DISKUSI BERSAMA DENGAN MI SULTAN AGUNG MEMPRAKTIKAN PBL

Bertempat di Madrasah Ibtidaiyah Sultan Agung yang berlokasi di Jalan Kaliurang km.7 Babadan Baru Condong Catur Depok Sleman Yogyakarta, Ibu Fitri Yuliawati Bersama dengan bapak ibu guru melaksanakan workshop terkait PBL. Problem Based Learning adalah salah satu model pembelajaran yang dianjurkan dalam implementasi kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka Belajar dan sesuai tuntunan abad 21.
Model PBL menyuguhkan situasi atau berbagai masalah otentik yang mendorong siswa untuk melakukan investigasi dan penyelidikan. Model ini mendeskripsikan pembelajaran berbasis masalah tersebut sebagai pembelajaran yang dirancang berdasarkan masalah riil kehidupan yang bersifat tidak tentu, terbuka, dan mendua. Model pembelajaran ini dilandasi oleh teori konstruktivistik yang mengakomodasi keterlibatan siswa dalam belajar dan pemecahan masalah otentik. Model Kurikulum yang digunakan dalam PBL adalah model rekonstruksi sosial, dimana Konsep rekonstruksi sosial sangat besar peranannya dalam menghadapi kenyataan hidup di masyarakat. Di dalamnya termasuk bagaimana cara memecahkan problema-problema yang dihadapinya dalam masyarakat, menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik.
Menurut Narasumber bagaimana penerapan PBL dalam pembelajaran di MI selama ini, belum berjalan dengan baik, Karena:
- proses pembelajaran yang menggunakan masalah-masalah riil dalam kehidupan nyata (otentik), bersifat tidak tentu, terbuka dan mendua untuk merangsang dan menantang siswa berpikir kritis untuk memecahkannya
- Dalam pemecahan masalah tersebut, siswa menggunakan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan untuk melakukan konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada. Pada kenyataannya dari 9 macam kecerdasan menurut Horward Gardner, atau disebut juga kecerdasan majemuk (multiple intelligences), seperti kecerdasan musikal, naturalis, linguistik, interpersonal, intrapersonal, visual spasial, logika matematika, kinestetik, dan moral di kelas cenderung kecerdasan linguistic dan logika matematika saja yang dipergunakan.
- pada saat menggunakan PBL seharusnya pembelajaran terfokus pada keterkaitan antar disiplin ilmu. Jadi dalam menyelesaikan masalah tidak bisa kita terpatok pada satu disiplin ilmu. Maka pembelajaran yang terjadi pastinya adalah pembelajaran terpadu. Guru jika menerapkan PBL bisa memilih 10 model pembelajaran terpadu menurut fogarty, seperti: Model antar bidang studi (sequenced, shared, webbed, threaded, integrated). Nah pengalaman pada kurikulum 2013 ketika guru diterapkan pembelajaran terpadu tipe webbed, integrated dan connected guru sangat kesulitan sehingga memilih Kembali menggunakan model pembelajaran parsial (berbasis maple).
- Pada saat guru menggunakan PBL maka siswa menghasilkan produk berupa karya nyata seperti laporan. Nah untuk instrumen penilaian yang digunakan guru belum menunjukkan penilaian yang otentik. Belum terbiasa menggunakan rubrik dengan sistem penskoran yang jelas untuk hasil siswa yang berupa produk.
- Problem Based Learning menggunakan prinsip kerjasama, atau siswa bekerjasama dalam kelompok. Kecenderungan untuk melakukan pembelajaran kooperatif juga tidak banyak digunakan oleh guru. Sistem kompetitif dan pembelajaran individual masih mendominasi karena hasil pembelajaran lebih condong kepada kemampuan kognitif daripada afektif dan psikomotorik.
Semoga dengan workshop kolaborasi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan MI Sultan Agung akan membawa pencerahan. Bapak Ibu Guru sebagai praktisi di lapangan semakin termotivasi untuk bisa menerapan model PBL dalam Pembelajaran. (V3)