“Zoo Tapi Bikin Nambah Wawasan? Bisa Banget!”

Suasana penuh keceriaan dan semangat belajar menyertai mahasiswa PGMI khususnya kelompok 6B yang terdiri dari (In’amuzzam Wafda Hanum, Lutfia Soraya, Nashhatu Karimah Alfya, Sakha Sabita Faza, dan Windi Astriana) saat bersama dosen pembimbing Ibu Dr. Fitri Yuliawati, S.Pd.Si., M Pd. Si., beserta teman teman kelompok lainnya yang berkunjung ke Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta, guna mengikuti program Zoo Studi yang edukatif.Dalam kegiatan ini, kelompok 6B melakukan pengamatan terhadap beberapa jenis hewan dari berbagai kelompok vertebrata, yaitu Pisces berupa Belinda Bangkok, Amfibi berupa katak pohon bergaris, Reptil berupa iguana, Aves berupa beluk jampuk, serta Mamalia berupa siamang.

Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap materi IPA, tetapi juga memberikan pengalaman belajar langsung yang lebih mendalam dalam mengenal keanekaragaman fauna. Melalui observasi ini, diharapkan mahasiswa mampu mengembangkan pembelajaran yang kontekstual, menarik, dan aplikatif. Berikut spesies hewan yang diamati oleh kelompok 6B:

  1. Belida Bangkok (Chitala ornata)

Sistem Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Actinopterygii

Ordo : Osteoglossiformes (kerabat jauh arwana)

Famili : Notopteridae

Genus : Chitala

Species : C. ornata

Panjang : 25-100cm

Massa hidup : 8-15th

Habiat : Sungai, rawa-rawa, danau

Pakan : Ikan kecil, Udang, Serangga

Asal : Thailand, Laos, Vietnam, Myanmar

Fakta Unik

Memiliki ciri khas terdapat banyak bintik sejajar seperti mata di bagian belakang tubuhnya yang membedakan dengan jenis lainnya.

Sistem Reproduksi

Ikan belida bangkok (Chitala ornata) termasuk ikan yang berkembang biak secara ovipar atau bertelur. musim kawin ikan belida terjadi saat musim penghujan, terutama disaat curah hujan sangat tinggi. ikan belida jantan akan membangun sarang dengan menggunakan daun atau kayu pohon yang terendam sebagai tempat pemijahan, meletakkan telur dan perlindungan anaknya.

Sistem Pernapasan

Ikan belida Bangkok memiliki sistem pernapasan yang unik, yaitu tidak hanya menggunakan insang tetapi juga memiliki organ tambahan (suprabranchial organ) yang memungkinkan mengambil oksigen langsung dari udara. Kemampuan ini membuat ikan mampu bertahan pada perairan dengan kadar oksigen rendah bahkan dapat hidup sementara di luar air selama kondisi tubuhnya tetap lembab. Sistem ini menjadi bentuk adaptasi terhadap lingkungan rawa atau perairan stagnan yang miskin oksigen, sehingga ikan tetap dapat bertahan hidup dibandingkan ikan lain.

Cara Hidup/Habitat

Ikan belida Bangkok merupakan ikan air tawar yang hidup di berbagai tipe perairan seperti sungai, rawa, danau, kanal, dan kolam dengan arus lambat hingga tergenang. Habitatnya umumnya memiliki banyak vegetasi air dan kondisi air yang keruh atau berlumpur. Ikan ini bersifat predator (karnivora) yang memangsa ikan kecil, serangga air, dan hewan kecil lainnya. Selain itu, ikan ini memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap lingkungan ekstrim, termasuk perairan dengan oksigen rendah dan pH yang bervariasi. Persebarannya luas di wilayah Asia Tenggara seperti Thailand, Indonesia, dan sekitarnya.

  1. KATAK POHON BERGARIS (Polypedates leucomystax)

Sistem Klasifikasi

  • Kingdom : Animalia

  • Filum : Chordata

  • Kelas : Amphibia

  • Ordo : Anura

  • Famili : Rhacophoridae

  • Genus : Polypedates

  • Spesies : P. leucomystax

  • Panjang : 4–5 cm

  • Massa hidup : 4–5 tahun

Fakta Unik

Katak pohon bergaris memiliki garis khas di tubuhnya yang membantu sebagai kamuflase di lingkungan pepohonan. Selain itu, katak ini memiliki bantalan perekat pada ujung jari sehingga mampu memanjat dan menempel pada permukaan daun atau batang pohon dengan mudah.

