Mahasiswa PGMI menjadi Grand Finalis TOP 5 Pemilihan Duta Santri Nasional 2023

Perkenalkan, saya Aliya Hidayatika asal Klaten dan saya lahir di Yogyakarta 21 Desember 2001. Saya mahasiswa program studi PGMI angkatan 2020 dan juga santri dari Pondok Pesantren Fadlun Minalloh, Bantul, Yogyakarta. Saya ingin berbagi pengalaman perjalanan saya menjadi grand finalis TOP 5 Duta Santri Nasional 2023 yang diadakan di Surabaya pada tanggal 17-24 Oktober 2023 lalu.

Sebelum lanjut untuk bercerita, sebelumnya apa sih duta santri itu? Perlu diketahui bahwa duta santri nasional adalah wadah para pemuda yang berasal dari pesantren di seluruh Indonesia yang siap untuk bersinergi terhadap negeri sesuai dengan bidang masing masing. Pada pemilihan duta santri nasional 2023 ini, terdapat 10 bidang yang ditawarkan untuk calon peserta, yaitu bidang pendidikan dan agama, sains dan teknologi, sosial dan kemasyaratakan, politik dan hukum, energi dan lingkungan, kesehatan dan olahraga, ekonomi dan kewirausahaan, diaspora, budaya dan pariwisata,serta multimedia. Pemilihan duta santri nasional ini telah diadakan 3 kali sejak 2016 dan pada tahun 2023 ini memasuki pemilihan ke-empat yang diadakan setiap 2 tahun sekali. Ajang pemilihan duta santri nasional ini juga untuk memperingati Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober di tiap tahunnya.

Pada saat flyer pengumuman pendaftaran pemilihan duta santri nasional beredar pada bulan Januari 2023, saya sempat tertarik ingin mengikuti ajang tersebut, namun saya kurang percaya diri dan takut untuk mengikuti ajang ini karena pemilihan duta ini pasti identik dengan “Show up” atau memperlihatkan diri di hadapan orang banyak dan saya juga takut tidak mendapat dukungan dari pihak manapun untuk mengikuti ajang ini. Namun, karena saya teringat pepatah dari Kyai saya, Romo Kyai Muhammad Katib Masyhudi pernah berkata “Ketika kita sudah berusaha melakukan sesuatu dan ternyata jalannya dimudahkan, berarti sudah menjadi takdir kita”. Pada saat itu juga saya mulai memberanikan diri untuk mengikuti ajang tersebut dengan niat untuk syiar pesantren dan ingin membawa nama baik pesantren di kancah nasional. Saat itu juga saya mengisi data diri pemilihan duta santri di website yang sudah disediakan,saya mendaftarkan diri secara diam-dam tanpa ada yang tahu seorangpun. Setelah mengisi data diri, sayapun mendapat kiriman dari email dutasantri untuk mengikuti challenge selanjutnya, yakni memposting tentang kepesantrenan di instagram. Setelah mengikuti tahap pendaftaran, muncul pengumuman di snapgram bahwa pemilihan Duta Santri Nasional 2023 ini diikuti oleh kurang lebih 6431 santri dari seluruh Indonesia. Melihat pengumuman itu saya semakin kurang percaya diri untuk lanjut ke tahap selanjutnya, karena ada ribuan santri yang menjadi lawan diajang ini. Setelah kurang lebih 2 bulan berlalu, muncullah pengumaman peserta yang lolos ke tahap pemberkasan, dan tidak disangka juga, saya lolos ke tahap pemberkasan. Di tahap pemberkasan ini, ada beberapa syarat pemberkasan yang harus diupload, seperti motivation letter, essay, curiculum vitae, dll. Tidak hanya itu, peserta juga diberi challenge untuk membuat video 1 kurang lebih 1 menit tentang perkenalan diri dan aktivitas di pesantren. Kebetulan pada tahap ini saya sedang menjalankan KKN, sehingga saya harus bisa membagi waktu untuk mempersiapkan semuanya.

