. Selain itu, kelompok
Aves diamati untuk mempelajari keanekaragaman jenis unggas, serta Mamalia untuk meninjau perilaku sosial dan ciri menyusui pada hewan.
Berikut adalah deskripsi mendalam mengenai karakteristik dan keunikan dari masing-masing spesies yang menjadi fokus pengamatan Kelompok 4A:
-
Pisces : Ikan Tiger Catfish
-
Amphibi : Katak Pesek
-
Reptil : Kura-kura Aldabra
-
Aves : Belibis Polos
-
Mamalia : Otter Sero Ambrang
Ikan Tiger Castfish (Pseudoplatystoma fasciatum)
Sistem Klasifikasi
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Actinopterygii
Ordo: Siluriformes
Famili: Pimelodidae
Genus: Pseudoplatystoma
Spesies: Pseudoplatystoma fasciatum
Tiger catfish merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang termasuk dalam kelompok ikan berkumis (catfish). Ikan ini dikenal dengan nama tiger catfish karena memiliki pola tubuh yang menyerupai loreng harimau.
Sistem Pernapasan
Sistem pernapasan tiger catfish menggunakan insang sebagai alat utama untuk bernapas. Proses pernapasan dimulai ketika air masuk melalui mulut, kemudian dialirkan menuju insang. Di dalam insang terdapat struktur halus yang kaya akan pembuluh darah,sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran gas secara efisien. Oksigen yang terlarut dalam air akan diserap ke dalam darah, sedangkan karbon dioksida dikeluarkan kembali ke lingkungan air. Sistem ini memungkinkan tiger catfish bertahan hidup sepenuhnya di dalam air.
Selain itu, tiger catfish memiliki kemampuan beradaptasi yang baik terhadap kondisi lingkungan, termasuk di perairan yang keruh atau memiliki kadar oksigen yang relatif rendah. Hal ini membuat ikan ini mampu bertahan di berbagai kondisi habitat.
Sistem Reproduksi
Tiger catfish berkembang biak secara ovipar, yaitu dengan cara bertelur. Proses pembuahan terjadi di luar tubuh (fertilisasi eksternal), dimana induk betina akan melepaskan telur dan kemudian dibuahi oleh induk jantan di dalam air. Jumlah telur yang dihasilkan cukup banyak, bahkan bisa mencapai ribuan butir dalam satu kali pemijahan. Hal ini merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan peluang kelangsungan hidup keturunannya. Di habitat aslinya, proses reproduksi biasanya terjadi di sungai, terutama saat kondisi lingkungan mendukung. Namun dalam budidaya, proses ini sering dibantu oleh manusia melalui teknik tertentu, seperti pemberian hormon untuk merangsang pematangan gonad. Setelah menetas, larva akan tumbuh dan berkembang menjadi ikan muda.
Habitat dan Cara Hidup
Tiger catfish hidup di perairan tawar, khususnya di sungai-sungai besar seperti Sungai Amazon di Amerika Selatan. Habitatnya umumnya berupa perairan yang cukup dalam, berarus, dan terkadang keruh. Ikan ini termasuk hewan karnivora atau predator. Dalam kehidupannya, tiger catfish aktif mencari makan, terutama pada malam hari (bersifat nokturnal). Makanan utamanya meliputi ikan kecil, udang, cacing, serta berbagai jenis hewan air lainnya.
Tiger catfish juga memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungannya. Ia dapat hidup di kondisi air yang berbeda-beda, baik dari segi kejernihan maupun kadar oksigen. Dengan tubuh yang kuat dan kemampuan berburu yang baik, ikan ini mampu bertahan hidup di habitat aslinya.
Fakta Unik
Tiger catfish memiliki beberapa keunikan yang membedakannya dari ikan lain. Salah satunya adalah pola tubuhnya yang menyerupai loreng harimau, yang menjadi asal nama “tiger catfish”. Ikan ini dapat tumbuh hingga panjang sekitar 104 cm dan berat mencapai 70 kg, sehingga termasuk ikan berukuran besar. Selain itu, umur hidupnya juga cukup panjang, yaitu sekitar 18 hingga 25 tahun.
