"Eksplorasi Pembelajaran Kontekstual pada Pembelajaran IPA di Lingkungan Kebun Binatang"

Mahasiswa PGMI semester 3, khususnya kelompok 3C yang terdiri dari Uli, Robi'ah, Indana, Fina, dan Tiara, melakukan kunjungan studi lapangan di Zoo Gembira Loka, Yogyakarta. Kegiatan ini didampingi oleh dosen pembimbing, Ibu Fitri Yuliawati, S.Pd.Si., M.Pd.Si., dan kakak pendamping, Kak Putri Arwinda, S.Pd. Dalam kegiatan ini, mereka mengamati langsung berbagai jenis hewan dari lima kelompok utama: Pisces, Amphibi, Reptil, Aves, dan Mamalia.

Selama kegiatan berlangsung, para mahasiswa memfokuskan pengamatan mereka pada ciri-ciri khas masing-masing kelompok hewan, termasuk habitat, perilaku, dan adaptasi yang dilakukan untuk bertahan hidup. Pada kelompok Pisces, mahasiswa memperhatikan bentuk tubuh, struktur insang, dan cara berenang yang berbeda-beda. Sementara itu, dalam mengamati Amphibi, mahasiswa mencatat perbedaan antara amfibi yang hidup di air dan di darat serta siklus hidupnya yang unik.

Pada kelompok Reptil, mahasiswa mengamati hewan-hewan seperti ular, kura-kura, dan buaya, sambil mencatat ciri khas kulit bersisik serta cara mereka menjaga suhu tubuh. Di zona Aves, mahasiswa terpesona oleh keanekaragaman warna bulu, bentuk paruh, dan jenis sarang, yang merupakan adaptasi khusus burung dalam mencari makanan dan bertahan hidup. Terakhir, pada kelompok Mamalia, mahasiswa belajar tentang cara perawatan anak dan karakteristik khusus mamalia yang memiliki kelenjar susu.

Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap materi IPA, tetapi juga memberikan pengalaman belajar langsung yang mendalam dalam mengenal keanekaragaman fauna. Observasi ini diharapkan mampu menambah wawasan mahasiswa dalam menciptakan pembelajaran kontekstual yang menarik untuk diterapkan dalam profesi mereka sebagai calon pendidik di masa depan.Berikut spesies hewan yang diamati oleh kelompok 3C :

1. Angsa Hitam (Cygnus atratus)

Sistem Klasifikasinya

  • Nama Ilmiah : Cygnus atratus
  • Kingdom : Animalia
  • Filum :Chordata
  • Kelas : Mamalia
  • Ordo : Anseriformes
  • Famili : Antidae
  • Genus : Cygnus
  • Asal : Australia
  • Pakan : Ikan, Serangga, Reptil Kecil
  • Panjang : 110-140 cm
  • Berat : 3-9 kg
  • Masa Hidup : 40 tahun

Sistem Pernapasan

Sistem pernapasan angsa hitam, seperti pada burung lainnya, menggunakan paru-paru dan kantung udara.

  • Paru-paru: Paru-paru angsa hitam relatif kecil tetapi sangat efisien dalam pertukaran gas. Oksigen dari udara yang dihirup akan diserap melalui paru-paru ke dalam aliran darah, dan karbon dioksida dikeluarkan.
  • Kantung Udara: Burung memiliki beberapa kantung udara yang terhubung ke paru-paru. Pada angsa hitam, ada sembilan kantung udara utama yang terletak di berbagai bagian tubuh, yang berfungsi untuk memperpanjang dan meningkatkan efisiensi pernapasan. Kantung udara ini membantu menyimpan udara dan memungkinkan aliran udara satu arah melalui paru-paru, sehingga meningkatkan penyerapan oksigen.
  • Trakea: Udara masuk melalui lubang hidung dan mengalir melalui trakea (tenggorokan) ke paru-paru. Trakea angsa hitam cukup panjang, memungkinkan mereka untuk mengambil udara lebih dalam dan memaksimalkan pernapasan.
  • Aliran Udara Satu Arah: Salah satu ciri khas pernapasan burung adalah aliran udara satu arah melalui paru-paru mereka. Berbeda dengan mamalia, yang memiliki aliran udara dua arah (masuk dan keluar melalui jalur yang sama), burung seperti angsa hitam memiliki aliran udara satu arah yang memungkinkan mereka menyerap lebih banyak oksigen setiap kali bernapas.