Setelah tahap pemberkasan, pada sekitar bulan Agustus 2023 diumukan tahap peserta yang lolos menuju tahap wawancara. Tak disangka lagi, saya berhasil lolos di tahap wawancara ini, dan saya masih menjalankan KKN di Gunung Kidul, sehingga pada saat melaksanakan tahap wawancara ini saya harus izin untuk tidak mengikuti beberapa kegiatan KKN. Pada tahap wawancara ini peserta diuji tentang wawasan kebangsaan, kepesantrenan, dan bahasa asing. Pada wawasan kebangsaan ini kita diuji sejauh mana kita memiliki wawasan kebangsaan terlebih di Indonesia dan ditanya terkait permasalahan yang uptodate sesuai dengan bidang masing-masing, karena saya pada awalnya memilih bidang pendidikan dan agama, saya juga ditanya terkait ushul fiqh,sedangkan tentang kepesantrenan kita diuji untuk membaca kitab kuning dan hafalan Al-Qur’an, namun ini bersifat fleksibel tergantung pesantren masing-masing, apakah pesantren tersebut merupakan pesantren salaf atau tahfidz. Dan wawancara bahasa asing ini kita diuji untuk berbicara menggunakan bahasa asing, pada tahap ini saya memilih untuk speaking in english.

Setelah melalui tahap wawancara ini, saya membaca pengumuman bahwa akan ada sekitar 120 peserta yang bisa lolos ke tahap selanjutnya. Saya setengah yakin untuk bisa lolos ke tahap selanjutnya, saya masih teringat pepatah dari Kyai saya, sehingga membuat saya untuk tidak menyerah. Setelah KKN selesai, pada saat itu juga pengumuman lolos tahap wawancara diumumkan. Dan lagi, saya lolos pada tahap ini untuk menuju ke tahap Bootcamp dengan tambahan informasi bahwa saya dipindahkan dari bidang pendidikan dan agama menjadi bidang sains dan teknologi. Bidang yang kita pilih ini akan sangat berpengaruh untuk tahap selanjutnya, sehingga ada rasa takut dan tantangan tersendiri bagi saya karena saya pindah bidang yang sudah lama tidak saya geluti. Pada tahap Bootcamp ini peserta mengikuti webinar umum dan webinar sesuai bidang masing-masing. Bootcamp ini dilaksanakan kurang lebih 3 hari dan diberi waktu satu minggu untuk membuat proposal program kerja sesuai bidang. Menurut informasi yang beredar, pada tahap bootcamp ini akan dipilih kurang lebih 80 peserta yang akan melanjutkan tahap pitching. Pada tahap ini, saya mulai membangun rasa percaya diri bahwa saya yakin pasti bisa. Saat diumukan peserta yang lolos bootcamp, saya membaca pengumuman bahwa saya lolos ke tahap selanjutnya. Tinggal selangkah lagi menuju tahap final