Pengembangan Kurikulum Linear sebagai Tantangan Menghadapi Merdeka Belajar

Webinar Nasional Kolaborasi HMPS PGMI dengan Program Studi PGMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bersama Ikatan Alumni PGMI serta PD-PGMI Jateng dan DIY dilanjtkan ke sesi 4, dengan tema “Pengembangan Kurikulum Linear sebagai Tantangan Menghadapi Merdeka Belajar” via zoom pada Kamis, 23 Juli 2020 pukul 09.00-12.00 WIB.

Webinar sesi 4 menghadirkan keynote speaker dan 3 narasumber: Hj. Zulaikhah, M.Ag., M.Pd, Kaprodi PGMI UIN Walisongo Semarang; Dr. Mohammad Agung Rokhimawan, M.Pd, Dosen PGMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Dr. Aninditya Sri Nugraheni, S.Pd., M.Pd, Kaprodi sekaligus Dosen PGMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Ahmad Syamsul Arifin, M.Pd , Dosen PGMI Universitas Alma Ata Yogyakarta.

Terkait dengan kebijakan Merdeka Belajar yang dicetuskan oleh Nadiem Makarim, Kemendikbud RI, tentu terdapat tantangan didalamnya. Salah satunya adalah pengembangan kurikulum linear. “Kurikulum merupakan komponen terpenting dalam dunia pendidikan. Lembaga pendidikan dengan kurikulum memiliki keterkaitan sangat kuat dalam mengembangkan kurikulum terutama pada kondisi saat ini antara lain terdapat perkembangan IPTEK, perubahan sosial budaya, dan dunia kerja”, ujar Hj. Zulaikhah, M.Ag., M.Pd selaku keynote speaker dalam webinar nasional kolaborasi PGMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sesi 4, Kamis (23/7).

“Berdasarkan data BPS 2019, total angkatan kerja adalah 133,56 juta orang, di sisi lain terdapat banyak pengangguran sarjana yaitu sebanyak 5,67%”, ujar Ahmad Syamsul Arifin, M.Pd.I selaku narasumber ketiga dalam webinar nasional kolaborasi PGMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sesi 4, Kamis (23/7). Maka dari itu, sangat diperlukannya pengembangan kurikulum linear.

Berdasarkan hal tersebut, Dr. Mohammad Agung Rokhimawan, M.Pd selaku narasumber pertama dalam webinar nasional kolaborasi PGMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sesi 4, Kamis (23/7) menyatakan bahwa “Hal yang harus disikapi dalam pengembangan kurikulum tidak hanya dilakukan secara luring, namun juga dilakukan secara daring. Adapun 8 dasar pengembangan kurikulum linear antara lain: dasar yuridis, landasan pengembangan kurikulum, prinsip pengembangan kurikulum, tujuan kurikulum, isi kurikulum, metode penyusunan kurikulum, indikator Merdeka Belajar, dan antisipasi implementasi kurikulum Merdeka Belajar”.

“Seperti halnya dalam Prodi PGMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang sedang melakukan redesain kurikulum dengan menambah beberapa mata kuliah tanpa menghilangkan mata kuliah keislaman yang menjadi ciri khas prodi PGMI,” ujar Dr. Aninditya Sri Nugraheni, M.Pd selaku narasumber kedua dalam webinar nasional kolaborasi PGMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sesi 4, Kamis (23/7).

Menanggapi pernyataan dari narasumber kedua, M. Suwignyo Prayogo selaku peserta webinar nasional kolaborasi PGMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sesi 4, Kamis (23/7) menyatakan bahwa “kurikulum PGMI terdapat mata kuliah keislaman, sehingga mata kuliah di PGMI banyak yang hilang dan bahkan terkurangi SKS nya. Sehingga hal tersebut tentu menjadi PR bersama agar kualitas lulusan PGMI memiliki nilai yang seimbang antara ilmu umum dan ilmu keislaman yang menjadi ciri khas PGMI”.

Webinar dengan tema pengembangan kurikulum linear ini mendapat perhatian dari para akademisi pendidikan. Hal tersebut ditunjukan bahwa jumlah pendaftar webinar sesi 4 yang mencapai 327 orang, dengan rincian 8% berpendidikan S3, 48% berpendidikan S2, 43% berpendidikan S1 dan 1% berpendidikan SMA. (Tsaqifa Taqiyya Ulfah)