Pengabdian Dosen PGMI di Daerah 3T: Pendampingan Pedagogi Guru Berbasis Multikultural (Menguatkan Pendidikan Inklusif dan Toleransi melalui Pelatihan Guru)

Ketapang, dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), tim dosen pengabdian PGMI dalam hal ini diwakili oleh Ibu Prof. Dr. Hj. Maemonah, M.Ag dan Ibu Inggit Dyaning Wijayanti, M.Pd melaksanakan program pendampingan pedagogi berbasis multikultural untuk guru-guru sekolah dasar di SDS Eka Tjipta Kencana Ketapang Kalimantan Barat. Kegiatan ini berlangsung selama 5 hari dengan melibatkan 15 guru dari sekolah SDS Eka Tjipta Kencana.

Kegiatan pendampingan ini bertujuan untuk membantu para guru memahami dan mengimplementasikan pendekatan pembelajaran multikultural dalam kelas. Fokusnya adalah menciptakan suasana pembelajaran yang inklusif, menghargai keberagaman budaya, serta mendorong siswa untuk memahami nilai-nilai toleransi dan kerja sama lintas budaya.
Program ini diawali dengan lokakarya interaktif yang membahas konsep dasar pedagogi multikultural, diikuti dengan diskusi tentang tantangan pendidikan di daerah 3T yang kaya akan keragaman budaya. Para guru diajak untuk mengeksplorasi metode pembelajaran yang adaptif dan kontekstual sesuai dengan kebutuhan siswa dari latar belakang budaya yang berbeda.

Pendampingan ini juga mencakup:

  1. Studi Kasus dan Simulasi: Guru berpartisipasi dalam simulasi pembelajaran berbasis konflik sosial atau diskriminasi yang mungkin muncul di kelas.
  2. Pendampingan Praktik Mengajar: Tim pendamping memberikan umpan balik langsung pada praktik pembelajaran yang dilakukan oleh guru di sekolah mereka masing-masing.


Antusiasme guru dalam kegiatan ini sangat tinggi. Pak Kurnia selaku kepala sekolah di SDS Eka Tjipta Kencana “Pelatihan ini membuka wawasan kami tentang bagaimana menyampaikan pelajaran yang menghargai keberagaman. Anak-anak kami berasal dari budaya yang berbeda-beda, dan kami belajar cara mengakomodasi kebutuhan mereka dengan lebih baik.”

Masyarakat setempat juga menyambut baik program ini karena dianggap relevan dengan konteks kehidupan mereka yang sering menghadapi perbedaan budaya dan potensi konflik antar kelompok.
Pendampingan ini diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang bagi pendidikan di daerah 3T. Dengan penguatan kapasitas guru, siswa dapat menerima pendidikan yang lebih relevan dengan kondisi lingkungan mereka sekaligus mengembangkan sikap toleransi sejak dini.

Tim pengabdian juga berencana untuk melakukan pemantauan dan evaluasi berkala terhadap implementasi pembelajaran multikultural yang telah dilatihkan. Selain itu, kerjasama dengan pemerintah daerah dan instansi terkait akan terus ditingkatkan untuk mendukung keberlanjutan program ini.
Program ini merupakan bagian dari program/hibah pengabdian kepada masyarakat , yang didukung oleh bantuan BOPTN Kementerian Agama Kluster Pengabdian Masyarakat Berbasis Lembaga Pendidikan, Keagamaan, dan Kemasyarakatan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan pendidikan di daerah 3T tidak hanya mampu mengejar ketertinggalan tetapi juga menjadi contoh dalam membangun harmoni keberagaman di Indonesia. Ingg