Workshop Bahasa Isyarat “Semua Bisa Bicara: Mengenal dan Belajar Bahasa Isyarat”

Workshop Bahasa Isyarat
Yogyakarta – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Semester 6 mengadakan Workshop Bahasa Isyarat dengan tema “Semua Bisa Bicara: Mengenal dan Belajar Bahasa Isyarat” yang dilaksanakan pada 14 Mei 2022 pukul 08.00 WIB- selesai melalui via Zoom dan disiarkan langsung melalui Youtube.
Workshop kali ini menghadirkan Bapak Sigit Prasetyo, S.Pd.I, M.Pd. Si sebagai Keynote Speaker, Dhomas Erika Ratnasari, S.Pd mahasiswi tuli S2 Studi Disabilitas dan Pendidikan Inklusi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Raihana Dhaniswari mahasiswi tuli S1 Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai narasumber. Ibu Dr. Maemonah, M.Ag selaku Kaprodi PGMI UIN Sunan Kalijaga, Ibu Izzatin Kamala S.Pd, M.Pd selaku dosen S1 Prodi PGMI UIN Sunan Kalijaga, dan Shabrina Salsabila mahasiswi Prodi PGMI UIN Sunan Kalijaga semester 6 selaku ketua pelaksana Workshop turut serta memberikan sambutan. Amalia Okta Nugraini dan Fiki Risma mahasiswi Prodi PGMI UIN Sunan Kalijaga semester 6 selaku MC dan moderator turut hadir untuk membimbing jalannya acara.
Workshop kali ini mengangkat tema yang sangat menarik. Alasan pengambilan tema yang tersebut, karena menyadari bahwa betapa pentingnya bahasa isyarat di seluruh kalangan agar dapat menjadikan dunia lebih inklusif. Hakikatnya seluruh kalangan dapat belajar bahasa isyarat sehingga masyarakat sekitar juga dapat mendampingi penyandang tuli.
“Sebenarnya semua orang mampu belajar bahasa isyarat, tidak hanya orang-orang tertentu yang mendampingi tuli melainkan masyarakat sekitar juga ikut mendampingi. Dengan terselenggaranya workshop ini, dapat mempelajari bahasa isyarat bersama”, ujar Shabrina Salsabila selaku Ketua Pelaksana (14/5/2022).
Sebuah perbedaan tidak akan menjadi masalah dalam melaksanakan pendidikan, karena pendidikan ini sesungguhnya untuk semuanya tanpa terkecuali termasuk yang berkebutuhan khusu sehingga dapat terciptanya pendidikan inklusi. Mengenal bahasa isyarat sebagai salah satu cara kita untuk memahami eksistensi manusia dan segala perbedaan yang ada.
“Eksistensi manusia tidak dilihat dari fisik namun dilihat dari jasmani dan rohani, maka dari itu dalam melakukan pendidikan harus menerapkan pendidikan inklusi. Sehingga kita perlu memahami bahasa isyarat sebagai bentuk memahami perbedaan yang ada”, ungkap Ibu Dr. Maemonah, M.Ag selaku Kaprodi PGMI UIN Sunan Kalijaga (14/5/2022).
Penyandang tuli membutuhkan gaya yang mempertimbangkan kebutuhan linguistik dan budaya tuli. Mengamati hal tersebut, sangat penting bagi kita semua khususnya calon guru untuk mengenal budaya tuli dan bahasa linguistik tuli (bahasa isyarat).
“Mengenal bahasa isyarat merupakan hal yang sangat penting. Hal ini dapat sebagai bentuk sarana untuk memahami budaya tuli dan bahasa linguistik tuli” ujar Ibu Izzatin Kamala S.Pd, M.Pd selaku dosen S1 Prodi PGMI UIN Sunan Kalijaga
Disisi lain, Bapak Sigit Prasetyo, S.Pd.I, M.Pd. Si sebagai Keynote Speaker menjelaskan bahwa cara berinteraksi penyandang tuli dengan manusia yang normal tentu memiliki banyak perbedaan. Hal ini sangat penting sehingga harus diperhatikan dan dipahami bersama. Selain itu, dalam berkomunikasi dengan penyandang tuli mengenal dasar bahasa isyarat sangatlah penting. Hal tersebut dapat dimulai dari mengenal huruf abjad dan angka (14/5/2022).
