SEMINAR PENDIDIKAN Menciptakan Peluang Kerja melalui Inovasi Bisnis Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0

Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), mengadakan acara Gebyar PGMI. Acara ini diselenggarakan dalam beberapa rangkaian kegiatan yaitu Olimpiade Sains Matematika (OSM) Tingkat MI/SD se-Yogyakarta yang diselenggarakan pada hari Jumat tanggal 9 November 2018, PGMI EXPO berupa kegiatan Pameran Media Pembelajaran dan Edupreneurship oleh Mahasiswa, serta Festival Lomba Anak Islami oleh siswa MI/SD se-Yogyakarta pada hari Senin tanggal 12 November 2018, lalu kegiatan terakhir yaitu Seminar Pendidikan sekaligus kuliah umum pada hari Selasa 13 November 2018.
Seminar pendidikan ini dilaksanakan di Convention Hall lt. 1 dengan diikuti oleh 230 mahasiswa PGMI semester 1,3 dan 5 serta beberapa tamu undangan dari PGMI dan PGSD yang ada di Yogyakarta. Pada kegiatan seminar ini tema yang diangkat adalah: Menciptakan Peluang Kerja Melalui Inovasi Bisnis Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0, dengan pembicara Dr. H. Purwono selaku owner dari Bimbingan Belajar Neutron Yogyakarta, dan Dr. Andi Prastowo, M.Pd.I, dosen PGMI, sekaligus motivator dan trainer.
Dr. H. Purwono menyampaikan kisah perjalanannya membangun Group Neutron, yang saat ini telah memiliki cabang di berbagai daerah di Indonesa. Disampaikan bahwa nama Neutron sendiri diambil dari penyusun inti atom yang bersifat netral. Diharapkan dari nama tersebut Neutron bisa menjadi Lembaga Bimbingan Belajar yang menjadi pusat pendidikan banyak orang dan berbagai kalangan. Lebih lanjut disampaikan bahwa logo Neutron sendiri memiliki arti: Lima bulatan melambangkan 5 sila Pancasila; Pusatnya di “N” merupakan pusatnya yang bersifat netral; Lingkaran besar melambangkan tiada hentinya dalam belajar; Warna merah = Passion untuk terus belajar; Warna Putih = Niat yang suci dalam belajar.
Menciptakan sebuah peluang usaha bukan perkara yang mudah, kita harus memiliki pertimbangan yang matang untuk mengetahui apakah peluang tersebut dapat dijalankan dengan baik dan optimal. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika kita ingin mencipatakan peluang usaha yang optimal dan bagus, yaitu:
Pertama, menciptakan peluang usaha berdasarkan kebutuhan. Ketika anda merasa kebutuhan anda belum dapat terpenuhi dengan produk atau jasa yang telah ditawarkan oleh pelaku bisnis, maka tidak ada salahanya jika anda mencoba untuk menciptakan produk atau jasa yang berkaitan dengan kebutuhan anda tersebut.
Kedua, menciptakan peluang usaha berdasrkan kemampuan. Jika anda memiliki suatu keahlian atau keterampilan maka gunakanlah kemampuan tersebut untuk membuka sebuah peluang usaha
Ketiga, menciptakan peluang usaha berdasarkan hobi. Ketika seseorang menjalankan apa yang disukai yang telah menjadi hobi maka ia akan dengan senang hati mengerjakannya dan dapat memberi peluang terhadap usaha yang akan dibangun dan diciptakan.
Keempat, menciptakan peluang usaha berdasarkan usaha yang telah ada. Artinya dengan usaha yang telah ada kita dapat memberikan kesan yang berbeda dengan melakukan sebuah inovasi dan kreasi yang lebih menarik
Kelima, menciptakan peluang usaha berdasarkan lokasi. Jika anda memiliki lokasi yang strategis maka akan menjadi poin yang bagus untuk emndukung usaha yang anda lakukan. Lokasi juga berpengaruh terhadap pendapatan.
Materi berikutnya disampaikan oleh Dr. Andi Prastowo, M.Pd.I. Disampaikan bahwa pendidikan wirausaha yang dibekalkan kepada mahasiswa diharapkan dapat diterapkan oleh para mahasiswa, baik pada saat masih kuliah maupun setelah lulus. Mengingat saat ini masanya revolusi industri akibat dari kemajuan teknologi, yang menimbulkan kekhawatran bagi masyarakat bahwa lapangan pekerjaan akan digantikan oleh perangkat yang lebih canggih dan modern.
Seorang penulis buku motivasi (Max Gunther) pernah mengkritik sistem pendidikan di Amerika Serikat tahun 70-an yang katanya hanya akan melahirkan lulusan “Sanglaritis” artinya mereka hanya mempunyai mental buruh, yaitu ingin menjadi pegawai negeri atau pegawai swasta, kurang mmapu menciptakan lapangan kerja sendiri, yang mana di Indonesia hal itu masih terjadi sampai sekarang. Kita sudah sering mendengar kalimat “sebuah bangsa bisa maju, jika wirausahanya maju”. Kalimat tersebut bukan hanya omong kosong belaka, dapat dibuktikan dengan negara-negara maju di dunia, diantaranya Amerika Serikat, Singapura dan beberapa negara lainnya. Secara umum persentase jumlah pengusaha di Indonesia baru 1,65% dari jumlah penduduk. Persentase tersebut jauh tertinggal dibandingkan Singapura, Malaysia, atau Thailand, yang masing-masing memiliki persentase 7%, 5% dan 3%. Sementara negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang bahkan memiliki jumlah pengusaha lebih dari 10% dari jumlah populasi (REPUBLIKA, Agustus 2015).
Jumlah pengangguran di Indonesia 10% adalah kaum intelek yang menyandang gelar pendidikan perguruan tinggi. Sudah saatnya generasi muda mengubah pola pandang, jangan hanya berfikir menjadi pegawai setelah lulus dari pendidikan tinggi, apalagi hanya menginginkan pegawai negeri. Menjadi wirausaha perlu difikirkan sebagai pilihan.
Disampaikan oleh Dr. Andi Prastowo, dosen Eduprenueurship, bahwa arti BISNIS adalah: B (Berbasis Ilmu Pengetahuan), I (Inovatif), S (Strategi), N (Niat yang kuat), I (Informasi dan teknologi), S (Supel). Diharapkan mahasiswa sebagai generasi muda harus menjadi ilmuwan dan professional yang berfikir kreatif dan bertindak inovatif, serta menjadi wirausahawan yang berbasis ilmu pengetahuan yang mampu update terhadap informasi dan teknologi serta mudah untuk bersosialisasi kepada masyarakat umum. (Aisya Rahma Fadhilla, PGMI’15)