Pentas Kolaborasi yang apik dari UIN SAIZU PURWAKARTA dan UIN WALISONGO

Salah satu dari Pagelaran Sendratasik dengan judul “Tahta Petaka” yang di sutradarai oleh Unzila Aziza Mahasiswi semester empat UIN Sunan kalijaga Yogyakarta, Fakultas Ilmu tarbiyah dan keguruan Program studi PGMI. Drama Musikal ini di buat sebagai Tugas akhir Matkul SBDP, yang di ampu oleh Bapak Alfian Eko Widodo Adi Prasetyo, M.pd, di selenggarakan di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta. Yang di unggah dalam saluran youtube PGMI UIN Sunan Kalijaga dengan judul “Pagelaran Sendratasik Angreksa Budaya Memayu Ilmu” yang dirilis pada tanggal 27 Mei 2024, dan sudah ditonton sebanyak lebih dari 1.855 ribu kali dalam 10 jam.

Pemain dalam drama ini adalah Imam Mudin Zaki Sebagai Raja Kerajaan Jonggrangan, Hudzaifah sebagai ratu pertama, Miftah Auliya sebagai ratu ke dua, Jihan dan Naya Sebagai Putri, Nadzif sebagai Darsana, Ghilman sebagai Paman sekaligus menteri, Galang sebagai Empu, Falah sebagai Putra Mahkota dan Husni Mubarok sebagai Pangeran ke dua. Drama ini menampilkan pertunjukan sedikit berbeda karena di padukan dengan beberapa tarian dan Tembang Pangkur. Berkisah tentang Perebutan Tahta oleh keluarga kerajaan yg berujung kehancuran kerajaan akibat sifat buruk keluarga kerajaan. Hingga akhirnya direbut oleh raja kerajaan lain dan terbuhnya seluruh keluarga kerajaan.

Sebenarnnya manusia memiliki hati yang bersih namun ada hawa nafsu yg jika di ikuti akan menghancurkan diri sendiri bahkan oranglain. Tahta, harta jangan di letakkan di hati namun genggamlah di tangan jaga bila di beri amanah tidak berambisi merebut sesuatu yg bukan haq nya. Apabila kita fokus dan terpku untuk merebut milik orang lain karna ambisi dan ego kita maka kita akan melupakan apa yg telah jadi milik kita hingga lupa menjaganya, dan tanpa sadar orang lain memiliki niat jahat dan saat kita Fokus merebut milik orang lain milik kita lah yg akan hilang alhasil kita tidak mendapatkan apapun bahkan kehilangan semua yang menjadi milik kita. Maka dari itu terimalah yg menjadi milikmu, syukurilah yang menjadi milik mu, jagalah yang menjadi milikmu dan tak perlu membandingkan milikmu dengan orang lain. Pertunjukan drama ini banyak mengeksplorasi dan menggali kreativitas dengan memodifikasinya ke dalam sajian seni drama yang diiringi dengan Tarian. Dan kami berkolaborasi juga dengan SAIZU Purwokerto dan UIN Wali Songo Semarang.

Musik yang mengiringi pertunjukan saat lighting up hingga menampilkan suasana ruangan yang klasik, diiringi pula dengan back sound gamelan jawa untuk mengawali pertunjukan drama tersebut yang di bacakan oleh narator. Di lanjutkan dengan tarian dan musik pedesaan ala gamelan jawa hingga musik keraton penobatan Putra mahkota kerajaan Jonggrangan yg menjadi asal mula konflik akibat kecemburuan, ambisi dan iri hati.

Special aktor dalam drama ini adalah Bapak DR. Andi Prastowo S.Pd.I, M.pd.I dan Bapak andhika Yahya Putra M.OR sebagai Pengembara yang bijaksana yang memberi fatuah kepada Rakyat Jonggrangan yg menderita.Lalu Ratu ke dua dan Putranya menyusun rencana menghasut sang empu namun tidak terpengaruh, hingga bekerjasama dengan sang paman dan darsana yang di anggap sekutu namun kenyataannya hanya memanfaatkan pangeran ke dua.

Hingga akhirnya raja meninggal akibat sakit yang di derita sejak lama dan meninggalkan wasiat untuk memberikan tahta kepada pangeran ke dua. Untuk memenuhi janji sang raja kepada Ratu ke 2. Namun siapa sangka Pangeran pertama tak terima di lengserkan dari kedudukan putra mahkota dan tersulut amarah hingga membunuh Empu,Ratu ke dua, Pangeran dan Putrinya.

Karna kesombongan dan amarahnya membuat lengah hingga akhirnya Paman/Menteri Menikam Pangeran Pertama,Ratu pertama dan Putrinya. Paman/Menteri yg tengah berbahagia dan mengiri ini Puncak kejayaannya ternyata di khianati oleh Darsana sekutunya hingga akhirnya seluruh keluarga kerajaan terbunuh oleh keluarga kerajaan sendiri sedangkan tahta jatuh kepada Darsana raja kerajaan lain. Pertunjukan drama ini mengangkat sifat sifat buruk dan hawa nafsu dalam diri manusia yg bersembunyi di baling senyuman manis namun nyatanya bengis.