Muda Berkarya : Suharma, Mahasiswi PGMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Maju Ke Babak Top 3 Besar Liga Sholawat Indonesia

Suharma, mahasiswi PGMI angkatan 2017 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melebarkan sayapnya dalam bernyanyi melalui lomba Liga Sholawat Indonesia (LSI). Lomba ini membuka pendaftaran awal pada tanggal 16 April 2020. LSI diadakan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan dan sebagai ajang untuk berdakwah. Lomba yang dilaksanakan via online ini diikuti oleh peserta dari seluruh provinsi di Indonesia. “Dalam lomba ini saya tidak mencantumkan nama PGMI disitu, karena pada saat mengisi formulir pendaftaran hanya tertera provinsi asal dan saya mewakili provinsi Bangka Belitung. Akan tetapi, pihak panitia sudah mengetahui bahwa saya kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.” Tutur Suharma pada saat di wawancarai via WAG.

Ia menceritakan awal mula mendaftar adalah dari postingan video sholawatnya yang berjudul al-waba di akun Instagramnya, dan video tersebut dilirik oleh salah satu akun Sholawat Indonesia. Kemudian ia di DM oleh admin IG Sholawat Indonesia untuk mendaftarkan diri mengikuti lomba Liga Sholawat Indonesia untuk mewakili Provinsi Bangka Belitung. Harma, sapaan akrabnya mengatakan bahwa awal mengikuti lomba ini bukan dari dorongan siapapun. Bahkan orang tua tidak mengetahui kalau akan mengikuti ajang lomba ini, kemudian ia memberitahu orang tuanya dan atas dukungan orang tua dan teman-temannya, alhamdulillah bisa sampai masuk ke TOP 3 seperti sekarang.

“Saya sangat terharu. Mohon doanya, semoga di tahun berikutnya bisa mengikuti ajang lomba yang sesungguhnya.” Tuturnya. Ia sangat bersyukur bisa bertemu dengan teman-teman yang berasal dari seluruh provinsi di Indonesia. Ia mengatakan bahwa karakteristik suara yang dimiliki oleh teman-temannya sangat beragam dan unik. Selain itu, dari lomba tersebut banyak mendapatkan pelajaran terutama tentang perjuangan, keikhlasan, dan kesabaran. Walaupun ajang lomba ini bukanlah ajang lomba yang terkoordinasi seperti di televisi yaitu via online, akan tetapi ia tetap merasakan ada rasa untuk bersaing.

Dalam perjalanannya menuju babak grand final (TOP 3) banyak sekali babak-babak yang harus ia lewati. “Karena sistemnya online, maka penilaiannya menggunakan vote. Dan sistemnya itu bom vote jadi harus men-share terus menerus link vote tidak boleh berhenti. Akan tetapi alhadamdulillah, karena saya di jogja jadi aksesnya lumayan mudah dan teman-teman banyak yang voting.” Jawabnya, ketika diwawancarai mengenai kendala yang dihadapi oleh salah satu teman kami (Zaky).

Suharma menceritakan ketika di TOP 20, hampir tereliminasi karena voting yang diperoleh tidak begitu banyak, akan tetapi dengan usaha yang begitu keras dan keinginannya berdakwah melalui sholawat begitu besar, akhirnya bisa masuk ke TOP 15. Pada babak TOP 12, sistem penilaian tidak menggunakan vote, akan tetapi pada babak TOP 8 sampai babak TOP 6 menggunakan sistem vote lagi. Perjuangan yang luar biasa dialaminya sampai TOP 4, dan akhirnya sampai TOP 3. “Sampai saat ini masih berkompetisi menuju grand final. Pengumuman disampaikan insyaaAllah pada malam takbiran nanti.” Kata Harma.

Motivasi terbesar Suharma mengikuti perlombaan ini adalah ia selalu berkaca bahwa hidup ini adalah untuk ibadah, bukan hanya urusan dunia saja. di zaman serba IT ini, orang tidak memperhatikan adab-adab bersosial media, sehingga bebas memposting apa saja, entah itu positif maupun negatif. Maka dari itu, ia berkeinginan besar menebar kemanfaatan melalui hiburan positif melalui lagu sholawat sekaligus berdakwah. Tuhan memberikan kemampuan lebih pada setiap hamba-Nya untuk digunakan pada hal-hal yang memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Beribadah semata-mata hanya untuk mengharap Ridho-Nya. Akhir kata, Siapa yang menanam pasti akan menuai. Siapa yang menanam kebaikan, maka nantinya akan menuai kebaikan pula. (Dini Haryati,Achmad Zaky Al Fahmi , dkk)