Tiga Mahasiswa PGMI Ikuti Program Pengabdian Tarbiyah Suka Mengajar

Masa pandemi bukanlah alasan untuk tidak produktif dan tidak bisa bermanfaat bagi orang lain. Pada tanggal 27 Februari-8 Maret 2021, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan mengadakan kegiatan Tarbiyah Suka Mengajar (TSM) batch pertama yang diikuti oleh 20 peserta, 5 panitia, dan 3 fasilitator lapangan. Program ini merupakan program pengabdian masyarakat unggulan Fakultas Tarbiyah dan merupakan mandat langsung dari dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.

Sebelumnya, peserta harus melalui proses seleksi yang ketat (berkas dan wawancara) hingga akhirnya dapat terpilih untuk mewakili prodi masing-masing. Proses ini berhasil menyeleksi 20 pendaftar terbaik dari 90 pendaftar yang tersebar di sembilan prodi FITK. Pada batch ini, terdapat 3 mahasiswa PGMI yang lolos seleksi, yaitu Audrey Shafia Dwinandita dari S1 PGMI serta Laila Fajrin dan Jonata dari S2 PGMI.

Tarbiyah Suka Mengajar dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing terdiri dari 10 orang perwakilan prodi FITK. Kelompok disebar ke dua dusun, yaitu Dusun Mrico dan Dusun Mendang. Perwakilan PGMI di dusun Mrico adalah Laila dan Jonata, sedangkan Audrey menjadi perwakilan PGMI di dusun Mendang. Meski letaknya berjauhan, dua dusun tersebut sama-sama berada di desa Ngestirejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Selama 10 hari, masing-masing tim menginap di salah satu rumah warga dan menjalankan serangkaian program pengabdian masyarakat.

Sesuai namanya, program TSM fokus untuk mengajar masyarakat, khususnya anak-anak yang harus belajar di rumah akibat pandemi. Program mengajar tersebut dibagi ke dalam bidang Pendidikan, Keagamaan, Kesehatan, dan Kemasyarakatan. Program kerja didesain khusus untuk memenuhi kegiatan selama 10 hari serta tak lupa menerapkan protokol kesehatan. Kedua tim merancang sendiri program kerja yang akan dilakukan, disesuaikan dengan keadaan dusun masing-masing.

Pada bidang pendidikan, setiap harinya tim TSM mengadakan pendampingan belajar jarak jauh di posko. Hal ini tentu sangat bermanfaat, sebab anak-anak yang sekolahnya diliburkan akibat pandemi seringkali merasa kesulitan belajar di rumah. Meskipun begitu, kegiatan yang dilakukan di posko tidak melulu mengerjakan pekerjaan sekolah anak-anak saja, melainkan juga ditambah aktivitas-aktivitas menyenangkan agar anak-anak tidak akan merasa bosan. Aktivitas dirancang agar bermakna, menambah wawasan, sekaligus mengasyikkan. Beberapa proker andalan yang dilakukan adalah praktikum IPA sederhana, belajar sambil bernyanyi, pelatihan komputer, menggambar dan kerajinan tangan, praktik alat peraga, hingga menonton film edukasi bersama. Belajar pun tidak terbatas di posko saja. Anak-anak kerap diajak untuk belajar di luar untuk melihat alam, seperti ladang dan pantai, agar anak-anak bisa belajar dari alam di sekitarnya.

Pada bidang keagamaan, program unggulan yang dilakukan adalah mengaji di TPA tiap sore. TPA merupakan program yang sangat menyenangkan bagi anak-anak karena menjadi momen bercengkerama dan berkumpul dengan teman-teman. Sayangnya, kegiatan TPA sempat ditutup selama pandemi, sehingga masjid menjadi sepi dan anak-anak tidak mempunyai kegiatan di malam hari. Saat TPA dibuka lagi karena kedatangan tim TSM, anak-anak kembali semangat untuk belajar mengaji. Tak hanya mengaji dan simaan Al-Quran, divisi keagamaan juga mengadakan lomba keagamaan Islam yang memperlihatkan kualitas dan potensi besar anak-anak dalam bidang keagamaan.

Di bidang kesehatan, tim TSM mengadakan berbagai sosialisasi kesehatan yang relevan di masa pandemi Covid-19. Divisi kesehatan menyiapkan kegiatan dan materi yang didesain khusus untuk kemampuan anak-anak, seperti pengisian TTS sederhana, mengidentifikasi gambar makanan sehat, sosialisasi kesehatan dan sex education melalui bernyanyi, praktik cuci tangan, dan praktek kebersihan lainnya.

Sedangkan pada bidang kemasyarakatan, setiap tim TSM mengupayakan untuk menjalin silaturahmi dengan warga setempat. Dalam pelaksanaanya, tim TSM berhasil mendekatkan diri dengan pemuka, tetua desa, hingga karang taruna setempat. Dalam beberapa kesempatan, kedua tim mengadakan kegiatan-kegiatan yang dapat menyambung sillaturahmi seperti kerja bakti masjid, senam bersama, dan sarasehan.

Kedua dusun sangat antusias menerima kedatangan tim TSM, terlihat dari aktifnya warga untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang dibuat tim TSM. Anak-anak yang ikut juga bersemangat mengikuti kegiatan belajar. Setelah program berakhir, banyak warga meminta untuk memperpanjang program karena terlalu singkat durasinya. “Saya sangat terbantu dengan adanya program pendampingan belajar dari TSM. Anak-anak saya jadi ada kegiatan yang bikin mereka senang, saya juga bisa fokus bekerja di ladang. Sayang sekali durasinya hanya 10 hari. Semoga kalau ada program seperti ini lagi waktunya bisa diperpanjang” tutur salah satu orangtua murid di Dusun Mendang saat ditanya mengenai program TSM.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini tentu sangat relevan bagi mahasiswa FITK, khususnya prodi PGMI karena sebagian besar siswa yang diampu duduk di bangku sekolah dasar. Terlebih lagi program ini sangat menyenangkan dan menambah pengalaman mengajar yang turut memperkaya para mahasiswa calon guru MI. Tarbiyah Suka Mengajar akan kembali mengadakan batch selanjutnya pada Juli 2021 mendatang. Semoga pada batch tersebut, akan ada lebih banyak lagi mahasiswa PGMI yang mendaftar sehingga dapat ikut berkiprah dalam masyarakat melalui ilmu yang dimiliki.