Ciri khas lainnya adalah adanya kumis (barbel) di sekitar mulut yang berfungsi sebagai alat peraba untuk mendeteksi makanan, terutama di perairan keruh. Tiger catfish juga dikenal sebagai ikan predator yang aktif, serta memiliki kemampuan adaptasi yang sangat baik terhadap perubahan lingkungan. Hal inilah yang membuatnya mampu bertahan hidup di berbagai kondisi perairan.
Katak Pesek (Fejervarya cancrivora)
Sistem Klasifikasi
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Amphibia (amfibi)
Ordo: Anura
Famili: Dicroglossidae
Genus: Fejervarya
Spesies: Fejervarya cancrivora
Katak pesek dikenal juga sebagai katak sawah atau crab-eating frog, yaitu salah satu jenis katak yang banyak ditemukan di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Sistem Pernapasan
Sistem pernapasan katak pesek merupakan ciri khas hewan kelas amfibi yang mampu bernapas melalui lebih dari satu organ. Katak pesek menggunakan paru-paru, kulit, serta rongga mulut dalam proses pertukaran gas.Udara masuk melalui lubang hidung menuju paru-paru. Namun berbeda dengan manusia, katak juga melakukan pernapasan melalui kulit yang selalu lembab. Kulit yang tipis memungkinkan oksigen larut dalam air dan langsung masuk ke pembuluh darah.
Saat berada di air atau dalam kondisi istirahat, pernapasan melalui kulit menjadi sangat dominan. Sedangkan ketika aktif di darat, paru-paru bekerja lebih optimal. Mekanisme ini membantu katak pesek bertahan hidup di dua lingkungan sekaligus, yaitu darat dan perairan. Kemampuan bernapas melalui kulit juga membantu menjaga keseimbangan kadar oksigen ketika katak berada di lingkungan berlumpur atau air dengan kadar oksigen rendah.
Sistem Reproduksi
Sistem reproduksi katak pesek berlangsung secara ovipar (bertelur) dengan pembuahan eksternal. Pada musim kawin, katak jantan akan mengeluarkan suara panggilan untuk menarik betina. Setelah betina mengeluarkan telur di air atau tempat yang lembap, jantan segera melepaskan sperma untuk membuahi telur tersebut di luar tubuh betina.
Telur kemudian berkembang menjadi kecebong (berudu) yang hidup sepenuhnya di air dan bernapas menggunakan insang. Seiring pertumbuhan, berudu mengalami proses metamorfosis, yaitu perubahan bentuk dari larva berekor menjadi katak muda yang memiliki kaki dan paru-paru. Strategi reproduksi ini memungkinkan katak pesek menghasilkan banyak telur sekaligus sehingga peluang kelangsungan hidup keturunannya lebih besar.
Cara hidup atau habitat
Cara hidup katak pesek sangat berkaitan dengan lingkungan lembab dan perairan dangkal. Hewan ini sering ditemukan di:
-
persawahan
-
rawa-rawa
-
tepi sungai
-
kolam
-
daerah payau dekat pantai
Katak pesek termasuk hewan semi-akuatik, artinya dapat hidup di darat maupun air. Mereka biasanya aktif pada malam hari (nokturnal) untuk mencari makan.
Makanan Utamanya
-
Serangga
-
Cacing
-
Hewan kecil air
-
Bahkan krustasea kecil (asal nama “crab-eating frog”).
Katak ini memiliki kemampuan adaptasi tinggi, bahkan dapat hidup di air payau yang memiliki kadar garam lebih tinggi dibandingkan kebanyakan katak lain.
Fakta Unik
Katak pesek mampu hidup di air payau, sesuatu yang jarang dimiliki spesies katak lain. Memiliki tubuh agak pipih dan moncong pendek, sehingga disebut “pesek”. Suara panggilannya sering terdengar di area persawahan setelah hujan. Mengalami metamorfosis lengkap dari telur → berudu → katak dewasa. Kulitnya harus selalu lembab karena berfungsi sebagai alat pernapasan tambahan. Termasuk indikator lingkungan sehat karena sensitif terhadap pencemaran air.