Sistem Reproduksi

Angsa hitam berkembang biak dengan cara bertelur (ovipar). Bersifat poligami dan musim kawin terjadi pada saat musim hujan. Bersarang pada lubang pohon yang besar. Saat bertelur betina dapat menghasilkan lebih dari 20 telur dengan waktu pengeraman selama 35-48 hari.

Cara Hidup / Habitat

Angsa hitam juga biasanya hidup berkelompok yang disebutflock. Namun, selama musim kawin, mereka cenderung membentuk pasangan monogami dan hidup berdua. Pasangan angsa hitam sering kali bertahan seumur hidup. Meskipun sebagian besar populasi angsa hitam bersifat menetap, mereka bisa bermigrasi atau berpindah dalam jarak pendek untuk mencari sumber makanan atau tempat yang lebih aman, terutama selama musim kering. Angsa hitam lebih menyukai habitat perairan rawa, asin, payau, tawar, danau, dan sungai.

Ciri-ciri :

  • Bulunya yang berwarna hitam, lazimnya bulu angsa berwarna putih.
  • Leher yang panjang dan lentur.
  • Paruh berwarna merah muda

2. Nilgai(Boselaphus tragocamelus)

Klasifikasi

  • Kerajaan: Animalia
  • Filum: Chordata
  • Kelas: Mammalia
  • Ordo: Artiodactyla
  • Famili: Bovidae
  • Genus: Boselaphus
  • Spesies: B. tragocamelus
  • Berat: 120-240
  • Panjang: 100-150 cm
  • Masa hidup: 21-21,7 thn
  • Habitat: Padang rumput, kaki pegunungan
  • Pakan: Rumput, Bunga, Umbi, Buah (Insektivora)

Deskripsi fisik

Nilgai adalah hewan yang memiliki ukuran sedang, dengan tinggi sekitar 1,2 meter dan berat sekitar 200 kilogram. Hewan ini memiliki tubuh yang kekar dan kaki yang panjang. Nilgai jantan memiliki sepasang tanduk yang melengkung ke belakang, sedangkan nilgai betina tidak memiliki tanduk.

Sistem Reproduksi

Sebagai mamalia, nilgai memiliki sistem reproduksi yang umum ditemukan pada hewan menyusui lainnya. Proses reproduksi nilgai melibatkan pembuahan sel telur oleh sperma, yang kemudian berkembang menjadi embrio di dalam rahim induk betina. Nilgai betina akan melahirkan satu anak setiap tahun. Anak nilgai akan disapih setelah sekitar 6 bulan.

Proses Reproduksi Singkat:

  1. Perkawinan:Jantan dan betina akan melakukan perkawinan setelah betina memasuki masa estrus atau birahi. Pada masa ini, betina akan sangat reseptif terhadap perkawinan.
  2. Pembuahan:Selama perkawinan, sperma jantan akan bertemu dan membuahi sel telur betina di dalam oviduk.
  3. Kehamilan:Setelah pembuahan, zigot (hasil pembuahan) akan berkembang menjadi embrio dan kemudian fetus di dalam uterus. Masa kehamilan nilgai biasanya berlangsung beberapa bulan.
  4. Pelahiran:Setelah masa kehamilan selesai, betina akan melahirkan satu atau beberapa anak. Anak nilgai yang baru lahir akan menyusui dari induknya untuk mendapatkan nutrisi.

Status konservasi

Secara umum, nilgai (Boselaphus tragocamelus) saat ini tidak termasuk dalam kategori spesies terancam punah.Populasi mereka cukup stabil di habitat aslinya di India dan Pakistan. Namun, seperti banyak spesies satwa liar lainnya, nilgai tetap menghadapi beberapa ancaman yang dapat mempengaruhi keberlangsungan populasi mereka di masa depan.

Habitat

  • Daerah Kering dan Semi-kering:Nilgai sangat adaptif terhadap lingkungan yang kering dan semi-kering. Mereka dapat ditemukan di berbagai tipe habitat, mulai dari padang rumput yang luas hingga daerah berbukit.
  • India dan Pakistan:Negara-negara ini merupakan habitat asli nilgai. Mereka dapat ditemukan di berbagai wilayah di India, termasuk Gujarat, Rajasthan, dan Madhya Pradesh.
  • Adaptasi terhadap Lingkungan:Nilgai memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap berbagai kondisi lingkungan. Mereka dapat bertahan hidup di daerah dengan curah hujan rendah dan sumber air yang terbatas.