Cara Hidup / Habitat

Katak pohon bergaris merupakan hewan amfibi yang hidup di lingkungan lembab seperti hutan, rawa, kebun, dan semak-semak. Katak ini bersifat nokturnal (aktif pada malam hari) dan sering ditemukan bertengger di daun atau cabang pohon. Sebagai hewan karnivora, katak ini memakan serangga dan hewan kecil lainnya. Kemampuannya beradaptasi cukup tinggi, sehingga dapat hidup di berbagai lingkungan, termasuk dekat pemukiman manusia. Habitat alaminya meliputi daerah rawa, hutan, perkebunan, serta semak belukar. Katak ini bersifat karnivora dengan makanan utama berupa serangga dan ulat. Persebarannya cukup luas di kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia, Filipina, Myanmar, Thailand, dan Vietnam.

Sistem Reproduksi

Katak pohon bergaris berkembang biak secara ovipar (bertelur). Saat musim kawin, biasanya di awal musim hujan, katak jantan akan memanggil betina dengan suara khas. Betina kemudian meletakkan ratusan telur pada daun yang berada di atas sumber air. Setelah menetas, berudu akan jatuh ke air untuk melanjutkan proses pertumbuhan hingga menjadi katak dewasa.

Sistem Pernapasan

Katak pohon bergaris bernapas melalui paru-paru dan kulit. Saat berada di darat, katak menggunakan paru-paru untuk bernapas, sedangkan saat di lingkungan lembab atau air, pertukaran oksigen juga terjadi melalui kulitnya yang tipis dan lembab. Sistem ini memungkinkan katak beradaptasi di dua habitat (air dan darat).

  1. IGUANA HIJAU ALBINO (Green Albino Iguana)

Sistem Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : reptilia

Ordo : Squamata

Famili :Iguanidae

Genus : Iguana

Species : Iguana iguana

Nama Latin/Ilmiah: Iguana

FAKTA UNIK

Memiliki ciri khas yaitu terdapat warna merah pekat pada area mata dengan kelopak mata. Berasal dari Negara Mexico, Paraguai, dan Brazil.

SISTEM REPRODUKSI

Bereproduksi dengan cara bertelur. Hewan ini dapat bertelur hingga 50-65 butir per tahunnya dan akan menetas 90-120 hari tergantung jenis dan kondisi induk. Masa inkubasi berlangsung selama 2-4 bulan. Iguana mencapai kematangan seksual sekitar umur 7 bulan.

SISTEM PERNAPASAN

Iguana merupakan hewan reptil yang menggunakan paru-paru sebagai organ utama dalam proses pernapasan, yaitu untuk mengambil oksigen dan melepaskan karbon dioksida. Pada green iguana, udara masuk melalui lubang hidung, kemudian melewati rongga hidung dan trakea sebelum akhirnya mencapai paru-paru sebagai tempat pertukaran gas. Iguana tidak memiliki diafragma, sehingga proses pernapasan dibantu oleh gerakan otot antar tulang rusuk (otot interkostal) yang mengatur keluar masuknya udara. Paru-parunya memiliki struktur berongga yang cukup luas sehingga penyerapan oksigen berlangsung efisien. Sistem ini merupakan bentuk adaptasi iguana sebagai hewan darat yang hidup di lingkungan kering dan hangat.

CARA HIDUP/HABITAT

Iguana, seperti green iguana, merupakan hewan yang aktif pada siang hari (diurnal). Pada pagi hingga siang hari, iguana sering berjemur di bawah sinar matahari untuk menghangatkan tubuh, kemudian mencari makan berupa daun, buah, dan bunga. Iguana umumnya hidup menyendiri, tetapi dapat ditemukan di area yang sama dengan individu lain.

Iguana hidup di berbagai habitat tropis, seperti hutan, hutan hujan, kebun, serta daerah dekat perairan seperti sungai, danau, dan rawa. Mereka termasuk hewan arboreal yang sering berada di atas pohon, namun juga pandai berenang. Untuk melindungi diri dari predator, iguana biasanya bersembunyi di antara pepohonan atau melarikan diri ke air. Adaptasi ini membantu iguana bertahan di lingkungan yang hangat dan lembab.

  1. BELUK JAMPUK (Bubo sumatranus)

merupakan salah satu jenis burung hantu dari famili Strigidae.

Sistem Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Aves

Ordo : Strigiformes

Famili : Strigidae

Genus : Bubo

Spesies : Bubo sumatranus

Fakta Unik

Beluk jampuk merupakan hewan nokturnal yang aktif berburu pada malam hari. Dalam menjalankan aktivitasnya di kegelapan, hewan ini dibekali dengan penglihatan yang sangat tajam serta pendengaran yang sensitif sehingga mampu mendeteksi keberadaan mangsa dengan akurat. Ciri khas lainnya terlihat pada warna iris matanya yang cenderung cokelat tua hingga tampak hitam secara keseluruhan. Dengan berbagai kemampuan tersebut, beluk jampuk dikenal sebagai predator yang andal di habitat alaminya.

