Model Pencapaian Konsep dalam Pembelajaran IPA untuk Materi Rantai Makanan

Model Pembelajaran Pencapaian Konsep diterapkan berlandaskan teori kognitivisme dan konstruktivisme. Bruner, Goodnow, dan Austin yang memandang pencapaian konsep sebagai proses mental aktif untuk mengidentifikasi dan membedakan contoh dan noncontoh suatu konsep berdasarkan atribut esensial. Dalam konteks ini, peserta didik tidak menerima konsep secara langsung, tetapi membangun pemahaman melalui proses analisis, pengujian hipotesis, dan generalisasi secara induktif. Pembelajaran menggunakan model inijuga merefleksikan pendekatan konstruktivistik Piaget dan Vygotsky, di mana pengetahuan dibangun melalui asimilasi, akomodasi, dan interaksi sosial. Selain itu, model ini bersifat transformatif karena mendorong perubahan cara berpikir peserta didik melalui refleksi dan rekonstruksi konsep berdasarkan data baru yang diperoleh selama proses pembelajaran.

Tujuan utama penerapan model pencapaian konsep dalam pembelajaran IPA ini adalah agar peserta didik mampu menjelaskan fenomena secara ilmiah, mengidentifikasi hubungan makan dan dimakan antar makhluk hidup, serta menyusun rantai makanan sederhana berdasarkan hasil pengamatan. Selain itu, peserta didik diharapkan mampu mengembangkan keterampilan berpikir logis, menyusun hipotesis, serta menarik kesimpulan berbasis data dan bukti ilmiah. Mahasiswa PGMI yang menempuh mata kuliah strategi pembelajaran dengan dosen pengampu Dr. Fitri Yuliawati, M.Pd.Si mempraktikan implementasi model ini di kelas.

Pelaksanaan pembelajaran diawali dengan kegiatan pendahuluan berupa salam, doa, presensi, dan pemberian motivasi belajar. Guru menampilkan gambar ekosistem hutan sebagai stimulus awal dan mengajukan pertanyaan pemantik terkait makhluk hidup dan hubungan makan dan dimakan. Tahap ini bertujuan membangun rasa ingin tahu dan kesiapan belajar peserta didik.

Pada fase penyajian data dan identifikasi konsep, guru menyajikan contoh dan noncontoh rantai makanan. Peserta didik mengamati, membandingkan, dan mendiskusikan perbedaan kedua contoh tersebut secara berpasangan. Melalui proses ini, peserta didik mulai mengidentifikasi ciri-ciri esensial rantai makanan yang benar, seperti urutan produsen hingga konsumen dan aliran energi.

Fase pengujian pencapaian konsep dilakukan dengan pemberian contoh baru dari berbagai ekosistem, seperti sawah dan laut. Peserta didik bekerja dalam kelompok kecil untuk menyusun rantai makanan berdasarkan gambar pada Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Diskusi kelompok dan pertukaran hasil antarkelompok mendorong terjadinya interaksi sosial yang memperkaya pemahaman konsep.

Pada fase analisis strategi berpikir, peserta didik diajak merefleksikan proses berpikir yang mereka lakukan dalam menentukan urutan rantai makanan. Guru menegaskan definisi konsep dan membantu peserta didik menyusun kesimpulan secara sistematis. Kegiatan ini melatih kesadaran metakognitif serta kemampuan mengomunikasikan hasil berpikir secara lisan dan tertulis.

Evaluasi pembelajaran dilakukan melalui asesmen formatif dan sumatif. Asesmen formatif berupa observasi keaktifan siswa dan penilaian hasil kerja kelompok, sedangkan asesmen sumatif dilakukan melalui tugas individu menyusun contoh rantai makanan dari lingkungan sekitar. Hasil pembelajaran menunjukkan bahwa peserta didik mampu memahami konsep rantai makanan dengan lebih baik, aktif berdiskusi, serta menunjukkan sikap tanggung jawab dan kerja sama. Kelompok 4 yang beranggotakan: 1. Riska Amalia (23104080046) 2. Yasinta Dwi Rahmawati (23104080048) 3. Alvaz Itsbatunnida’ (23104080050) 4. Dewi Syavila (23104080064) 5. Ahmad Dhany Abdul Nafi’ (23104080065) berhasil dengan baik menggunakan pendekatan Saintifik dan kontekstual dengan model pencapaian konsep sertametode diskusi berpasangan, observasi, tanya jawab.