Cara hidup

  • Hewan Herbivora:Nilgai adalah hewan herbivora, yang artinya mereka memakan tumbuhan. Makanan utama mereka adalah rumput, daun, tunas, dan buah-buahan.
  • Hewan Sosial:Nilgai hidup dalam kelompok sosial yang terdiri dari beberapa individu. Kelompok ini biasanya terdiri dari beberapa betina dan anak-anak, dengan satu atau beberapa jantan dewasa sebagai pemimpin.
  • Pola Aktivitas:Nilgai adalah hewan diurnal, artinya mereka aktif pada siang hari. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari makan dan beristirahat.
  • Pertahanan Diri:Meskipun memiliki tubuh yang besar, nilgai cukup waspada terhadap predator. Mereka memiliki indera penglihatan dan pendengaran yang tajam, sehingga dapat mendeteksi bahaya dari jauh. Jika merasa terancam, nilgai akan melarikan diri dengan kecepatan tinggi.

3. Katak Pohon Bergaris (Polypedates leucomystax)

Sistem Klasifikasinya

  • Kingdom: Animalia
  • Filum: Chordata
  • Kelas: Amphibia
  • Ordo: Anura
  • Famili: Rhacophoridae
  • Genus: Polypedates
  • Spesies: Polypedates leucomystax
  • Berat: 5-17 g
  • Panjang: 4-5 cm
  • Masa hidup: 4-5 Tahun
  • Habitat: Rawa-rawa, hutan, perkebunan, semak belukar
  • Pakan: Serangga, ulat
  • Asal: Indonesia, Filipina, Myanmar, Thailand, Vietnam

Deskripsi Fisik

Polypedates leucomystax berukuran sedang dan ramping. Bagian punggung (dorsal) berkulit halus, tanpa lipatan, tonjolan atau bintil-bintil. Warnanya berubah-ubah, coklat muda kekuningan, keabu-abuan sampai pucat keputihan, berbintik gelap besar dan kecil, atau bergaris-garis memanjang. Terdapat suatu garis atau pita gelap kehitaman antara hidung dengan mata, ke belakang melewati sisi atas timpanum (gendang telinga) sampai ke bahu. Pita hitam dibatasi garis tipis kuning keemasan di sebelah atasnya, terutama dari mata hingga ke bahu di atas timpanum. Garis keemasan serupa terdapat juga pada sibir sempit di sisi tangan, dari siku hingga ke sisi lateral (samping) jari-jari tangan; dan di sisi telapak kaki hingga sisi lateral jari-jari kaki. Sisi bawah (ventral) berbintil halus, berwarna putih sedikit keemasan. Matanya besar dan menonjol dengan iris mata kuning keemasan, dan warna bibir bagian atas keemasan dan bian bawah kehitaman.

Tangan dan paha dengan garis-garis (coreng) miring kehitaman. Jari-jari di tangan berselaput renang setengahnya atau hampir tak ada. Selaput renang di kaki berwarna kehitaman, mencapai ruas jari paling ujung; kecuali pada jari keempat (yang terpanjang), hanya mencapai ruas kedua dari ujung.

Sistem Reproduksi

Pada musim kawin, banyak individu jantan (kadang-kadang hingga sekitar 10 ekor) yang berkumpul dekat kolam, parit atau genangan air lainnya. Kodok-kodok jantan ini memanjat semak-semak rendah atau pohon kecil di dekat genangan, hingga ketinggian 1 m atau lebih di atas tanah, serta bersuara sahut-menyahut dari tenggerannya itu untuk memikat kodok betina. Jika bertemu, pasangan kodok pohon ini lalu bergerak mencari posisi daun atau ranting yang menggantung di atas air untuk menempelkan telurnya.

Telur-telur itu diletakkan di sebuah sarang busa yang dilekatkan menggantung di atas genangan, pada daun, ranting, tangkai rumput, atau kadang-kadang juga pada dinding saluran air. Gelembung-gelembung busa ini akan melindungi telur dari kekeringan, hingga saatnya menetas dan kecebongnya keluar berjatuhan ke air.