Kura Kura Aldraba (Aldabrachelys gigantea)
Sistem Klasifikasi
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Reptilia
Ordo: Testudines
Famili: Testudinidae
Genus: Aldabrachelys
Status Konservasi: Rentan
Sistem pernapasan
Sistem pernapasan pada kura-kura Aldabra merupakan ciri khas hewan reptil yang menggunakan paru-paru sebagai alat utama untuk bernapas. Berbeda dengan aves, kura-kura tidak memiliki kantung udara, sehingga proses pernapasannya lebih sederhana.
Udara masuk melalui lubang hidung, kemudian menuju paru-paru untuk pertukaran gas. Namun, karena tubuhnya dilindungi oleh tempurung keras, gerakan pernapasan tidak dibantu oleh tulang rusuk seperti pada manusia. Sebagai gantinya, kura-kura menggunakan otot-otot khusus di sekitar tubuhnya untuk membantu mengembang dan mengempiskan paru-paru.
Meskipun sistem pernapasannya tidak seefisien burung, kura-kura Aldabra mampu bernapas dengan baik di lingkungan darat. Mereka juga memiliki kemampuan memperlambat laju metabolisme, sehingga tidak membutuhkan oksigen dalam jumlah besar. Hal ini membantu mereka bertahan hidup dalam kondisi lingkungan yang terbatas.
Sistem reproduksi
Sistem reproduksi kura-kura Aldabra berlangsung secara ovipar, yaitu berkembang biak dengan cara bertelur. Pembuahan terjadi di dalam tubuh betina setelah proses perkawinan.
Betina akan menggali lubang di tanah atau pasir sebagai tempat untuk meletakkan telur, biasanya berjumlah sekitar 10–25 butir. Setelah itu, telur ditimbun dan dibiarkan hingga menetas tanpa perawatan langsung dari induknya.
Anak kura-kura yang menetas harus mandiri sejak awal kehidupan. Mereka sudah mampu bergerak dan mencari makan sendiri, meskipun masih sangat rentan terhadap predator. Strategi ini menunjukkan bahwa kura-kura Aldabra mengandalkan jumlah telur yang cukup banyak untuk menjaga kelangsungan spesiesnya.
Cara hidup atau habitat
Cara hidup kura-kura Aldabra sangat erat kaitannya dengan lingkungan darat yang kering hingga semi-lembab. Hewan ini berasal dari Kepulauan Aldabra di Seychelles dan hidup di padang rumput, semak belukar, serta hutan terbuka.
Kura-kura ini termasuk herbivora yang memakan rumput, daun, dan tumbuhan kecil. Dalam aktivitas sehari-hari, mereka cenderung bergerak lambat dan menghabiskan waktu untuk mencari makan serta beristirahat.
Kura-kura Aldabra umumnya hidup secara individu, tetapi dapat ditemukan dalam kelompok kecil di area dengan sumber makanan yang melimpah. Mereka juga memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap kondisi lingkungan, termasuk saat kekurangan air, dengan cara mengurangi aktivitas dan memperlambat metabolisme tubuh. Selain itu, kura-kura ini dikenal memiliki umur yang sangat panjang, bahkan bisa mencapai lebih dari 100 tahun, sehingga termasuk salah satu hewan dengan usia hidup terlama di dunia.
Fakta unik
Kura-kura Aldabra memiliki ukuran tubuh yang sangat besar, sehingga termasuk salah satu kura-kura darat terbesar di dunia. Beratnya bisa mencapai lebih dari 200 kg. Salah satu keunikan utamanya adalah umur yang sangat panjang. Kura-kura ini dapat hidup lebih dari 100 tahun, bahkan ada yang mencapai usia di atas 150 tahun.
Selain itu, meskipun bergerak lambat, kura-kura Aldabra memiliki daya tahan tubuh yang luar biasa dan mampu bertahan hidup dalam kondisi lingkungan yang keras.
Keunikan lainnya adalah bentuk tempurungnya yang besar dan kuat, yang berfungsi sebagai pelindung dari predator. Tempurung ini juga menjadi ciri khas yang membedakan kura-kura dari hewan lainnya. Fakta menarik lainnya, kura-kura Aldabra memiliki peran penting dalam ekosistem sebagai penyebar biji tanaman, sehingga membantu menjaga keseimbangan lingkungan tempat hidupnya.
