Makin Asyik Studi Vertebrata bareng B.V3

YOGYAKARTA — Mahasiswa Program Studi PGMI semester 4 melaksanakan kegiatan observasi lapangan di Kebun Binatang Gembira Loka pada Rabu (9/4/2026) sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung melalui pengamatan berbagai jenis hewan di lingkungan aslinya.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa yang terbagi ke dalam beberapa kelompok melakukan pengamatan terhadap hewan dari berbagai klasifikasi, seperti pisces, amfibi, reptil, aves, dan mamalia. Salah satunya adalah Kelompok 2C yang beranggotakan Anisa, Amadis, Nita, Fakhrin, Rahmat, dan Fikri, yang turut aktif mengamati karakteristik masing-masing hewan berdasarkan habitat, sistem pernapasan, serta cara berkembang biaknya.

Selama proses observasi, mahasiswa tidak hanya mencatat ciri-ciri fisik, tetapi juga memperhatikan perilaku serta bentuk adaptasi hewan terhadap lingkungannya. Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa mampu mengaitkan teori yang telah dipelajari di kelas dengan kondisi nyata di lapangan, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan mudah dipahami.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan observasi tersebut, mahasiswa menyajikan hasil pengamatan terhadap beberapa spesies hewan yang telah diamati secara langsung. Uraian berikut mencakup klasifikasi, sistem pernapasan, sistem reproduksi, serta cara hidup dan habitat dari masing-masing hewan.

Katak Lembu Afrika (Pyxicephalus adspersus)

Katak Lembu Afrika (Pyxicephalus adspersus), sering dikenal sebagai African Bullfrog, adalah salah satu spesies katak terbesar di dunia. Katak ini dikenal karena ukurannya yang masif dan sifatnya yang cukup agresif.

Berikut adalah rincian mengenai klasifikasi, sistem pernapasan, reproduksi, dan habitatnya:

1. Sistem Klasifikasi

Secara taksonomi, katak ini termasuk dalam kelompok amfibi purba yang memiliki fisik sangat kuat.

  • Kingdom: Animalia

  • Filum: Chordata

  • Kelas: Amphibia

  • Ordo: Anura

  • Famili: Pyxicephalidae

  • Genus: Pyxicephalus

  • Spesies: Pyxicephalus adspersus

2. Sistem Pernapasan

Seperti amfibi pada umumnya, katak lembu afrika memiliki sistem pernapasan ganda yang beradaptasi dengan dua alam, namun dengan kekhasan saat mereka dalam kondisi dorman (tidur panjang).

  • Paru-paru: Digunakan saat berada di darat untuk menghirup oksigen secara langsung.

  • Kulit: Kulitnya yang lembap memungkinkan terjadinya pertukaran gas (difusi oksigen).

  • Estivasi (Hibernasi Musim Panas): Saat musim kemarau panjang, katak ini mengubur diri di bawah tanah dan membentuk kepompong dari lapisan kulit mati untuk menjaga kelembapan. Dalam kondisi ini, metabolisme menurun drastis dan pernapasan dilakukan sangat minimal melalui kulit.

3. Sistem Reproduksi

Katak lembu afrika memiliki perilaku reproduksi yang unik dibandingkan banyak spesies katak lainnya.

  • Ovipar (Bertelur): Betina dapat mengeluarkan hingga 3.000–4.000 telur sekaligus.

  • Fertilisasi Eksternal: Pembuahan terjadi di luar tubuh di dalam air dangkal atau genangan air hujan.

  • Peran Jantan sebagai Penjaga: Berbeda dengan kebanyakan amfibi, katak jantan sangat protektif. Mereka menjaga berudu dari predator. Jika genangan air mulai mengering, katak jantan akan menggunakan kaki belakangnya yang kuat untuk menggali saluran menuju sumber air yang lebih besar agar berudunya tidak mati kekeringan.

4. Cara Hidup dan Habitat

Katak ini adalah penyintas yang tangguh di lingkungan yang ekstrem.