Sistem Pernafasan

  • Pernafasan melalui kulit: Katak mempunyai kulit yang lembap dan memungkinkan pertukaran gas secara langsung dengan persekitaran. Oksigen dapat diserap melalui kulit, sementara karbon dioksida dikeluarkan. Hal ini sangat penting, terutamanya ketika katak berada dalam air.
  • Pernafasan melalui paru-paru: Katak juga memiliki paru-paru yang berfungsi untuk pernafasan. Ketika katak berada di darat, mereka akan menghisap udara ke dalam paru-paru melalui mulut dan kemudian menutup mulut sambil membuka saluran pernapasan (glotis) untuk mengeluarkan karbon dioksida. Pernafasan ini biasanya terjadi dengan bantuan otot-otot pernapasan.
  • Fase perkembangan: Sebagai tambahan, katak melalui beberapa tahap perkembangan dalam hidupnya, dari telur menjadi larva (tadpole) yang bernapas melalui insang, dan kemudian berkembang menjadi katak dewasa yang bernapas melalui kulit dan paru-paru.

Perilaku dan Gaya Hidup

Spesies ini aktif terutama di malam hari, dan sering terdengar berbunyi keras sejak menjelang magrib. Di saat musim kawin ini, beberapa jantan menunjukkan sikap agresif terhadap kehadiran cahaya senter dengan menghampiri dan bertengger dekat cahaya, lalu bersuara.

4. Ikan Hantu (Apteronotus albifrons)

Sistem Klasifikasinya

  • Kingdom: Animalia
  • Filum: Chordata (Hewan bertulang belakang)
  • Kelas: Actinopterygii (Ikan bersirip pari)
  • Ordo: Gymnotiformes (ikan listrik)
  • Famili: Apteronotidae
  • Genus: Apteronotus
  • Spesies: apteronotus albifrons
  • Panjang: 15-20 cm
  • Masa hidup: 10 tahun atau lebih
  • Habitat: Alam liar, danau, rawa, dan sungai
  • Pakan: Seranggga air, larva serangga, udang-udangan kecil, dan cacing.
  • Asal: Amerika Selatan

Deskripsi Fisik

Ikan hantu (Apteronotus albifrons) dikenal karena penampilannya yang unik dan misterius. Ikan ini memiliki tubuh yang ramping dan panjang, dengan warna dasar hitam pekat yang memberikan kesan gelap dan misterius. Salah satu ciri khasnya adalah garis putih di sepanjang bagian atas kepalanya, mulai dari dahi hingga ke pangkal sirip punggung, yang kontras dengan warna hitam tubuhnya.

Tubuh ikan hantu tidak memiliki sirip punggung yang panjang, melainkan sirip anal yang memanjang dari bagian bawah tubuh hingga mendekati ekor. Sirip ini digunakan untuk berenang dengan gerakan gelombang yang halus, membuatnya tampak seperti melayang di air. Ikan ini juga memiliki ekor panjang yang tipis dan biasanya diakhiri dengan bintik putih kecil, yang menjadi ciri tambahan.

Ikan hantu dikenal sebagai perenang yang anggun dan dapat bergerak ke segala arah dengan mudah, termasuk maju, mundur, dan bahkan vertikal, berkat kemampuan sirip analnya. Ukurannya bisa mencapai 50 cm pada ikan dewasa, dengan tubuh yang lentur dan halus.

Selain penampilannya yang misterius, ikan ini juga memiliki kemampuan menghasilkan medan listrik lemah, yang digunakannya untuk berkomunikasi dan mendeteksi lingkungannya di perairan yang keruh.

Sistem Reproduksi

Sistem reproduksi ikan hantu hitam (Apteronotus albifrons) masih belum sepenuhnya dipahami secara ilmiah. Namun, kita dapat membahas sistem reproduksi pada ikan secara umum dan menggabungkannya dengan beberapa pengetahuan tentang spesies ini.

Sistem Reproduksi Umum pada Ikan

Ikan umumnya berkembang biak melalui reproduksi seksual. Mereka dapat mengalami fertilisasi eksternal atau internal, tergantung pada spesiesnya. Pada ikan dengan fertilisasi eksternal, betina akan melepaskan telur ke air, sementara jantan akan membuahi telur-telur tersebut secara eksternal. Beberapa ikan, terutama yang memiliki fertilisasi internal, memiliki mekanisme untuk mengantarkan sperma ke dalam tubuh betina.

