DOSEN PGMI MENGIKUTI KEGIATAN PELOPOR MODERASI AGAMA

Yogyakarta, 9-13 Desember 2022, Ditjen pendis bekerjasama dengan LPDP Kemenkue dan UIN Sunan Kalijaga melaksanakan Orientasi pelopor moderasi beragama bagi dosen perguruan tinggi keagamaan islam negeri. Kegiatan pembentukan pelopor Moderasi Beragama di kalangan dosen PTKIN diikuti sejumlah 42 dosen. Peserta terdiri dari 25 dosen UIN Sunan Kalijaga dan 17 dosen dari luar. Kegiatan ini dilaksanakan di hotel Aveon Yogyakarta. Kuota ini dibuka untuk 500 dosen yang akan disebar di beberapa PTKIN.
Panitia pelopor moderasi beragama melaporkan pelaksanaan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dosen dalam moderasi beragama. Harapan dari 5 hari ini tidak hanya untuk meningkatkan moderasi di kalangan akademisi tetapi di masyarakat dalam bidang pemahan moderasi beragama. Sementara ini masing-masing peserta mengikuti dengan beberpaa tahap. Orientasi ini di isi oleh pemateri yang ekpert dalam bidang moderasi.
Prodi PGMI UIN Sunan Kalijaga menjadi salah satu peserta yang mengikuti orientasi ini. Ada ibu kaprodi, Dr.Maemunah,M.Ag, Eko Suhendro,M.Pd dan Alfian Eko W.A.P. Ketiga dosen PGMI dapat mengikuti orientasi ini dengan memenuhi beberapa persyaratan seleksi dalam bidang moderasi beragama. Rektor UIN Sunan Kalijaga dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini berkaitan dengan salah satu tujuan Menteri Agama Republik Indonesia, yaitu tentang penguatan moderasi beragama disamping ada program prioritas ada juga pembentukan pelopor yang nantinya dapat menjadi agen moderasi di masyarakat.
Selanjutnya materi yang diberikan oleh Wakil Rektor 3 berkaitan dengan penjelasan “Kegiatan PMB sangat penting untuk diberikan kepada pelopor moderasi Agama karena pelopor merupakan ujung tombak dan garda depan pengawasan moderasi.
Penerapan moderasi beragama yang dapat di ambil dari prodi PGMI adalah dengan memberikan pengarahan,pengenalan, tentang pentingnya moderasi Agama. Peran yang dibarapakn kepada mahasiswa adalah untuk tidak provokatif ,untuk tidak mendekati ektrimisme ,hingga tidak menjadi sumber perpecahan di masyarakat. kemudiandalam menghadapi masyarakat majemuk kita harus mengutamakan humanisme, pendekatan yang berbudaha dan mengedepankan tasamuh dan toleran.
Peserta orientasi pelopor moderasi agama begitu semangat dalam mengikuti kegiatan ini sehingga tampak substansi materi,dan perencaaan dalam membuat startegi moderasi beragama bisa dipahami oleh semua elemen.