duta santri nasional, saya mencoba untuk melakukan yang terbaik di tahap pitching ini, saya berlatih presentasi dengan tepat waktu dan juga bisa ringkas dalam penyampaian program kerja. Sampai tahap ini, saya masih belum memberitahu siapapun, karena saya berniat untuk memberi tahu ketika saya memang ditakdirkan lolos ke tahap selanjutnya. Di hari-hari penantian pengumuman final, saya sering melihat timeline duta santri di website. Di dalam hati , saya bergumam ternyata sudah sejauh ini perjalanan saya dalam mengikuti ajang ini hingga ke tahap pitching, dan di timeline terakhir, tahap final tertulis tempat pelaksanaan final diadakan di Surabaya. Saya semakin membayangkan jika saya benar-benar lolos, saya pasti akan mendapatkan banyak pengalaman di Surabaya nanti. Pada awal bulan Oktober, tibalah waktu pengumuman yang ditunggu-tunggu dan alhasil, saya berhasil lolos menuju tahap final duta santri nasional 2023. Saya membaca pengumuman sambil terharu, dari ribuan santri yang mendaftar, saya diberi kesempatan dan diizinkan Allah untuk mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta dan menjadi bagian dari 48 finalis dari seluruh Indonesia yang lolos lanjut ke tahap karantina dan final di Surabaya. Di sini saya juga sedikit bimbang, karena kebetulan beberapa hari lalu saya mengikuti lomba MQKP (Musabaqoh Qira’atul Kutub Pegon) atau membaca kitab kuning cabang Nahwu sekabupaten Bantul dan saya menjadi juara 1, sehingga berkesempatan untuk melanjutkan ke tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun, jadwal final lomba MQK ini bertabrakan dengan final duta santri nasional di Surabaya. Setelah saya pertimbangkan, sayapun memilih untuk melanjutkan final duta santri nasional dan memilih untuk tidak mengikuti final MQK
di provinsi tersebut. Disaat itu juga, beberapa teman di prodi saya sudah melakukan seminar proposal skripsi, sehingga membuat saya tambah insecure, karena pada awalnya saya juga mempunyai rencana seminar proposal skripsi di awal bulan Oktober. Namun, saya tetap yakin bahwa kesempatan saya bisa lolos final duta santri nasional ini akan membawa pengalaman bersejarah bagi saya. Selanjutnya, saya pun mempersiapkan keperluan menuju Surabaya untuk melakukan tahap karantina, seperti persiapan fisik, mental dan juga material. Tidak lupa saya meminta doa, dukungan dan restu kepada keluarga besar Prodi PGMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tercinta.

