CALON PENDIDIK HARUS MEMPERDALAM BIDANG KEWIRAUSAHAAN

Pada tanggal 25 Oktober 2024, Alfian Eko Widodo Adi Prasetyo, M.Pd., dosen dari Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, menjadi pembicara dalam seminar kewirausahaan yang diadakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK). Seminar ini bertujuan membuka wawasan mahasiswa tentang pentingnya kewirausahaan bagi tenaga pendidik. Kehadiran Alfian diharapkan memotivasi para calon pendidik untuk menggali potensi bisnis di bidang pendidikan. Tema yang diangkat, "Pendidikpreneur: Menggali Potensi Kewirausahaan di Kalangan Tenaga Pendidik," menyoroti pentingnya peran kewirausahaan dalam profesi pendidik.

Tema ini dipilih karena relevan dengan kebutuhan untuk meningkatkan kemandirian pendidik, terutama di era persaingan global saat ini. Alfian menekankan bahwa ilmu pendidikan dapat digunakan untuk membangun bisnis yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat. Tenaga pendidik yang memiliki keterampilan kewirausahaan memiliki kemampuan untuk membuat ide baru yang lebih kreatif. Hal ini sangat penting mengingat kesulitan finansial yang sering dihadapi para pendidik.

Alfian memberikan contoh bagaimana ilmu pendidikan dapat diterapkan dalam dunia bisnis dalam pemaparannya. Ia menyatakan bahwa pendidik dapat membuat bisnis kreatif, aplikasi, atau kursus online yang menguntungkan. Produk pendidikan ini tidak hanya membantu siswa dalam belajar mereka, tetapi juga dapat membantu guru mendapatkan uang tambahan. Menurutnya, untuk berkontribusi dalam pendidikan dan menjadi lebih mandiri secara keuangan, pendidik harus memiliki mindset kewirausahaan.

Selain itu, Alfian menekankan bahwa menjadi pendidikpreneur berarti menggabungkan prinsip pendidikan dengan inovasi bisnis. Ia mendorong mahasiswa untuk berpikir kreatif saat melihat peluang bisnis di bidang pendidikan. Ia juga menekankan betapa pentingnya memiliki keterampilan digital untuk menggunakan teknologi untuk mempromosikan barang atau jasa pendidikan. Dengan cara ini, guru dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan memiliki dampak yang lebih besar.

Sesi tanya jawab berlangsung dengan penuh semangat. Salah satu pertanyaan yang menarik perhatian adalah, "Bagaimana caranya berani memulai bisnis dengan privilege yang sudah ada?" Pertanyaan ini menunjukkan betapa pentingnya bagi mahasiswa untuk memanfaatkan peluang dan keuntungan yang mereka miliki. Alfian mengatakan bahwa memahami keuntungan yang dimiliki seseorang sebelum memulai bisnis adalah langkah pertama.

Ia menyatakan bahwa keuntungan bukan satu-satunya hak, tetapi juga tanggung jawab untuk menggunakan sumber daya dengan benar. Alfian menyarankan mahasiswa untuk berkonsentrasi pada kekuatan unik mereka dan menggunakannya untuk membangun bisnis yang bermanfaat bagi masyarakat. "Berani memulai bisnis dengan keistimewaan berarti juga siap menghadapi tantangan dan berkomitmen untuk terus belajar," kata Alfian, mengajak mahasiswa untuk tidak takut untuk memulai. Ia mengakhiri jawabannya dengan menekankan betapa pentingnya adaptasi dan ketekunan dalam berwirausaha.

Diharapkan bahwa seminar dengan tema "Pendidikpreneur" akan mendorong mahasiswa FITK untuk mengembangkan semangat kewirausahaan mereka. Acara ini tidak hanya memungkinkan mahasiswa untuk berbicara, tetapi juga memberi mereka kesempatan untuk mempertimbangkan peluang bisnis pendidikan. Dewan Eksekutif Mahasiswa FITK berharap kegiatan ini akan membuka jalan bagi mahasiswa, guru, dan praktisi untuk bekerja sama untuk menciptakan inovasi di dunia pendidikan.