Karakteristik Reproduksi Apteronotus albifrons

Ikan HantuApteronotus albifronsdikenal juga sebagai ikan hantu hitam atau black ghost knifefish, adalah ikan air tawar yang berasal dari Amerika Selatan. Informasi rinci mengenai perilaku reproduksinya di alam liar masih sangat terbatas. Namun, berikut adalah beberapa karakteristik umum yang mungkin relevan:

  • Perilaku Kawin : Ikan ini umumnya menunjukkan perilaku kawin yang melibatkan sinyal listrik. Mereka menghasilkan sinyal listrik lemah untuk berkomunikasi satu sama lain, yang dapat memainkan peran penting dalam menemukan pasangan dan berkoordinasi selama musim kawin.
  • Telur dan Larva : Seperti banyak ikan lainnya, betina Apteronotus albifrons mungkin menghasilkan telur yang dibuahi secara eksternal oleh jantan di lingkungan air. Setelah dibuahi, telur akan menetas menjadi larva yang pada awalnya akan bergantung pada kantung kuning telurnya untuk nutrisi sebelum mulai mencari makan sendiri.
  • Lingkungan Pemijahan : Di alam liar, ikan hantu hitam sering memilih daerah yang tenang dan terlindung untuk bertelur. Mereka mungkin memilih area dengan substrat seperti tanaman air atau batu untuk menyembunyikan telurnya dari predator.

Sinyal Listrik dalam Reproduksi

Salah satu ciri khas Ikan hantuApteronotus albifronsadalah kemampuannya menghasilkan sinyal listrik lemah yang digunakan dalam navigasi, berburu, dan interaksi sosial. Dalam konteks reproduksi, sinyal listrik ini mungkin juga digunakan untuk menarik pasangan atau sebagai bagian dari ritual kawin. Setiap individu memiliki tanda tangan listrik yang unik, yang dapat membantu ikan mengenali satu sama lain dan menghindari perkawinan dengan kerabat dekat.

Seksual Dimorfisme

Sampai sekarang, belum ada bukti jelas mengenai dimorfisme seksual (perbedaan fisik antara jantan dan betina) yang mencolok pada ikan hantu hitam ini. Identifikasi jenis kelamin biasanya sulit dilakukan hanya berdasarkan penampilan luar. Namun, ada kemungkinan perbedaan perilaku atau pola sinyal listrik antara jantan dan betina selama musim kawin.

Secara keseluruhan, sistem reproduksi fisik pada Ikan hantuApteronotus albifronsmirip dengan banyak ikan air tawar lainnya, dengan tambahan penggunaan sinyal listrik sebagai fitur unik dalam komunikasi dan perilaku reproduksi mereka.

Sistem Pernafasan

Sistem pernapasan ikan hantu (Apteronotus albifrons), yang juga dikenal sebagai ikan pisau hitam, adalah adaptasi khusus yang mendukung kebutuhan oksigen mereka di lingkungan perairan. Seperti kebanyakan ikan, sistem pernapasan Apteronotus albifrons menggunakan insang sebagai organ utama untuk pertukaran gas. Berikut adalah rincian sistem pernapasan fisik ikan hantu:

1. Struktur Insang

  • Operkulum: Apteronotus albifrons memiliki operkulum, struktur pelindung yang menutupi insang. Operkulum ini berfungsi untuk melindungi insang dari kerusakan dan membantu dalam proses ventilasi air.
  • Rongga Insang: Di bawah operkulum, terdapat rongga insang yang berisi filamen insang. Filamen ini memiliki banyak lamela yang berfungsi sebagai tempat pertukaran gas.
  • Lamela Insang: Setiap filamen insang memiliki struktur yang sangat tipis yang disebut lamela. Di sini terjadi proses pertukaran gas, di mana oksigen dari air diambil dan karbon dioksida dibuang.

2. Proses Pernapasan

  • Air masuk melalui mulut ikan ketika operkulum tertutup, menciptakan tekanan negatif yang memaksa air mengalir masuk.
  • Air yang kaya oksigen kemudian melewati filamen insang. Di sinilah oksigen berdifusi masuk ke pembuluh darah kecil dalam lamela dan karbon dioksida dikeluarkan dari darah ke air.
  • Setelah itu, air yang telah melepaskan oksigen keluar melalui celah operkulum.

3. Pertukaran Gas Efisien

Apteronotus albifrons memanfaatkan prinsip pertukaran arus berlawanan (countercurrent exchange), yang memungkinkan difusi oksigen yang lebih efisien dari air ke darah. Darah dan air mengalir dalam arah yang berlawanan, menjaga gradien konsentrasi yang konstan sehingga oksigen terus berdifusi ke dalam darah sepanjang seluruh panjang lamela.