Tanggal 17 Oktober pun sudah tiba, saya berangkat dari Klaten menaiki kereta api kurang lebih 5 jam hingga sampai di Surabaya. Tempat karantina tahun ini di Balai Diklat Keagamaan Surabaya, berbeda di tahun sebelumnya, biasanya karantina duta santri bertempat di Yogyakarta. Setelah melakukan registrasi ulang, saya memasuki kamar sesuai nomor kunci yang telah dibagikan. Di setiap kamar disediakan 3 buah kasur, sehingga setiap kamar di huni 3 finalis. Di hari pertama ini kami perkenalan diri, lalu istirahat dan dinner, dilanjutkan dengan pembukaan karantina. Di pembukaan karantina ini setiap finalis menerima selempang duta santri nasional dan tercantum daerah masing-masing yang diwakili, dan saya menerima selempang yang tertulis Daerah Istimewa Yogyakarta. Lalu, dilanjutkan sesi foto bersama.

Di hari kedua, finalis putri menggunakan dresscode batik, sedangkan putra menggunakan kemeja hitam. Di hari pertama ini kami melakukan FGD ( focus grup discussion) dengan tema yang sudah ditentukan dan dibentuk berkelompok. Kami diberi waktu hanya 3 menit untuk dipresentasikan ke teman lainnya. Di sini terlihatlah value kita masing-masing ketika berbicara di depan umum. Dengan melihat finalis lainnya, saya merasa literasi saya sangatlah kurang, bagaimana tidak, lawan finalis ini adalah lulusan S1, ada yang sedang menempuh S2, dan juga para penulis yang telah menerbitkan buku. Namun, disini saya juga belajar banyak hal, salah satunya untuk meningkatkan literasi saya sendiri. Setelah FGD selesai dilanjutkan coffee break. Selanjutnya, finalis diberi pembekalan materi Kewarganegaraan, kepesantrenan, dan moderasi beragama. Pemateri-pemateri pada ajang ini sangat luar biasanya, salah satunya dihadiri oleh ketua RMI PBNU Nasional. Setelah itu kami berganti dresscode one set, dan berlatih catwalk untuk persiapan menuju panggung final. Catwalk ini adalah pertamakalinya saya ikuti, berlatih bagaimana menjadi modelling tanpa meninggalkan syariat Islam. Kami diajarkan berjalan, sikap on point, dan berpose. Ini bukan hal yang mudah bagi kami terlebih santri yang belum pernah terjun di dunia modelling, bahkan kami setiap hari harus menggunakan highheels hitam minimal tinggi hak 5 cm, harus terbiasa menahan pegalnya memakai heel bagi finalis putri. Lalu, pada malam harinya, dilanjutkan penampilan unjuk bakat. Saya membawakan tari Luyung (Lurik Payung) tari kebanggaan kreasi baru asal Klaten, daerah asal saya dengan menggunakan kostum lurik (produksi dari Klaten) dan properti payung (produksi dari Juwiring,Klaten), sedangkan peserta lainnya ada yang membawakan tari asal Papua, ada yang berpuisi, dll. Di hari ketiga, hari terakhir karantina, kami menggunakan dresscode gamis hitam dengan kerudung motif bagi santri putri, sedangkan santri putra mengenakan kemeja hitam. Di hari ketiga ini kami mendapatkan materi public speaking dan leadership and influence. Setelah itu kami mendapatkan materi beauty class dari Mustika Ratu yang biasanya juga mensponsori Pemilihan Putri Indonesia. Kami diberi sample make up dan cermin yang kemudian kita gunakan untuk berlatih make up. Kemudian kami lanjut untuk berlatih catwalk lagi, dan dilanjut menuju ke venue final yakni auditorium UNUSA (Universitas Nahdhatul Ulama Surabaya). Kami latihan catwalk di panggung auditorium yang sangat berbeda koreografinya dengan latihan sebelumnya. Kami latihan sampai pukul 8 malam, lalu kembali ke Balai Diklat untuk fitting baju final. Setiap peserta sudah mendapatkan designer masing-masing sejak pengumuman finalis diumumkan, yang mana para designer ini adalah peserta lomba halal fashion, sehingga mereka berlomba menjadi designer terbaik untuk merancang baju yang nantinya akan dipakai oleh finalis duta santri di panggung final. Saya mendapatkan designer asal Gunung Kidul dari Elfata Fashion. Saya menggunakan baju berjubah dengan bahan kain lurik khas Gunung Kidul yang dilukis dan menggambarkan suasana desa di Gunung Kidul. Saya juga memakai mahkota, karena designer ini ingin mengekspresikan seorang Dewi Pulutan yang mana Pulutan adalah salah satu desa dari Gunung Kidul yang tergambar melalui design bajunya ini. Saya sangat senang sekali bisa memakai baju jubah yang menurut saya sangat indah.

