Mahasiswa PGMI UIN Sunan Kalijaga Kembangkan Model Pembelajaran Tanpa Arahan (Nondirective Learning)

Kelompok mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) yang beranggotakan 1. Dwi Prasetyo Widyanata 23104080051, 2. Annisa Noor Rahma 23104080060, 3. Achnaf Zulfigar Ghiffary 23104080061, 4. Dennisa Choiru Syafiani 23104080062 dan 5. Fadilah 23104080072 menghadirkan inovasi pembelajaran pada Kurikulum Merdeka melalui penyusunan modul ajar Pendidikan Pancasila pada kelas IV yang berfokus pada pengembangan disiplin, tanggung jawab, serta kesadaran hak dan kewajiban peserta didik di sekolah maupun lingkungan sekitar. Modul yang diberi judul “Aku Anak yang Disiplin: Aturan di Lingkungan Sekitar” ini dirancang dengan menerapkan Model Pembelajaran Tanpa Arahan (Nondirective Learning) berbasis teori humanistik Carl Rogers.


Dilandasi Teori Humanistik dan Pembelajaran Berbasis Pengalaman

Model Pembelajaran Tanpa Arahan yang digunakan dalam modul ini mengedepankan pendekatan humanistik, di mana peserta didik dipandang sebagai individu yang memiliki potensi, otonomi belajar, dan kapasitas dalam mengarahkan diri sendiri. Guru berperan sebagai fasilitator yang menciptakan suasana kelas nyaman, empatik, serta bebas dari penilaian. Dengan demikian, perkembangan aspek afektif, konsep diri positif, dan rasa tanggung jawab menjadi pusat kegiatan belajar.

Selain itu, model ini berpijak pada experiential learning, di mana siswa belajar melalui pengalaman nyata yang mereka miliki sehari-hari mengenai aturan di sekolah dan lingkungan sekitar. Peserta didik diundang untuk mengungkapkan perasaannya dan merefleksikan pengalaman pribadi terkait penerapan aturan dalam kehidupan mereka.


Menjadi Anak Disiplin yang Paham Hak dan Kewajiban

Modul ajar ini menguatkan sejumlah kompetensi penting yang harus dimiliki peserta didik sejak usia sekolah dasar, antara lain:

  • Mengidentifikasi dan melaksanakan aturan di lingkungan sekolah dan rumah,
  • Memahami hak dan kewajiban sebagai anggota keluarga dan warga sekolah,
  • Mengembangkan kesadaran makna aturan bagi ketertiban dan kenyamanan bersama.

Di akhir pembelajaran, siswa diharapkan mampu menyebutkan contoh perilaku disiplin yang siap mereka terapkan secara mandiri, seperti datang tepat waktu, mematuhi tata tertib, dan menjaga kebersihan kelas.


Pembelajaran Dialogis dan Reflektif Sesuai Tahap Perkembangan Siswa

Guru memfasilitasi kegiatan belajar melalui diskusi terbuka, eksplorasi masalah, refleksi diri, hingga pengambilan keputusan pribadi. Proses pembelajaran tidak didominasi instruksi guru, tetapi lebih menekankan pemberdayaan siswa dalam menemukan makna pengalaman belajar mereka sendiri.

Sintaks pembelajaran mencakup lima tahapan utama:

1️⃣ Mendefinisikan situasi bantuan – siswa bebas berbagi cerita tanpa takut salah
2️⃣ Eksplorasi perasaan dan pengalaman – siswa menggambarkan aturan yang mereka temui
3️⃣ Pengembangan insight – siswa menyadari manfaat aturan dan konsekuensi pelanggaran
4️⃣ Pengambilan keputusan – siswa memilih tindakan disiplin yang siap dilakukan
5️⃣ Integrasi dan tindakan – siswa mempraktikkan perilaku disiplin yang dipilihnya

Tahapan ini membantu siswa menyadari perilakunya secara lebih mendalam dan bertanggung jawab untuk memperbaikinya tanpa paksaan.

Model Pembelajaran Tanpa Arahan (Nondirective Learning) memiliki aspek-aspke sebagai berikut:

Sistem Sosial

  • Hubungan guru–siswa bersifat hangat, terbuka, dan empatik.
  • Siswa bebas mengekspresikan diri tanpa takut disalahkan.
  • Guru menjadi pendengar aktif yang menghargai keunikan setiap individu.
  • Tidak ada tekanan, paksaan, atau kontrol yang kaku dalam pembelajaran.
  • Guru tidak memberikan reward dan punishmen eksternal

Prinsip Reaksi

  • Guru mendengarkan secara aktif dan memberi respons yang menunjukkan empati (“Kamu merasa kecewa karena belum berhasil, ya?”).
  • Guru tidak langsung memberi solusi, tetapi membantu siswa menemukan makna dari pengalaman mereka sendiri.
  • Guru menegaskan keaslian dan penerimaan tanpa syarat dalam setiap interaksi.
  • Guru menghargai setiap ekspresi siswa dan menuntun mereka menuju pemahaman diri.

