Studium Generale “Implemetasi Kurikulum Merdeka” Prodi PGMI FITK UIN Sunan Kalijaga

Pada Senin, 26 September 2022 Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Sunan Kalijaga telah menyelenggarakan Studium General mengenai implementasi kurikulum merdeka dengan tema “Membangun Profesionalisme Calon Pendidik ditingkat MI/SD dengan Penerapan IKM”. Acara tersebut dilaksanakan di gedung Convention Hall (CH) lantai 2 UIN Sunan Kalijaga dan dihadiri oleh para mahasiswa prodi PGMI UIN Sunan Kalijaga terkhusus angkatan 2020 dan beberapa bapak ibu dosen PGMI UIN Sunan Kalijaga. Pada acara Studium General kali ini dibersamai oleh narasumber yang merupakan alumni PGMI UIN Sunan Kalijaga angkatan pertama dan sekaligus sebagai kepala SD Muhammadiyah Al Mujahidin Gunung Kidul yang merupakan sekolah penggerak angkatan 1 pada tahun 2021, beliau adalah Bapak Joko Kiswanto, S.Pd.I., Gr., M.Pd. Acara studium general ini juga diikuti dengan pembekalan Microteaching dan pembekalan Praktik Kerja Lapanga (PKL) bagi mahasiswa prodi PGMI angkatan 2020.
Dalam studium general tersebut bapak Joko Kiswanto menyampaikan beberapa pengertian mengenai implementasi kurikulum merdeka. Pertama-tama beliau menyempaikan arti “merdeka” itu sendiri yaitu kebebasan, makna dari kurikulum merdeka ialah dalam sebuah sistem kurikulum pendidikan hendaknya tidak kaku, mengekang, monoton, dan kurang berpihak kepada kebutuhan setiap peserta didik, didalam kurikulum hendaknya “menghamba kepada murid” dalam arti segala daya, upaya, dan biaya yang dikerahkan untuk pelaksanaan pembelajaran haruslah memenuhi kebutuhan dan karakteristik setiap siswa secara individual, hal ini dikaran setiap siswa memiliki kondisi, karakteristik, dan kebutuhan yang berbeda-beda maka dari itu dalam pelaksanaan pembelajaran harus dapat memfasilitasi kebutuhan setiap peserta didik baik dari segi model pembelajaran, konten, dan praktiknya. Berdasarkan hal tersebut didalam kurikulum merdeka diterapkan assesment awal (diagnostik) menggunakan analisis SWOT sebelum pembelajaran dimulai, hal ini diperlukan untuk mengetahui kondisi awal siswa, karakteristik, kebutuhan yang perlu untuk ia pelajari. Setelah mengetahui hasil assesment awal kemudian diterapkan pembelajaran berdifferensiasi, hal ini diperlukan untuk mengelompokkan peserta didik sesuai dengan tingkat kebutuhan, kondisi, dan karakteristik berdasarkan dari hasil assesment awal/diagnostik. Sistem differensiasi ini diperlukan untuk menentukan perlakuan atau treatment apa yang harus digunakan guru untuk memfasilitasi belajar setiap peserta didik dan secara garis besar dibagi dalam beberapa kelompok differensiasi tersebut. Aspek differensiasi ini meliputi proses, gaya belajar, produk, dan juga konten pembelajaran.
Di dalam sistem kurikulum merdeka ini kelas bawah dan kelas atas telah diganti dengan istilah fase dan fase ini digunakan untuk menentukan capaian pembelajaran berdasarkan karakteristik perkembangan belajar dari usia masing-masing fase tersebut. Dalam jenjang pendidikan dasar dan menengah ada sejumlah 6 fase capaian pembelajaran meliputi SD, SMP, SMA/SMK. Pada jenjang SD terdapat 3 fase capaian pembelajaran yaitu fase A (kelas I-II), fase B (kelas III-IV), fase C (kelas V-VI). Dalam setiap fase seorang anak difasilitasi untuk menguasai hasil dari belajar mereka guna mencapai tujuan pembelajaran dari setiap capaian pembelajaran yang diinginkan. Maka dari itu ketika melakukan assesment dalam pembelajaran dan jika seorang anak belum menguasai kompetensi yang diinginkan maka dilakukan remidial hingga siswa tersebut dapat menguasai kompetensi yang diharapkan. Hal ini supaya peserta didik tidak mengalami ketertinggalan dan dapat mengoptimalkan proses serta hasil yang diharapkan dari setiap fase capaian pembelajaran.
Beliau juga memberikan contoh gambaran pelaksanaan Kurikulum Merdeka di sekolah dimana beliau bertugas yang merupakan sekolah penggerak angkatan I pada tahun 2021 yaitu SD Muhammadiyah Al Mujahidin Gunung Kidul. Beberapa diantaranya yaitu pembelajaran kurikulum merdeka menggunakan pendekatan mata pelajaran, kurikulum yang digunakan ada 2 yaitu Kurikulum 2013 pada kelas 3 dan 6 dan Kurikulum Merdeka pada kelas 1,2,4,5, dan 6. Kemudian alur sistem pembelajaran yaitu mulai dari penyusunan konsep, penyusunan Tujuan Pembelajaran (TP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), penyusunan modul ajar/rencana pembelajaran, kemudian projek profil. Kemudian assesment yang digunakan yaitu assesment awal, assesment formatif, assesment sumatif akhir tema/topik (ASAT), assesment sumatif akhir semester (ASAS), assesment sumatif akhir fase (ASAF). Untuk assesment awal SD Muhammadiyah Al Mujahidin menerapkan model Daily Feeling Chart yaitu sebelum memasuki kelas siswa diminta untuk memilih ekspresi wajah (emoticon) yang sudah disediakan di depan kelas untuk menggambarkan kondisi hatinya pada hari itu, sehingga sebelum pembelajaran dimulai guru dapat memastikan kesiapan belajar dengan melihat kondisi hati atau mood dari setiap peserta didik. Ketika terdapat peserta didik memilih emoticon berwajah murung, marah, kesal, maka guru dapat mengkondisikan peserta didik tersebut supaya kembali ceria, senang, bahagia, dan siap untuk belajar di kelas.
Setelah pemaparan materi mengenai kurikulum merdeka oleh bapak Joko Kiswanto, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan mahasiswa yang sudah hadir. Banyak dari mahasiswa yang menyampaikan segala pertanyaannya mengenai implementasi kurikulum merdeka dari berbagai aspek. Tidak kalah antusias juga para dosen yang ikut hadir dalam acara tersebut juga menyampaikan beberapa pertanyaan menarik. Kemudian diakhir sesi acara studium general ini dilanjutkan dengan pembekalan microteaching dan pembekalan Praktik Kerja Lapangan (PKL) bagi mahasiswa prodi PGMI angkatan 2020. Seluruh rangkaian acara ini guna membekali para mahasiswa calon pendidik profesional untuk selalu mengembangkan diri dan mengupgrade diri untuk memahami dan mempelajari berbagai problematika dunia pendidikan terkhusus jenjang pendidikan dasar.(Nuranisa Nada)