Kunjungan Edukatif Mahasiswa PGMI: Menghubungkan Teori dan Praktik dalam Petualangan di Gembira Loka

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) mengadakan sebuah kegiatan study tour ke Kebun Binatang Gembira Loka pada akhir pekan lalu. Kegiatan ini tidak hanya sekadar rekreasi, tetapi juga memberikan pengalaman edukatif yang mendalam bagi para mahasiswa dalam memahami satwa liar beserta ekosistemnya. Kegiatan ini dimulai sejak pagi, para mahasiswa dengan penuh semangat untuk mengikuti perjalanan ini, yang ramu sebagai bagian dari pembelajaran luar kelas pada mata kuliah IPA Dasar MI.

Setibanya di lokasi, mahasiswa menerima arahan dari Ibu Fitri Yuliawati, S.Pd.Si., M.Pd.Si., yang menjelaskan agenda kegiatan observasi selama di kebun binatang. Para mahasiswa telah dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok kecil untuk mengoptimalkan pengalaman belajar. Salah satu kelompok, yakni kelompok A6 yang terdiri atas nama “Arkhan alfarezi, Arsyad faqih amruddin, Afida ika cahyani , Dwi zahrotun, Nazhifa salsabila” dipandu oleh Nurul Imam, S.Pd., mahasiswa yang bertindak sebagai pendamping observasi. Dengan panduan ini, para mahasiswa dapat memahami berbagai materi yang sebelumnya hanya mereka pelajari di ruang kelas, sambil menumbuhkan minat belajar melalui pengamatan langsung kehidupan satwa di habitat alaminya. Kegiatan ini menjadi momentum yang berharga bagi mahasiswa guna untuk menghubungkan teori dengan praktik di lapangan, menjadikan kunjungan ke Gembira Loka sebagai wahana untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan.

LAPORAN OBSERVASI GEMBIRALOKA OLEH KELOMPOK 6C

PGMI KELAS C

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

2024











ANGGOTA KELOMPOK 6C

ARKHAN ALFAREZI: 23104080088

ARSYAD FAQIH AMRUDDIN: 23104080116

AFIDA IKA CAHYANI: 23104080090

DWI ZAHROTUN: 23104080096

NAZHIFA SALSABILA: 23104080106

1.

Nama Hewan: Tapir

Sistem Klasifikasi

a.Kingdom: Animalia

b.Filum: Chordata

c.Kelas: Mamalia

d.Ordo: Perissodactyla

e.Family: Tapiridae

f.Genus: Tapirus

g.Spesies: T. Indicus

h.Nama Ilmiah: Tapirus Indicus

Sistem Pernapasan:

Tapir bernapas menggunakan paru-paru, mirip dengan mamalia lainnya. Udara masuk melalui hidung, melewati trakea dan bronkus, lalu mencapai paru-paru di mana oksigen diserap dan karbon dioksida dikeluarkan. Tapir memiliki kemampuan menutup lubang hidung saat berada di air, sebuah adaptasi untuk lingkungan semi-akuatik. Otot diafragma membantu mengatur pernapasan dengan kontraksi dan relaksasi.

Sistem Reproduksi:

Sistem reproduksi tapir mirip dengan mamalia lainnya. Tapir betina memiliki siklus estrus dan biasanya melahirkan satu anak setelah masa kehamilan sekitar 13 bulan (390-400 hari). Proses perkawinan terjadi melalui fertilisasi internal, di mana sperma dari tapir jantan membuahi sel telur di dalam tubuh betina. Anak tapir lahir dengan pola garis-garis dan bintik-bintik pada tubuhnya, yang berfungsi sebagai kamuflase di habitatnya. Tapir muda disapih setelah beberapa bulan, namun tetap tinggal bersama induknya hingga cukup mandiri.

Habitat:

Tapir hidup di habitat hutan tropis, subtropis, dan daerah lembab seperti hutan hujan, rawa-rawa, serta padang rumput di Amerika Tengah, Amerika Selatan, dan Asia Tenggara. Mereka lebih suka lingkungan yang dekat dengan sumber air seperti sungai atau danau, karena tapir sering menghabiskan waktu di air untuk mencari makanan dan berlindung dari predator. Habitat yang lebat memberi mereka perlindungan dan akses ke tumbuh-tumbuhan yang menjadi makanan utamanya, seperti daun, buah, dan ranting.

2.

Nama hewan : Tokek

System Klasifikasi

a.Kingdom (Kerajaan)S : Animalia

b.Phylum (Filum) : Chordata

c.Class (Kelas) : Reptilia

d.Order (Ordo) : Squamata

e.Family (Famili) : Gekkonidae

f.Genus (Genus) : Gekko

g.Species (Spesies) : Gekko gecko

h.Nama ilmiah : Gekko gecko.