Sistem Reproduksi

Beluk jampuk berkembang biak dengan cara bertelur (ovipar) dan umumnya hanya menghasilkan satu butir telur dalam setiap periode reproduksi. Musim kawin hewan ini biasanya berlangsung sekitar bulan Februari hingga April, meskipun di beberapa daerah dapat terjadi hingga bulan Juni. Setelah telur dikeluarkan, proses inkubasi berlangsung selama kurang lebih 25–27 hari hingga akhirnya menetas.

Sistem Pernapasan

Sebagai burung yang termasuk dalam kelas Aves, beluk jampuk bernapas menggunakan paru-paru yang dilengkapi dengan kantung udara. Sistem pernapasan ini memungkinkan aliran oksigen berlangsung lebih efisien, sehingga mendukung aktivitas terbang sekaligus membantu menjaga stamina saat berburu di malam hari.

Cara Hidup / Habitat

Beluk jampuk hidup di kawasan hutan hujan tropis dan daerah yang berpohon lebat dengan persebaran di wilayah Asia Tenggara, seperti Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Myanmar, dan Thailand. Habitatnya cukup beragam, mulai dari hutan tropis, perkebunan, taman kota, hingga area yang dekat dengan pemukiman manusia. Pada siang hari, beluk jampuk biasanya beristirahat di pepohonan rindang, sedangkan pada malam hari aktif berburu mangsa. Makanannya meliputi mamalia kecil, reptil kecil, burung kecil, dan ikan. Lingkungan yang lebat sangat mendukung kehidupannya karena berfungsi sebagai tempat berlindung sekaligus mempermudah proses berburu.

  1. SIAMANG (Symphalangus syndactylus)

Klasifikasi Ilmiah:

Kingdom: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Mammalia

Ordo: Primates

Famili: Hylobatidae

Genus: Symphalangus

Spesies: Symphalangus syndactylus

Fakta Unik

Siamang merupakan jenis owa terbesar di dunia dengan bulu berwarna paling gelap (hitam pekat) dibandingkan jenis owa lainnya. Siamang memiliki kantung gular (kantung tenggorokan) yang dapat mengembang sebesar kepalanya sendiri, berfungsi sebagai resonator suara sehingga suaranya dapat terdengar hingga beberapa kilometer. Selain itu, jari ke-2 dan ke-3 pada kakinya dihubungkan oleh selaput kulit (syndactyly), itulah asal usul nama ilmiahnya syndactylus yang berarti "dengan jari". Siamang juga sangat teritorial dan menandai wilayah jelajahnya dengan mengeluarkan vokalisasi yang nyaring setiap pagi. Uniknya, siamang dikenal sebagai primata yang tidak menyukai air.

Sistem Pernapasan:

Siamang bernapas menggunakan paru-paru yang sangat berkembang, sebagaimana mamalia pada umumnya. Sistem pernapasannya terdiri dari hidung, tenggorokan, bronkus, dan paru-paru. Yang unik pada siamang adalah adanya kantung tenggorokan (gular sac) yang dapat mengembang seperti balon untuk memperkuat dan memperluas jangkauan suara vokalisasinya. Kantung ini bukan untuk bernapas, tetapi merupakan adaptasi khusus untuk komunikasi sosial dan menandai wilayah.

Sistem Reproduksi:

Siamang berkembang biak secara vivipar (melahirkan). Masa bunting berlangsung sekitar 7 bulan. Betina biasanya melahirkan 1 ekor anak setiap 2–3 tahun sekali. Bayi siamang disapih pada usia 18–24 bulan. Siamang dapat hidup hingga 44 tahun. Beratnya 10–12 kg dengan panjang tubuh 71–90 cm. Habitatnya adalah hutan dan bukit, dan makanannya terdiri dari daun, buah, serangga, dan telur burung. Status konservasinya adalah Terancam (Endangered) berdasarkan IUCN.

Cara Hidup / Habitat

Siamang mendiami hutan hujan tropis dan hutan pegunungan di Asia Tenggara, meliputi Indonesia (khususnya Pulau Sumatera), Semenanjung Malaysia, dan sebagian kecil Thailand selatan. Siamang dapat ditemukan pada ketinggian hingga 3.800 meter di atas permukaan laut. Primata ini merupakan hewan arboreal sejati yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di atas pohon dan bergerak dengan cara brakiasi (berayun menggunakan tangan dari dahan ke dahan) berkat lengannya yang sangat panjang.

Siamang hidup dalam kelompok keluarga kecil yang terdiri dari sepasang induk beserta 1–4 anaknya. Mereka bersifat monogami dan setia pada satu pasangan sepanjang hidup. Wilayah jelajahnya berkisar antara 37–116 hektare dan dipertahankan dengan cara bersuara keras setiap pagi. Siamang beristirahat dan tidur di bagian tertinggi pohon untuk menghindari predator. Status konservasinya termasuk kategori Terancam (Endangered/EN) menurut IUCN dan dilindungi oleh Permen LHK No. 106 Tahun 2018 serta CITES Apendix I.