Belibis Polos (Dendrocygna javanica)
Sistem Klasifikasi
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves (burung)
Ordo: Anseriformes
Famili: Anatidae (kelompok bebek/angsa)
Genus: Dendrocygna
Status Konservasi: Risiko Rendah
Sistem pernapasan
Sistem pernapasan pada belibis polos merupakan salah satu ciri khas hewan kelas aves yang sangat efisien. Belibis bernapas menggunakan paru-paru yang dibantu oleh struktur tambahan berupa kantung udara. Udara yang masuk melalui lubang hidung akan melewati saluran pernapasan menuju paru-paru, namun tidak berhenti di sana. Sebagian udara akan disimpan di dalam kantung udara yang tersebar di beberapa bagian tubuhnya.
Keunikan sistem ini terletak pada aliran udara yang berlangsung satu arah. Saat belibis menarik napas, udara segar masuk ke paru-paru dan kantung udara. Ketika menghembuskan napas, udara dari kantung udara kembali melewati paru-paru sebelum keluar dari tubuh. Dengan mekanisme ini, udara kaya oksigen tetap mengalir melalui paru-paru baik saat menarik maupun menghembuskan napas. Hal ini membuat pertukaran gas berlangsung lebih maksimal dibandingkan dengan sistem pernapasan pada manusia.
Selain berfungsi dalam proses pernapasan, kantung udara juga membantu meringankan tubuh sehingga memudahkan belibis saat terbang, serta berperan dalam menjaga kestabilan suhu tubuh. Sistem pernapasan yang efisien ini sangat mendukung gaya hidup belibis yang aktif, baik saat terbang, berenang, maupun beraktivitas di lingkungan perairan seperti rawa, danau, dan sawah.
Sistem reproduksi
Sistem reproduksi belibis polos berlangsung secara ovipar, yaitu dengan bertelur. Pembuahan terjadi di dalam tubuh betina setelah perkawinan. Betina kemudian membuat sarang di tempat aman seperti di rumput atau tepi perairan untuk meletakkan telur, biasanya sekitar 8–10 butir. Telur dierami hingga menetas, dan anak yang lahir sudah cukup mandiri, meskipun tetap dijaga oleh induknya.
Sistem reproduksi seperti ini menunjukkan bahwa belibis polos memiliki strategi bertahan hidup yang baik, dengan menghasilkan beberapa telur sekaligus dan merawat anaknya hingga cukup kuat.
Cara hidup atau habitat
Cara hidup belibis polos sangat erat kaitannya dengan lingkungan perairan. Burung ini termasuk hewan semi-akuatik yang menghabiskan sebagian besar waktunya di rawa, danau, atau persawahan yang tergenang air. Dalam kehidupannya, belibis polos cenderung hidup berkelompok, baik dalam jumlah kecil maupun besar, sehingga mereka dapat saling melindungi dari ancaman predator.
Aktivitas belibis biasanya lebih aktif pada pagi dan sore hari. Pada waktu tersebut, mereka mencari makan berupa tumbuhan air, biji-bijian, serta hewan kecil seperti serangga. Sementara pada siang hari, belibis sering beristirahat di tempat yang aman, bahkan terkadang bertengger di pohon, yang menjadi salah satu ciri khasnya dibandingkan bebek lain.
Selain itu, belibis polos juga memiliki kemampuan beradaptasi yang baik terhadap lingkungan. Mereka dapat berpindah tempat jika kondisi habitat tidak lagi mendukung, misalnya saat sumber air berkurang. Dengan pola hidup berkelompok, kemampuan mencari makan yang fleksibel, dan adaptasi yang baik, belibis polos mampu bertahan hidup di berbagai lingkungan perairan di wilayah Asia, termasuk Indonesia.
Fakta unik
Belibis polos dikenal dengan suara khasnya yang menyerupai siulan, sehingga dalam bahasa Inggris disebut “whistling duck”. Suara ini sering terdengar saat mereka terbang atau berkomunikasi dalam kelompok.
Keunikan lain adalah kebiasaannya bertengger di pohon. Berbeda dengan kebanyakan bebek yang lebih sering berada di air atau darat, belibis polos justru cukup sering hinggap di dahan pohon untuk beristirahat.