System pernafasan :

Tokek, seperti reptil pada umumnya, menggunakan paru-paru sebagai organ utama untuk pernapasan. Berikut rincian sistem pernapasannya :

a. Organ Pernapasan

- Tokek bernapas menggunakan paru-paru, yang mirip dengan mamalia namun lebih sederhana.

- Mereka tidak memiliki diafragma, jadi pernapasan terjadi melalui gerakan otot-otot dada dan perut.

b. Proses Pernapasan

- Udara masuk melalui hidung, melewati trakea, lalu menuju paru-paru.

- Tokek tidak memiliki kantung udara seperti burung, tetapi paru-parunya memiliki lipatan internal untuk meningkatkan luas permukaan pertukaran gas.

- Oksigen diambil dari udara yang dihirup dan karbon dioksida dilepaskan melalui proses ekshalasi.

c. Adaptasi

- Sebagai reptil, tokek bernapas lebih lambat dibandingkan mamalia karena laju metabolisme mereka lebih rendah.

- Mereka dapat menahan napas untuk waktu yang cukup lama jika diperlukan, seperti saat berburu atau saat dalam situasi berbahaya.

Sistem Reproduksi Tokek

Tokek merupakan hewan ovipar, yang berarti mereka berkembang biak dengan bertelur. Berikut adalah proses reproduksinya:

a. Jenis Kelamin

- Tokek memiliki dua jenis kelamin, jantan dan betina. Tokek jantan biasanya memiliki ciri khas berupa pori-pori preanal yang lebih menonjol dan hemipenis yang tersembunyi di dalam kloaka.

b. Pembuahan

- Pembuahan pada tokek terjadi secara internal. Tokek jantan menggunakan hemipenis (alat kelamin jantan yang bercabang dua) untuk mentransfer sperma ke betina.

b. Proses Bertelur

- Setelah terjadi pembuahan, betina akan bertelur. Telur biasanya berjumlah dua butir dan memiliki cangkang yang keras.

- Telur-telur ini ditempatkan di tempat yang aman dan tersembunyi, seperti di bawah batu atau di celah dinding, untuk melindunginya dari predator.

c. Inkubasi dan Menetas

- Telur tokek akan menetas setelah beberapa minggu hingga bulan tergantung pada suhu dan kelembapan lingkungan.

- Bayi tokek yang baru menetas akan mandiri segera setelah keluar dari telur.

d. Faktor Suhu

- Suhu selama inkubasi juga dapat mempengaruhi jenis kelamin bayi tokek yang menetas. Ini adalah fenomena yang umum pada banyak reptil.

Habitat

Tokek (Gekko gecko) umumnya hidup di daerah tropis dan subtropis seperti Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Mereka dapat ditemukan di hutan hujan, hutan dataran rendah, serta di lingkungan berbatu. Selain itu, tokek sangat adaptif dan sering tinggal di sekitar pemukiman manusia, seperti di rumah, bangunan, atau gudang. Mereka suka tempat yang lembap, hangat, dan tersembunyi, seperti di celah dinding atau atap rumah. Tokek aktif pada malam hari (nokturnal), dan mereka sering berburu serangga yang tertarik pada cahaya di sekitar rumah.

3.

Nama Hewan: katak Pulchra

Sistem Klasifikasi

  1. Kingdom: Animalia
  1. Filum: Chordata
  1. Kelas: Amphibi
  1. Ordo: Anura
  1. Family: Microhylidae
  1. Genus: Kaloula
  1. Spesies: K. pulchra
  1. Nama Ilmiah: Kaloula Pulchra

Sistem Pernapasan:

Sistem pernapasan katak pulchra sangat adaptif dan memungkinkan katak hidup di berbagai lingkungan. Pemahaman tentang sistem pernapasan katak ini penting untuk mempelajari lebih lanjut tentang biologi amfibi dan konservasi katak. Paru-paru dan Kulit: Setelah metamorfosis sempurna, katak pulchra bernapas menggunakan paru-paru dan kulit.

Paru-paru: Paru-paru katak relatif sederhana dibandingkan paru-paru mamalia. Namun, paru-paru ini cukup efektif untuk mengambil oksigen dari udara.

Kulit: Kulit katak selalu lembap dan kaya akan pembuluh darah. Oleh karena itu, kulit juga berperan penting dalam pertukaran gas. Oksigen dapat berdifusi melalui kulit yang lembap dan masuk ke dalam pembuluh darah.