  • Habitat: Hidup di kawasan sabana terbuka, semak belukar, dan kanal-kanal air di Afrika bagian tengah dan selatan (seperti Afrika Selatan, Namibia, dan Zimbabwe).

  • Diet (Karnivora): Mereka adalah predator oportunistik yang akan memakan apa pun yang muat di mulutnya, termasuk serangga, tikus kecil, burung, bahkan spesies katak lainnya.

  • Adaptasi Musiman: Sebagian besar hidupnya dihabiskan di bawah tanah untuk menghindari panasnya matahari Afrika. Mereka hanya muncul ke permukaan saat musim hujan tiba untuk makan dan berkembang biak.

  • Pertahanan Diri: Jika merasa terancam, mereka akan menggembungkan tubuh agar terlihat lebih besar dan mengeluarkan suara geraman yang keras, bahkan tidak ragu untuk menggigit lawan.

Elang Sikep Madu (Pernis ptilorhynchus)

Elang Sikep Madu merupakan salah satu jenis burung pemangsa yang memiliki keunikan pada pola makan dan perilaku migrasinya. Berbeda dengan elang pada umumnya, spesies ini dikenal mengonsumsi larva lebah dan madu sebagai makanan utama.

1. Sistem Klasifikasi

  • Kingdom: Animalia

  • Filum: Chordata

  • Kelas: Aves

  • Ordo: Accipitriformes

  • Famili: Accipitridae

  • Genus: Pernis

  • Spesies: Pernis ptilorhynchus

2. Sistem Pernapasan

Seperti burung pada umumnya, Elang Sikep-madu memiliki sistem pernapasan yang sangat efisien untuk mendukung aktivitas terbang jauh (migrasi).

  • Paru-paru & Kantung Udara (Air Sacs): Mereka memiliki sembilan kantung udara yang berfungsi sebagai penyimpan udara. Kantung ini memastikan paru-paru selalu mendapatkan pasokan oksigen, baik saat menghirup maupun menghembuskan napas (double respiration).

  • Mekanisme: Udara masuk melalui lubang hidung (nares), melewati trakea, dan dialirkan ke kantung udara sebelum masuk ke paru-paru. Hal ini memungkinkan pertukaran gas yang konstan, yang sangat krusial saat mereka terbang di ketinggian dengan kadar oksigen yang lebih tipis.

3. Sistem Reproduksi

Elang Sikep-madu adalah hewan ovipar (bertelur) dengan perilaku reproduksi yang spesifik:

  • Monogami: Mereka cenderung setia pada satu pasangan selama musim kawin.

  • Sarang: Membangun sarang dari ranting pohon yang dilapisi daun-daun segar, biasanya di pohon yang tinggi dan rimbun untuk perlindungan.

  • Inkubasi: Betina biasanya bertelur sebanyak 1 hingga 2 butir. Proses pengeraman dilakukan oleh kedua induk (bergantian) selama kurang lebih 30–35 hari.

  • Perawatan Anakan: Setelah menetas, anak elang akan tetap berada di sarang selama 35–45 hari sebelum mereka mulai belajar terbang dan mandiri.

4. Cara Hidup dan Habitat

Sesuai namanya, elang ini memiliki gaya hidup yang sangat berbeda dari elang jenis lain.

  • Habitat: Mereka menyukai hutan tropis, hutan gugur, dan area terbuka di dekat tepi hutan. Di Indonesia, mereka sering ditemukan di hutan-hutan pegunungan maupun dataran rendah saat musim migrasi.

  • Makanan Unik: Berbeda dengan elang lain yang berburu mamalia kecil, makanan utama Sikep-madu adalah larva dan pupa lebah atau tawon, serta madu. Mereka memiliki bulu wajah yang sangat rapat (seperti sisik) untuk melindungi diri dari sengatan lebah.

  • Perilaku Migrasi: Spesies ini adalah pengembara lintas negara. Saat musim dingin di Asia Timur (seperti Siberia atau Jepang), mereka akan terbang ribuan kilometer menuju wilayah hangat seperti Indonesia (Sumatera, Jawa, Bali) untuk mencari makan.