  • Adaptasi Lingkungan

Ikan ini hidup di perairan sungai yang berarus lambat di Amerika Selatan. Meskipun berada di lingkungan perairan yang miskin oksigen, insangnya yang efisien memungkinkan mereka tetap mendapatkan cukup oksigen untuk kebutuhan metabolisme mereka.

  • Kemampuan Pernapasan Tambahan

Apteronotus albifrons juga memiliki kemampuan untuk mengambil oksigen melalui kulit mereka dalam jumlah kecil, terutama di daerah yang memiliki banyak kapiler. Ini memberikan tambahan suplai oksigen jika lingkungan air kekurangan oksigen.

  • Elektrolokasi dan Hubungannya dengan Sistem Pernapasan

Ikan hantu hitam ini memiliki organ tubuh khusus yang memungkinkan mereka menghasilkan medan listrik (elektrolokasi) untuk berkomunikasi dan menemukan makanan di air keruh. Meskipun tidak secara langsung terkait dengan sistem pernapasan, aktivitas listrik ini dapat mempengaruhi konsumsi energi mereka dan meningkatkan kebutuhan oksigen, sehingga menuntut sistem pernapasan yang lebih efisien.

Dengan insang yang sangat efisien dan adaptasi unik, ikan hantu hitam mampu bertahan hidup di lingkungan perairan dengan kadar oksigen yang rendah, sambil tetap menjalankan aktivitas seperti elektrolokasi.

Perilaku dan Gaya Hidup

Ikan hantu (Apteronotus albifrons) adalah makhluk yang sangat menarik dengan kemampuan elektrolokasi unik yang membedakan mereka dari kebanyakan ikan lain. Mereka berperilaku nokturnal, teritorial, dan sangat bergantung pada kemampuan mereka untuk menggunakan medan listrik dalam aktivitas sehari-hari.

5. Ular Sanca Darah Hitam (Pyiton curtus)

  • Kingdom : Animalia
  • Filum : Chordate
  • Kelas : Reptil
  • Ordo : Squamata
  • Famili : Pyithonidae
  • Genus : Python
  • Asal : Sumatera Sekatan
  • Habitat : Hutan hujan, tropis, gua
  • Pakan : Mamalia, burung
  • Panjang : 40-93 cm
  • Berat : 30-100 g
  • Masa Hidup : 10-15 tahun

Diskripsi fisik

Memiliki kepala yang kecil, tubuhnya yang besar dan pendek serta berwarna kemerahan menyerupai darah. Ekor hewan ini begitu pendek dibandingkan dengan keseluruhan panjang tubuhnya. Pola warnanya terdiri dari warna dasar kuning kecoklatan, sawo matang atau coklat keabu-abuan yang dilapisi dengan bercak-bercak berwarna dari merah bata sampai merah darah.

Reproduksi

Berkembang biak dengan cara bertelur (ovipar) berjumlah 8-25 butir. Masa pengeraman 2,5-3 bulan dengan panjang tubuh bayi ular 30 cm. . Hewan betina tetap melingkari telur-telurnya selama masa inkubasi dan mungkin saja menggetarkan tubuhnya untuk menghasilkan panas. Namun tindakan ini memerlukan banyak tenaga dan hewan betina hanya akan melakukannya apabila temperatur disekitarnya turun dibawah 90°F (32°C). Telur akan menetas setelah 2,5-3 bulan dengan panjang tubuh bayi ular 30cm (12 inci).

  • Cara bertahan hidup

Cara bertahan hidup ular ini dengan beradaptasi di habitat lembab seperti hutan dan rawa-rawa di Asia Tenggara. Ular ini adalah predator yang efektif, memakan mamalia dan burung, serta menggunakan teknik konstriksi untuk melumpuhkan mangsa sebelum menelannya utuh. Mereka berjemur di bawah sinar matahari untuk mengatur suhu tubuh, yang penting bagi proses pencernaan. Selain itu, sanca darah hitam dapat berkembang biak dengan bertelur, menjaga telurnya hingga menetas. Adaptasi ini memungkinkan mereka untuk bertahan di berbagai lingkungan, termasuk dekat pemukiman manusia.

  • Ciri-ciri
  1. Hewan dewasa biasanya memiliki panjang sepanjang 1,5–1,8 meter (5–6 kaki)
  2. Ekor hewan ini relatif pendek dibandingkan dengan keseluruhan panjang tubuh.
  3. Kulitnya berwarna dasar kuning kecoklatan, sawo matang, atau coklat keabu-abuan, dengan bercak-bercak berwarna dari merah bata sampai merah darah