Sistem Reproduksi:

Katak pulchra, seperti amfibi lainnya, memiliki sistem reproduksi yang unik dan menarik. Meskipun penelitian spesifik mengenai katak pulchra mungkin terbatas, kita dapat menggeneralisasi berdasarkan pengetahuan umum tentang sistem reproduksi katak secara keseluruhan.

Karakteristik Umum Sistem Reproduksi Katak

Fertilisasi Eksternal: Salah satu ciri khas reproduksi katak adalah fertilisasi eksternal. Artinya, pembuahan sel telur oleh sperma terjadi di luar tubuh induk betina, biasanya di dalam air.

Metamorfosis: Setelah telur dibuahi, akan berkembang menjadi kecebong yang hidup di air. Kecebong kemudian mengalami metamorfosis, yaitu perubahan bentuk tubuh secara bertahap hingga menjadi katak dewasa yang dapat hidup di darat.

Organ Reproduksi:

Katak Jantan: Memiliki sepasang testis yang menghasilkan sperma. Sperma dikeluarkan melalui kloaka, yaitu lubang tempat keluarnya urine, feses, dan sperma.

Katak Betina: Memiliki sepasang ovarium yang menghasilkan telur. Telur akan dikeluarkan melalui oviduk dan keluar melalui kloaka.



Habitat:

Karakteristik Habitat Katak Pulchra:

Lingkungan lembap: Katak pulchra membutuhkan kelembapan tinggi untuk menjaga kulitnya tetap lembap. Mereka sering ditemukan di dekat sungai, kolam, sawah, atau daerah yang sering tergenang air.

Vegetasi: Mereka sering bersembunyi di bawah dedaunan, batu, atau tumpukan kayu. Vegetasi yang lebat memberikan perlindungan dan kelembapan yang dibutuhkan.

Tanah gembur: Katak pulchra sering menggali lubang di tanah yang gembur untuk bersembunyi atau bertelur.

Suhu hangat: Seperti amfibi lainnya, katak pulchra lebih menyukai suhu yang hangat. Mereka sering aktif pada malam hari atau saat cuaca tidak terlalu panas.


4.

Nama hewan : Ikan Red Tail Catfish

- Kingdom : Animalia

- Filum : Chordata

- Kelas : Actinopterygil

- Ordo : Siluryformes

- Family : Pimoledidae

- Genus : Phractocephalus

- Spesies : P.Hemioliopterus

- Nama ilmiah : Phractocephalus hemioliopterus

Sistem Pernafasan

Sistem pernapasan ikan RTC (Red Tail Catfish), menggunakan insang untuk mengambil oksigen dari udara. Insang terletak di sisi kepala dan berfungsi untuk mengekstrak oksigen terlarut saat udara mengalir melaluinya. Ikan dapat mengalami hipoksia jika kadar oksigen dalam udara rendah, yang membuat mereka berenang ke permukaan untuk bernapas. Kualitas udara, suhu, dan kepadatan ikan juga mempengaruhi kemampuan bernapas. Ikan RTC yang berasal dari perairan tawar tidak dapat bertahan di lingkungan air asin

Sistem Reproduksi

Ikan RTC (Red Tail Catfish) berkembang biak dengan cara yang sama seperti ikan lainnya, yaitu melalui proses reproduksi yang melibatkan organ gonad: Organ reproduksi Organ reproduksi ikan jantan disebut testis, sedangkan ikan betina disebut ovarium. Sistem reproduksi ikan Red Tail Catfish (RTC) melibatkan teknik pemijahan buatan yang mirip dengan ikan lele. Proses ini dimulai dengan pemilihan induk jantan dan betina, di mana betina mengeluarkan hormon ovaprim untuk merangsang ovulasi. Setelah 12 jam, telur dan sperma dikumpulkan melalui metode pengurutan (stripping) dan dicampur untuk fertilisasi. Telur yang terbuahi kemudian diinkubasi dalam wadah khusus. Kesuburan dan tingkat penetasan dapat bervariasi, dengan hasil yang tergantung pada kondisi pemijahan dan perawatan.

Habitat

Ikan RTC (Red Tail Catfish) memiliki habitat asli di perairan air tawar, seperti danau dan sungai. Ikan ini tidak dapat bertahan hidup di lingkungan air asin Pertama kali ditemukan di sungai Orinoco, Amazon, dan Essequibo di Amerika Selatan, ikan ini kini menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia RTC dapat hidup baik dalam arus tenang maupun deras Dengan penampilannya yang unik dan perawatannya yang mudah, ikan ini sangat populer di kalangan pengoleksi ikan hias.