  • Kemampuan Adaptasi: Mereka sering terlihat bertengger dengan tenang di dahan pohon yang tersembunyi sambil mengamati pergerakan serangga sebelum turun menyerang sarang lebah.

Soa Layar Celebensis (Hydrosaurus celebensis)

Soa layar Celebensis atau kadal layar Sulawesi merupakan salah satu reptil khas Indonesia yang hidup di daerah tropis dan dikenal dengan kemampuannya berenang serta beraktivitas di sekitar perairan.

1. Sistem Klasifikasi

  • Kingdom: Animalia

  • Filum: Chordata

  • Kelas: Reptilia

  • Ordo: Squamata

  • Famili: Agamidae

  • Genus: Hydrosaurus

  • Spesies: Hydrosaurus celebensis

2. Sistem Pernapasan

Soa layar menggunakan paru-paru untuk bernapas.

  • Udara masuk melalui lubang hidung → trakea → paru-paru

  • Paru-paru berkembang cukup baik seperti reptil lain

  • Bernapas dengan bantuan gerakan otot dada (bukan diafragma seperti manusia)

3. Sistem Reproduksi

  • Berkembang biak dengan bertelur (ovipar)

  • Pembuahan terjadi secara internal

  • Betina biasanya bertelur di tanah berpasir atau dekat sungai

  • Jumlah telur bisa mencapai sekitar 5–15 butir dalam satu kali bertelur

  • Telur menetas setelah beberapa minggu tanpa perawatan induk

4. Cara Hidup / Habitat

  • Hidup di daerah tropis, terutama di pulau Sulawesi, Indonesia

Habitat utama:

  • Hutan dekat sungai

  • Rawa atau daerah berair

  • Bersifat semi-akuatik (bisa berenang dan sering berada dekat air)

  • Pandai memanjat pohon

Makanan:

  • Tumbuhan (daun, buah)

  • Serangga kecil

Owa Kalimantan (Hylobates muelleri)

Owa Kalimantan merupakan salah satu jenis primata (kera kecil) yang hidup di hutan tropis dan dikenal dengan kemampuannya bergerak lincah di atas pohon. Hewan ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan.

1. Sistem Klasifikasi

Owa Kalimantan termasuk primata (kera kecil) dengan klasifikasi sebagai berikut:

  • Kingdom: Animalia

  • Filum: Chordata

  • Kelas: Mammalia

  • Ordo: Primates

  • Famili: Hylobatidae

  • Genus: Hylobates

  • Spesies: Hylobates muelleri

2. Sistem Pernapasan

Owa Kalimantan memiliki sistem pernapasan seperti mamalia pada umumnya:

  • Menggunakan paru-paru sebagai alat utama pernapasan

  • Udara masuk melalui: hidung → faring → laring → trakea → bronkus → paru-paru

  • Di dalam paru-paru terdapat alveolus (gelembung udara kecil) yang berfungsi untuk pertukaran gas:

    • Oksigen (O₂) masuk ke darah

    • Karbon dioksida (CO₂) dikeluarkan

  • Pernapasan dibantu oleh diafragma dan otot antar tulang rusuk

3. Sistem Reproduksi

Owa Kalimantan berkembang biak secara seksual:

  • Jenis reproduksi: Vivipar (melahirkan)

  • Pembuahan: Internal (di dalam tubuh betina)

  • Biasanya melahirkan 1 anak dalam satu kelahiran

  • Masa kehamilan sekitar 6–7 bulan

  • Anak owa akan dirawat induknya dalam waktu lama (± 2 tahun)

  • Owa dikenal sebagai hewan monogami (setia pada satu pasangan)

4. Cara Hidup dan Habitat

Habitat:

  • Hidup di hutan tropis di pulau Kalimantan (Borneo)

  • Banyak ditemukan di hutan hujan dataran rendah hingga hutan pegunungan

Cara Hidup:

  • Arboreal → hidup di atas pohon, jarang turun ke tanah

  • Bergerak dengan cara brachiation (berayun dari cabang ke cabang)