Dalam berbicara dengan penyandang tuli harus memperhatikan etika yang ada. Adapun hal yang perlu diperhatikan ketika berbicara dengan penyandang tuli, perlu diketahui bahwa ada hal yang tidak diperbolehkan ketika berbicara dengan penyandang tuli.
“Hal-hal yang tidak diperbolehkan ketika bekomunikasi dengan penyandang tuli yaitu: bicara terlalu cepat, menggunakan maker, lawan bicara tidak memperhatikan,berkomunikasi dengan penyandang tuli di tempat ruang yang gelap, berbicara dengan posisi membelakangi penyandang tuli, berteriak memanggil penyandang tuli dari kejauhan, dan melempari penyandang tuli dengan barang kecil”. Ujar Dhomas Erika Ratnasari, S.Pd Mahasiswi tuli S2 Studi Disabilitas dan Pendidikan Inklusi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (14/5/2022).
Terkait cara komunikasi penyandang tuli, mereka selalu berbicara menggunakan bahasa isyarat. Berdasakan fakta yang ada, bahasa isyarat yang sering digunakan di Indonesia yaitu jenis BISINDO karena mudah diterapkan. Dalam workshop kali ini, Dhomas Erika Ratnasari Mahasiswi tuli S2 Studi Disabilitas dan Pendidikan Inklusi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Raihana Dhaniswari mahasiswi tuli yang sedang menempuh S1 Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai narasumber mengajak peserta untuk praktik dasar bahasa isyarat BISINDO bersama. Materi yang dipelajari yaitu huruf abjad, kata kata sehari-hari yang digunakan, dan lain-lain. Seluruh peserta pun turut serta mempraktikkan bahasa isyarat dengan antusias.
Secara keseluruhan workshop dapat terlaksana lancar. Kesuksesan suatu acara tentu tidak lepas dari suatu kendala. Walaupun terdapat sedikit kendala yakni terkait konstribusi anggota, koordinasi anggota, dan tidak semua panitia di wilayah yang sama, namun hal dapat teratasi dengan baik. Hal ini tentu buah hasil kerja keras dari seluruh panitia yang berkontribusi dalam menyukseskan acara ini.
“Untuk kendala mungkin karena sulitnya panitia membagi waktu dan koordinasi, apalagi acara ini dilaksanakan secara daring dan teman-teman tidak semua berada di wilayah yang sama”, ujar Shabrina Salsabila selaku Ketua Pelaksana (14/5/2022).
“Kendala yang dihadapi oleh sie acara yaitu dari segi konstribusi anggota dalam menjalankan tugas, namun saya mengatasi masalah tersebut dengan membagi tugas kepada seluruh anggota dengan adil, berbicara baik-baik dengan anggota, dan mempertimbangkan keadaan setiap anggota” ungkap Indah Nur Aryati selaku Koordinator Sie Acara (14/5/2022).
Setelah dilaksanakannya workshop bahasa isyarat ini, diharapkan agar seluruh kalangan mampu menhargai satu sama lain khususnya terhadap penyandang tuli tanpa melihat perbedaan yang ada.
“Kami berharap teman-teman, guru, dan masyarakat sekitar mampu memahami dan menghargai teman-teman tuli di sekitarnya. Semoga pelatihan ini dapat berguna di kemudian hari dan menjadikan lingkungan yang lebih ramah dan inklusif, serta dapat menjadi motivasi mahasiswa serta orang-orang sekiar bahwa bahasa isyarat bisa kita pelajari bersama” ungkap Shabrina Salsabila selaku Ketua Pelaksana (14/5/2022).
“Harapan saya untuk peserta workshop dan masyarakat, agar lebih memperhatikan lagi terkait hal yang berkaitan inklusi dan tidak boleh menyampingkan mereka (penyandang kebutuhan khusus) karena dibalik itu pasti mereka memiliki bakat yang luar biasa. Ujar Indah Nur Aryati selaku Koordinator Sie Acara (14/5/2022) (Tsaqifa Taqiyya Ulfah)