Model Direct Instruction (Instruksi Langsung) dalam Pembelajaran di Kelas
Perubahan kurikulum yang menempatkan peserta didik sebagai subjek yang aktif dalam belajar, menuntut guru memilih model pembelajaran yang tepat sesuai kompetensi dan karakteristik materi. Pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) khususnya di kelas V SD/MI, peserta didik diharapkan mampu mengamati fenomena secara sederhana dan memahami konsep ilmiah melalui pengalaman langsung. Untuk mencapai tujuan tersebut, salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah Direct Instruction (Instruksi Langsung). Model ini menekankan penyampaian materi secara eksplisit dan terstruktur melalui tahapan bertahap dari demonstrasi guru hingga praktik mandiri siswa.
Landasan Teoretis Direct Instruction
Model Direct Instruction dibangun dari gabungan beberapa teori belajar:
- Kognitivisme
Pemahaman siswa berkembang ketika guru mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki melalui urutan pembelajaran hierarkis dari konsep sederhana ke kompleks. - Konstruktivisme
Walaupun pembelajaran bersifat terstruktur, siswa tetap diberi ruang untuk mengkonstruksi pemahaman melalui latihan dan penerapan yang terkontrol. Guru memberi scaffolding saat diperlukan. - Behaviorisme (Skinner)
Perubahan perilaku tampak melalui latihan berulang, penguatan positif, serta koreksi kesalahan secara langsung sehingga respons akademik menjadi lebih tepat.
- Pembelajaran Sosial (Bandura)
Guru menjadi model dalam menyelesaikan tugas, memberi contoh, dan memotivasi siswa melalui pengamatan dan peniruan.
Sintesis keempat teori tersebut menegaskan bahwa Direct Instruction berorientasi pada penguasaan keterampilan yang dapat diamati melalui bimbingan intensif, umpan balik sistematis, dan latihan bertahap.
Tujuan Spesifik Model Pembelajaran Direct Instruction
Tujuan spesifik model ini di sekolah dasar mencakup:
- Penguasaan pengetahuan dan keterampilan akademik secara cepat dan tepat
- Ketepatan dalam menyelesaikan tugas akademik
- Efisiensi waktu belajar
- Meningkatkan kepercayaan diri melalui pengalaman keberhasilan belajar yang konsisten
Keberhasilan pembelajaran dinilai ketika siswa menunjukkan tingkat performa 80–90% dalam latihan.
Sintaks Pembelajaran Direct Instruction
Prosedur pembelajaran dirancang dalam lima tahapan utama yang saling berkesinambungan:
- Orientasi
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, kriteria keberhasilan, serta mengaitkan materi dengan pengalaman siswa. - Presentasi
Guru menjelaskan konsep baru dengan jelas, disertai demonstrasi atau contoh visual. Checking for understanding dilakukan untuk memastikan pemahaman. - Latihan Terstruktur
Guru memimpin latihan langkah demi langkah dan memberikan umpan balik langsung terhadap respon siswa.
- Latihan Terbimbing
Siswa mulai mengerjakan dengan kemandirian lebih tinggi, sementara guru tetap melakukan monitoring dan koreksi.
- Latihan Mandiri
Siswa berlatih tanpa bantuan guru setelah mencapai tingkat keberhasilan yang ditentukan. Tahap ini bertujuan memperkuat retensi dan kelancaran.
Manajemen Kelas dan Sistem Pendukung
Model ini memposisikan guru sebagai pemimpin kelas dengan kontrol yang tinggi pada alur pembelajaran. Interaksi bersifat instruksional dan berfokus pada ketuntasan tujuan belajar. Penguatan dilakukan cepat dan spesifik untuk menjaga motivasi siswa.
Sistem pendukung yang diperlukan meliputi:
- RPP berbasis sintaks Direct Instruction
- Media visual interaktif
- Lembar kerja latihan bertahap
- Instrumen evaluasi formatif dan sumatif
Dampak Instruksional dan Pengiring
Model Direct Instruction menghasilkan dua bentuk dampak pendidikan:
- Dampak Instruksional
- Peningkatan keterampilan dasar akademik
- Ketepatan hasil belajar
- Peningkatan kemampuan mengingat dan menerapkan prosedur secara benar
- Dampak Pengiring
- Motivasi belajar meningkat melalui pengalaman sukses
- Terbentuk disiplin belajar
- Meningkatkan self-esteem siswa
Implementasi dalam Pembelajaran IPAS: Rangkaian Listrik Seri & Paralel
Modul ajar yang dirancang oleh Kelompok 8, beranggotakan - Faishal Ashar Naim, - Diah Utik, - Rusthalia Arba Annisa, - Rahmayesa, - Laura Nurrahmawati menunjukkan penerapan model Direct Instruction pada topik rangkaian listrik seri dan paralel di kelas V. Pembelajaran dirancang dalam 2 JP menggunakan media baterai, kabel, dan lampu untuk praktik langsung.
Kegiatan pembelajaran mengikuti sintaks model:
- Orientasi dengan pertanyaan pemantik
- Presentasi konsep melalui video dan demonstrasi
- Latihan terstruktur dan terbimbing: merakit rangkaian dan mengamati perubahan nyala lampu
- Latihan mandiri: presentasi hasil kelompok dan refleksi pribadi siswa
Asesmen dilakukan melalui tanya jawab, observasi proses, dan LKPD. Program remedial dan pengayaan disediakan sesuai kebutuhan siswa.
Melalui praktik langsung, siswa memahami bahwa jenis rangkaian memengaruhi kinerja lampu, sehingga pembelajaran menjadi kontekstual dan bermakna dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan
Direct Instruction merupakan model pembelajaran yang sangat relevan untuk meningkatkan kemampuan dasar peserta didik dalam pembelajaran IPAS. Model ini mengutamakan penguasaan keterampilan secara bertahap, sistematis, dan bersandar pada umpan balik yang kontinu. Dengan tahapan yang jelas, siswa dapat membangun pemahaman yang kuat tentang konsep ilmiah, sekaligus memperoleh rasa percaya diri melalui pengalaman sukses belajar. Dalam konteks materi rangkaian listrik seri dan paralel, Direct Instruction memungkinkan terwujudnya pembelajaran aktif berbasis praktik nyata. Model ini tidak hanya meningkatkan kompetensi kognitif siswa, tetapi juga berdampak terhadap motivasi, disiplin, dan kerjasama dalam belajar. Berdasarkan analisis dokumen, implementasi Direct Instruction dapat menjadi alternatif efektif untuk mencapai profil Pelajar Pancasila dalam pembelajaran dasar.