  • Diurnal → aktif di siang hari

Makanan utama:

  • Buah-buahan

  • Daun muda

  • Bunga

  • Hidup berpasangan (keluarga kecil)

  • Memiliki suara nyaring untuk komunikasi dan menandai wilayah

Oscar Hitam (Astronotus ocellatus)

Oscar Hitam (Astronotus ocellatus) merupakan salah satu ikan air tawar yang populer sebagai ikan hias karena bentuk tubuhnya yang unik, warna yang menarik, serta tingkat kecerdasannya yang cukup tinggi dibandingkan ikan lainnya.

1. Sistem Klasifikasi

  • Kingdom: Animalia

  • Phylum: Chordata

  • Class: Actinopterygii (ikan bersirip kipas)

  • Order: Cichliformes

  • Family: Cichlidae

  • Genus: Astronotus

  • Species: Astronotus ocellatus

2. Sistem Pernapasan

Black Oscar bernapas menggunakan insang yang dilengkapi filamen untuk menyerap oksigen dari air. Insang ini memungkinkan pertukaran gas secara efisien, sehingga ikan dapat bertahan hidup di lingkungan perairan. Mereka cukup adaptif terhadap kondisi air dengan kadar oksigen rendah, meski tetap membutuhkan kualitas air yang baik untuk tumbuh sehat.

3. Sistem Reproduksi

Secara umum, ikan bereproduksi secara seksual dengan pembuahan eksternal. Betina mengeluarkan telur ke lingkungan perairan, kemudian jantan membuahi telur tersebut dengan sperma di luar tubuh. Proses ini biasanya tidak diikuti dengan perawatan anak, sehingga banyak spesies ikan membiarkan telur dan larva berkembang sendiri. Namun, ada juga beberapa jenis ikan yang menunjukkan parental care, yaitu menjaga dan melindungi telur hingga menetas.

Black Oscar memiliki karakter reproduksi yang unik dibandingkan banyak ikan lain. Mereka termasuk substrate spawner, yaitu meletakkan telur di permukaan datar seperti batu, kayu, atau kaca akuarium. Pasangan Oscar biasanya membentuk ikatan monogami sementara saat musim kawin, dan kedua induk aktif menjaga telur serta larva. Induk akan mengipasi telur dengan sirip agar tetap mendapat oksigen dan melindungi dari ancaman. Telur menetas dalam 2–3 hari, dan larva dijaga hingga mampu berenang bebas, menunjukkan adanya parental care yang kuat.

4. Cara Hidup dan Habitat

Deskripsi Fisik:
Ikan Black Oscar (Astronotus ocellatus) memiliki tubuh oval yang pipih dan berukuran relatif besar, dengan panjang dapat mencapai 30–40 cm. Warna tubuhnya dominan gelap, biasanya hitam atau coklat, dihiasi corak oranye, merah, atau kuning yang bervariasi. Ciri khas yang paling menonjol adalah adanya bercak bulat menyerupai mata (ocellus) di pangkal ekor, yang berfungsi sebagai kamuflase sekaligus perlindungan dari predator. Sirip dorsal dan analnya panjang, memberi kesan gagah dan kokoh, sehingga menjadikannya salah satu ikan hias yang menarik perhatian.

Perilaku dan Gaya Hidup:
Black Oscar dikenal sebagai ikan yang agresif dan teritorial, terutama saat musim kawin. Mereka juga memiliki tingkat kecerdasan tinggi, mampu mengenali pemilik, merespons interaksi, bahkan belajar pola makan. Salah satu perilaku unik yang jarang ditemukan pada ikan hias lain adalah thanatosis, yaitu berpura-pura mati dengan membuat tubuhnya kaku sebagai strategi pertahanan diri untuk mengelabui predator. Dari sisi gaya hidup, Oscar bersifat omnivora, memakan serangga, cacing, ikan kecil, dan tumbuhan. Mereka lebih nyaman hidup soliter atau berpasangan daripada berkelompok besar, sehingga menambah keunikan karakteristiknya.