Sistem Pendukung

  • Lingkungan belajar yang nyaman, aman, dan bebas tekanan.
  • Guru dengan kemampuan komunikasi empatik dan keterampilan konseling dasar.
  • Ruang kelas atau ruang refleksi yang mendukung percakapan pribadi (bisa dilakukan dalam kelompok kecil).
  • Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau Modul Ajar berbasis reflektif.
  • Lembar Refleksi Diri / Jurnal Siswa.
  • Media pemantik seperti gambar, video, atau narasi pengalaman hidup.
  • Panduan bagi guru tentang keterampilan mendengarkan empatik.

Dampak Instruksional

  • Siswa mampu mengenali, mengekspresikan, dan mengelola perasaan dengan sehat.
  • Siswa menunjukkan peningkatan kemandirian dalam mengambil keputusan belajar.
  • Terjadi peningkatan kemampuan refleksi dan kesadaran diri.

Dampak Pengiring

  • Terbentuk pribadi yang percaya diri, berempati, dan memiliki kesadaran moral.
  • Hubungan interpersonal di kelas menjadi lebih positif dan terbuka.
  • Siswa merasa lebih nyaman belajar karena merasa diterima secara utuh.

Perangkat Pembelajaran yang Dibutuhkan

  • Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau Modul Ajar berbasis reflektif.
  • Lembar Refleksi Diri / Jurnal Siswa.
  • Media pemantik seperti gambar, video, atau narasi pengalaman hidup.
  • Panduan bagi guru tentang keterampilan mendengarkan empatik.

Lingkungan Belajar Suportif Jadi Kunci Utama

Modul ini mengedepankan suasana kelas yang demokratis, aman secara psikologis, dan penuh kepercayaan. Guru memberikan respons empatik, menerima tanpa menghakimi, dan mendorong siswa mengekspresikan perasaannya secara konstruktif.

Perangkat pembelajaran pendukung yang digunakan antara lain:

  • Papan tulis dan gambar situasi aturan lingkungan
  • Video pembelajaran sebagai pemantik
  • Lembar refleksi individual
  • LKPD berbasis pengalaman sehari-hari

Dukungan ini memastikan pembelajaran berjalan optimal dan bermakna bagi peserta didik.


Asesmen Reflektif sebagai Dasar Pembentukan Karakter

Asesmen dalam modul ini dirancang untuk tidak hanya mengukur pemahaman kognitif, tetapi juga pertumbuhan kesadaran diri dan perilaku positif siswa. Peserta didik diminta menuliskan aturan terpenting menurut mereka, alasan mematuhinya, serta tindakan yang akan dilakukan.

Untuk siswa yang mencapai ketuntasan, pengayaan diberikan melalui pembuatan poster kesadaran aturan di sekolah. Sementara itu, siswa yang memerlukan pendampingan akan dibimbing memakai media gambar situasi secara lebih terstruktur dalam memahami aturan.


Kontribusi Nyata Mahasiswa PGMI untuk Pendidikan Dasar

Dengan penyusunan modul ajar ini, mahasiswa PGMI menunjukkan kemampuan dalam merancang pembelajaran yang mengintegrasikan aspek akademik dan karakter peserta didik sesuai Kurikulum Merdeka. Pembelajaran tidak hanya berfokus pada pengetahuan tentang aturan, tetapi juga menumbuhkan motivasi intrinsik siswa untuk mematuhi aturan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial.

Pengembangan modul ini sekaligus memperkuat kompetensi profesional mahasiswa dalam:
✔ desain kurikulum,
✔ strategi pembelajaran berbasis humanistik,
✔ manajemen kelas secara positif,
✔ asesmen autentik berbasis refleksi.


Penutup

Inovasi modul pembelajaran yang disusun oleh mahasiswa PGMI UIN Sunan Kalijaga ini memperlihatkan komitmen prodi dalam mencetak calon pendidik yang tidak hanya cakap dalam pengajaran, tetapi juga peka terhadap perkembangan psikologis dan kebutuhan peserta didik. Dengan mengusung model pembelajaran tanpa arahan, nilai empati, otonomi, dan kedisiplinan menjadi fondasi yang dibangun sejak dini pada peserta didik.

Prodi berharap modul ini dapat menjadi inspirasi bagi guru pendidikan dasar dalam mengembangkan pembelajaran yang lebih humanis, dialogis, dan berorientasi pada pembentukan karakter unggul di lingkungan madrasah.