Di hari final sekaligus Grand Final ini, kami di make up oleh tim dari Mustika Ratu. Lalu, kami menuju panggung final sekaligus grand final. Di tahap final ini, kami semua memperkenalkan diri satu persatu di panggung, lalu memperagakan baju dari designer masing-masing. Setelah itu, kami diminta untuk maju satu-persatu dan menjawab pertanyaan dari dewan juri seputar bidang masing-masing. Di tahap ini kami hanya diberi kesempatan menjawab satu menit saja untuk menjawab pertanyaan dan tidak diperlihatkan timer nya. Namun, saya mencoba untuk menjawab dengan tenang dan hati-hati. Sangat diuji sekali tingkat kemampuan berbicara dan berpikir kita ketika diberi pertanyaan oleh dewan juri. Setelah 48 finalis maju untuk menjawab pertanyaan, tibalah saatnya pengumuman 10 peserta terbaik yang akan melanjutkan tahap grandfinal, diantaranya 5 besar putra dan 5 besar putri. Ketika pengumuman 5 besar atau TOP 5 putri, saya sangat terkejut, nama saya disebut pertamakali sebagai grand finalis TOP 5 dan melanjutkan tahap Grand Final. Di sini saya sedikit grogi dalam menjawab pertanyaan, sehingga saya merasa sedikit kurang percaya diri dalam menjawab pertanyaan. Setelah semua grand finalis maju ketahap grand final, kami semua menunggu di backstage untuk menuju pengumuman kejuaraan. Inilah yang ditunggu-tunggu, siapa yang akan menjadi pemenang Duta Santri Nasional 2023. Kejuaraan Duta Santri Nasional ini dibagi menjadi 3 kategori, yakni juara umum, runner up, dan juara atribut. Juara atribut ini dibagi lagi menjadi best performance, Juara persahabatan, dan juara favorit. Setelah seluruh juara atribut disebutkan, nama saya belum disebut oleh MC. Namun, saya tetap tenang, saya yakin seluruh perjuangan saya dan apapun hasilnya adalah yang terbaik. Setelah disebutkan juara runner up, nama saya juga belum disebut oleh MC, lalu dilanjut juara umum duta santri nasional, saya pun juga belum beruntung, nama saya tidak disebut juga. Setelah pengumuman selesai dan MC menutup acara setelah pembagian hadiah kejuaraan, kami semua para finalis saling berpelukan di panggung final, kami semua menangis. Kami menangis bukan karena kami kalah, bukan karena kami gagal. Bukan juaralah yang kami nomorsatukan dan tidak akan sangat disesali ketika tidak mendapatkannya. Tetapi kami menangis, karena kami sangat bersyukur bisa sampai di titik ini, di tahap final mengalahkan ribuan santri di Indonesia dan mendapatkan pengalaman luar biasa dan mendapatkan relasi dari ujung timur Aceh hingga ujung barat Papua yang tidak bisa ditukar dengan uang. Perjalanan kami begitu panjang dari Bulan Januari sampai puncaknya acara di bulan Oktober. Tidak mudah bagi kami bisa sampai di tahap ini, terlebih kami seorang santri, yang biasanya dianggap kuno atau tertinggal zaman, tidak. Kami adalah santri calon penerus bangsa membersamai masyarakat di Indonesia dan berkontribusi untuk negeri. Kami 48 finalis duta santri nasional telah resmi menjadi Duta Santri Nasional 2023 yang siap mengabdi dan berkontribusi terhadap negri dengan masa khidmah 2023-2025 sesuai bidang kami masing-masing.

Sehari setelah Final dan Grand Final, kami menghadiri acara Live Streaming Fashion Sarung Nusantara di Gedung Nasional Grahadi Surabaya, yang aslinya dihadiri oleh presiden namun diwakili oleh pejabat negara lainnya dan kami para duta santri diminta untuk catwalk di panggung tersebut. Perasaan bangga dan haru sangat terasa disekujur tubuh kami ketika MC menyebutkan “ Inilah 48 Finalis Duta Santri Nasional 2023 dari Sabang sampai Merauke” lalu disambut dengan tepuk tangan yang sangat meriah dari para hadirin yang dihadiri oleh pejabat petinggi negeri. Dan pada malam itu sekaligus menjadi penutup acara Duta Santri Nasional 2023 yang bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2023. Saya sangat bersyukur lagi bisa merayakan hari santri nasional di Surabaya, momen yang sangat istimewa bagi saya.

Saya ucapkan terimakasih banyak kepada Kyai saya, K.H Muhammad Katib Masyhudi, Pengasuh Pondok Pesantren Fadlun Minalloh, Gus Ahmad Faiz Abiyoso, dan keluarga besar PP.Fadlun Minalloh atas doa dan dukungannya. Saya ucapkan terimakasih banyak pula kepada Keluarga Besar Prodi PGMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta atas dukungannya untuk membawa nama baik UIN Sunan Kalijaga terkhusus prodi PGMI. Saya ucapkan terimakasih banyak pula kedua orang tua saya, atas seluruh doa dan dukungannya, dan teman-teman yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Semoga cerita dan pengalaman saya bisa menginspirasi teman-teman lainnya dan menjadi pemicu untuk terus semangat belajar dan berkarya.

(Yogyakarta, 30 November 2023)