Belibis juga termasuk burung yang setia dalam kelompoknya. Mereka hidup berkoloni dan sering terlihat bergerombol dalam jumlah banyak, terutama di area persawahan atau rawa-rawa. Selain itu, anak belibis tergolong cepat mandiri. Tidak lama setelah menetas, anaknya sudah mampu berjalan dan berenang mengikuti induknya. Fakta menarik lainnya, belibis polos memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan, sehingga dapat hidup diberbagai habitat perairan dan tetap bertahan meskipun kondisi lingkungan berubah.
Otter Sero Ambrang (Aonyx cinerea)
Sistem Klasifikasi
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mamalia
Ordo: Carnivora
Famili: Mustelidae
Genus: Aonyx
Spesies: Aonyx cinerea
Deskripsi Fisik
Otter Sero Ambrang dikenal sebagai Asian Small-clawed Otter dalam bahasa Inggris atau di Indonesia disebut berang-berang cakar kecil. Satwa mamalia ini merupakan yang paling kecil dari keseluruhan 13 spesies berang-berang di dunia. Otter merupakan satwa darat yang memiliki warna rambut dominan coklat dengan berat badan 1 sampai 5 kg dan panjang tubuh mampu mencapai 61 cm. Mereka memiliki cakar yang sangat pendek dan tidak menonjol keluar dari bantalan jarinya. Jari-jarinya memiliki selaput renang namun tidak tertutup penuh hingga ujung. Otter memiliki ekor yang tebal di pangkal dan meruncing di ujung, berfungsi sebagai kemudi saat berenang.
Sistem Pernapasan
Sebagai hewan mamalia, Otter Sero Ambrang bernafas menggunakan paru-paru. Karena Otter adalah hewan semi-akuatik, mereka memiliki kemampuan untuk menahan napas di dalam air selama beberapa menit saat menyelam untuk mencari makanan. Lubang hidung dan telinga mereka juga dapat menutup secara otomatis saat berada di bawah air.
Sistem Reproduksi
Otter Sero Ambrang berkembang biak dengan cara melahirkan (vivipar). Masa bunting Otter berlangsung selama kurang lebih 60 hari dan akan melahirkan 3 sampai 5 ekor anakan. Otter termasuk hewan Monogami (setia pada satu pasangan seumur hidup). Otter dapat hidup sampai umur 16 tahun. Proses perawatan anak dilakukan secara kooperatif oleh kedua orang tua dan bahkan dibantu oleh anak-anak yang lebih tua.
Cara Hidup (Habitat dan Perilaku)
Selain dapat dijumpai di Indonesia, Otter Sero Ambrang juga dapat ditemui di negara India, Malaysia, Thailand, China Selatan, dan Filipina. Mereka dapat hidup di hutan, semak belukar, rawa-rawa, sungai, dan danau. Otter merupakan hewan karnivora yang makanannya berupa ikan, udang, kepiting, kerang, katak, serangga, dan siput. Mereka menggunakan tangan depan yang sangat lincah untuk meraba dan menangkap mangsa di dalam lumpur atau di bawah batu.
Otter merupakan satwa yang hidup berkoloni, dengan 1 kelompoknya terdiri dari 1 keluarga dengan jumlah yang dapat mencapai 20 ekor. Mereka adalah hewan sosial dan vokal. Mereka sering terlihat bermain di tepian lumpur dan di air. Otter merupakan satwa diurnal yang aktif di siang hari.
Status Konservasi
Otter Sero Ambrang oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature) digolongkan sebagai satwa dengan status konservasi Vulnerable (Rentan). Ancaman utamanya meliputi hilangnya habitat, pencemaran air akibat pestisida, serta perdagangan ilegal hewan eksotis.
Fakta Unik
Salah satu fakta paling menarik adalah kecerdasan mereka dalam mengolah makanan; mereka sering menjemur kerang di bawah sinar matahari agar cangkangnya terbuka sendiri tanpa harus bersusah payah memecahkannya. Selain itu, mereka sangat gemar bermain, seringkali menggunakan batu sebagai mainan dengan tangannya yang lincah. Secara komunikasi, mereka memiliki variasi suara yang cukup banyak (sekitar 12 jenis suara) untuk berinteraksi antar sesama anggota kelompok. Karena tingkah lakunya yang lucu dan cerdas, mereka populer dipelihara di berbagai kebun binatang di seluruh dunia